LOGINCeline, seorang mahasiswa psikologi, terbangun di dalam tubuh Celestine de Montclair, antagonis malang yang ditakdirkan mati dipenggal oleh tunangannya sendiri, Pangeran Alaric Alderwyn. Menyadari ia memiliki waktu tiga tahun sebelum eksekusi, Celestine bersumpah untuk mengubah takdir. Demi menyelamatkan dirinya, Ia membatalkan pertunangannya, membangkitkan kekuatan sihir kuno miliknya yang tertidur, dan menjauh dari plot utama novel. Namun, semakin ia mencoba menghindar, dunia novel itu justru berputar ke arahnya. Alaric, sang pangeran berdarah dingin yang seharusnya membencinya, kini justru terobsesi mengejarnya.
View More"Tidak!! Akh!!"
Celestine tersentak bangun dengan napas memburu, tangannya secara refleks mencengkram dadaknya yang berdenyut nyeri. Rasa sakit yang luar biasa itu seolah masih tertinggal, sisa-sisa dari kelelahan hebat saat ia memaksakan diri bergadang lima malam berturut-turut demi menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Namun, saat Ia mulai menghirup udara di sekitarnya, rasa sakit itu menguap begitu saja, digantikan oleh aroma lilin aromaterapi dan wangi cendana yang menenangkan. Pandangannya yang semula kabur kini mulai fokus pada dominasi warna merah jambu dan gading yang menghiasi setiap sudut ruangan. Celestine tertegun. Di depannya, kelambu sutra yang halus menjuntai dari empat Pilar ranjang king size yang terbuat dari mahoni berukir emas murni. Ia menunduk, mendapati dirinya memaka gaun piyama putih bertahan sutra halus dan tangannya yang pucat, bukan kusam. Rambutnya yang berwarna perak berkilau jatuh menutupi bahunya. Sontak, ia melihat ke arah Cermin di dekatnya. Sosok di dalam Cermin itu sangat cantik bagai Dewi kecantikan, kulitnya seputih pualam dan sepasang mata amethyst yang berkilau bagai perhiasan. Celestine termenung. Tiba-tiba kepalanya berdengung, informasi masuk seperti air bah. Semalam setelah menghadiri pesta kedewasaan Lady Chalet-Putri Marquess Hart, Celestine dengan segala gaya angkuhnya bertengkar dengan Lady Freya di taman belakang mansion. Pertengkaran yang berakhir memalukan dirinya sendiri dengan tercebur ke dalam kolam dalam yang hampir merengut nyawanya. Pertengkaran yang meributkan nama pangeran ke tiga kerajaan Ethelwilde, Alaric Alderwyn. Lady Freya terus menerus memanasi Celestine, menyebut Alaric sebagai Putra Mahkota yang dilengserkan, karena itulah Alaric dikirim ke medan perang untuk dihilangkan nyawanya. Celestine dengan segala cinta dan obsesinya pada Alaric, tentu saja merasa terbakar mendengar semua pembicaraan buruk Lady Freya yang disengaja. Akhirnya ia menghampiri Lady Freya dan menjambak rambutnya dengan ganas. "Dasar gila." Celestine terkekeh getir, menertawakan dirinya yang bodoh Pangeran Alaric adalah tunangannya, tunangan yang dirinya paksakan dengan menggantikan kakaknya-Aureliane de Montclair-yang sejak awal dijodohkan dengan tujuan politik. Celestine bersikukuh ingin menggantikan kakaknya, dengan alasan ia mencintai Alaric. Aureliane sendiri menolak perjodohan itu dan memilih menikahi kekasihnya-Pangeran Edmund-dari kerajaan Caelmont. Grand Duke Montclair tidak punya pilihan lain selain membiarkan Putri-putrinya mengejar cinta mereka. Namun, nasib malang terus mendatangi Celestine. Kedatangan Seraphina-Gadis Suci dari Kuil-menggagalkan rencana hidupnya yang manis. Pangeran Alaric memilih cintanya bersama Seraphina dan terus mengabaikan Celestine yang merupakan tunanganya. Semua pengabaian Alaric membuat Celestine kecewa dan diliputi perasaan marah dan iri hari pada Seraphina yang begitu diperhatikan. Celestine terus berusaha mencelakai Seraphina, sampai pada puncaknya ia dituduh meracuni Seraphina dan berakhir mati dipenggal Alaric. "Malang sekali nasibku." Celestine menghela napas dalam setelah mengingat bagaimana dirinya-Sang Antagonis-mati karena kebodohannya sendiri. Celestine atau lebih tepatnya jiwa Celine pada tubuh Celestine, bahkan belum selesai membaca novel yang berjudul "The Fallen Crown". "Celestine de Montclair..." Celestine menyentuh permukaan Cermin yang dingin, menyadari dirinya bukan lagi mahasiswa semester akhir yang mati kelelahan. Ironisnya, ia bahkan belum sempat menyelesaikan bab terakhir novel tersebut. Celestine tidak boleh diam saja. Jika ia mengikuti alur novel, maka ia akan berakhir mati. Mengingat kejadian semalam, tiga tahun dari sekarang kepalanya akan terpisah dari tubuhnya jika ia tetap menjadi tunangan Alaric.. Dengan gerakan cepat ia menyambar jubah sutra yang tersampir di kursi dan melangkah keluar kamar. "Nona! Anda harus beristirahat!" Seru seorang pelayan muda yang nyaris ia tabrak di koridor, namun celestine terus melaju. Celestine menelusuri lorong-lorong megah yang dihiasi lukisan masterpiece hingga sampai di depan pintu ganda besar bertahan kayu jati hitam. Tanpa mengetuk, Celestine mendorong pintu ruang kerja itu hingga menimbulkan dentuman keras. Brakkk!! "Ayah, kita perlu bicara." Ujar Celine dengan nada tegas, mengabaikan tata krama bangsawan yang biasanya sangat ia junjung tinggi. Di balik meja kerja besar yang dipenuhi dokumen, seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang sama dan tatapan setajam elang mendongak ke arah ya. Grand Duke Montclair mengerutkan kening, meletakkan pena bulunya dengan gerakan perlahan yang mengintimisdasi. "Celestine? Di mana sopan santunmu?" Grand Duke bertanya, suaranya rendah dan berat. Ia bersedekap, menatap putri bungsunya dengan pandangan menilai. Celestine melangkah maju, mengatur napasnya yang masih belum teratur. Tangannya mengantam meja kerja sang Grand Duke hingga suara dentuman kembali terdengar, kali ini lebih pelan. "Batalkan pertunangan itu, Ayah. Sekarang juga kumohon!" Grand Duke Montclair terdiam sejenak, matanya menyipit seolah mencoba mencari tahu apakah kepala putrinya baik-baik saja sehabis tenggelam semalam atau sedang kerasukan penunggu kolam. "Batalkan? Kau sudah merengek untuk posisi ini sejak usia empat belas tahun, Celestine. Apa kau sedang mempermainkan kekuatan keluarga kita?" "Ayah, ayolah... Aku sedang tidak bermain-main, ini sungguhan." Matanya yang ungu berkilat menantang mata emas ayahnya. "Pangeran itu tidak mencintaiku, dan aku tidak ingin membuang waktuku untuk pria yang tidak menginginkanku." Grand Duke perlahan berdiri, auranya yang menekan memenuhi ruangan. Namun, Celestine tidak mundur selangkah pun. "Berikan aku waktu satu bulan." tantang Celestine dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku akan membuktikan bahwa isi kepalaku jauh lebih berharga daripada status tunangan pangeran buangan.""Kenapa kau terlihat begitu ketakutan, Celine? Bukankah ini yang kau inginkan? Menjadi pusat semesta dari pria yang dulu sangat membencimu?"Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam kepala Celestine. Ia tersentak, mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang hampa yang dibalut kabut putih tak berujung. Di hadapannya, sebuah pemandangan ganjil menyeruak—sebuah ranjang rumah sakit dengan sprei putih bersih yang berbau antiseptik tajam. Di atasnya, terbaring kaku raga Celine. Tubuhnya terlihat kurus, dengan selang infus dan mesin pendeteksi jantung yang berbunyi ritmis.Celestine mencoba melangkah, jemarinya gemetar hendak meraih tangan raga aslinya yang pucat. Namun, saat kulitnya nyaris bersentuhan, tangannya tembus melewati daging itu seolah ia hanyalah segumpal asap yang tak berarti."Kau tidak bisa menyentuhnya lagi." sebuah suara lain muncul, kali ini lebih jernih, lebih dingin.Celestine berbalik dan seketika napasnya tercekat. Di sana, hanya terpaut
"Pakailah ini, Celestine. Bukan sebagai belenggu, tapi sebagai janjiku bahwa tak ada satu pun di dunia ini yang boleh mencelakaimu. Ini pelindung dariku."Suara Alaric terdengar berat, bergetar rendah di antara kesunyian balkon Paviliun Merah yang bermandikan cahaya bulan perak. Di telapak tangannya yang lebar dan penuh bekas kapalan latihan pedang, tergeletak sebuah kalung yang tampak begitu kontras dengan citranya selama ini. Kalung itu tidak terbuat dari emas murni dengan permata mahal yang dipesan dari pengrajin istana, ia adalah untaian rantai emas halus dengan liontin berbentuk kristal obsidian yang di dalamnya tampak ada pendaran mana yang bergerak-gerak seperti awan badai yang terjebak.Celestine menatap benda itu dengan napas tertahan. Ia bisa merasakan denyut energi yang familiar menguar dari kristal tersebut—energi Alaric yang dingin namun kini terasa begitu protektif dan hangat di saat yang bersamaan."Kau... kau membuatnya sendiri?" bisik Celestine, matanya yang berwarna
Aroma tajam dari daun eucalyptus dan manisnya akar liquorice menguap dari kuali kecil di sudut bangsal Sayap Barat. Sore itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela terlihat seperti madu cair, menyentuh permukaan botol-botol kaca yang tertata rapi. Di sana, Nara sedang sibuk menumbuk kristal manna biru, namun konsentrasinya terpecah setiap kali ia merasakan kehadiran seseorang di dekat rak buku tumbuhan herbal.Archduke Elian tidak datang dengan pengawalan lengkap atau jubah kebesaran yang kaku. Sore ini, ia hanya mengenakan tunik sutra berwarna gading, tampak santai saat jemarinya menyusuri punggung buku-buku kuno milik Nara."Kau tahu, Nara." suara Elian memecah keheningan, rendah dan menenangkan seperti aliran air di pegunungan. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di birokrasi istana, tapi aku baru menyadari bahwa kedamaian yang sesungguhnya justru berada di ruang kecil yang penuh dengan bau tanaman obat ini."Nara tersenyum kecil, pipinya sedikit merona tanpa ia sadari. "I
Pagi itu, taman belakang Akademi Aethelgard diselimuti kabut tipis yang menciptakan embun pada dedaunan. Celestine berdiri di dekat kolam teratai, jemarinya yang masih terasa dingin sesekali meremas kain gaunnya. Di belakangnya, suara langkah kaki yang tenang dan berirama menyentuh lantai batu. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang, aroma hutan hujan tropis dan kesejukan mana yang stabil itu hanya milik satu orang."Kau terlihat sedang memikul beban seluruh dunia di pundakmu, Celestine." suara Archduke Elian mengalun lembut, lebih seperti desau angin daripada sebuah teguran.Celestine berbalik, memaksakan sebuah senyum tipis. "Hanya sedikit kurang tidur, Archduke Elian"Elian berhenti tepat di sampingnya, menatap lurus ke arah air kolam yang tenang. "Aku datang bukan sebagai seorang penguasa wilayah hari ini. Aku datang sebagai pria yang pernah lancang meletakkan sebuah cincin harapan di depanmu, dan kini ingin mengambilnya kembali dengan martabat yang tersisa."Da
Pagi di kediaman Montclair biasanya membawa aroma embun dan mawar yang menenangkan, namun bagi Celestine, udara pagi ini terasa mencekik. Ia duduk di ruang makannya yang luas, menatap sebuah selebaran gosip istana, "The Royal Whispers", yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayannya dengan ta
"Kau memegang pusat manamu terlalu kaku, Celestine. Jika kau terus memperlakukannya seperti bendungan yang menahan air, maka saat ia meluap, tubuhmu sendirilah yang akan hancur pertama kali." Suara bariton Alaric memecah kesunyian hutan belakang kediaman Montclair. Di bawah naungan pepohonan kuno
Dingin. Kehampaan yang merayap di dada Celestine jauh lebih membekukan daripada udara gua yang lembap. Di sekelilingnya, genangan darah dan sisa-sia pertempuran brutal Alaric menjadi saksi bisu kebuasan yang baru saja terjadi. Alaric berdiri hanya beberapa langkah darinya, pedangnya masih menetesk
BUM!Pintu besi di ujung ruangan meledak menjadi serpihan, puing-puing logam dan batu beterbangan dengan kecepatan mematikan. Alaric menyerbu masuk seperti iblis yang baru saja dilepaskan dari neraka. Auranya yang pekat dan dingin segera menyelimuti seluruh gudang, menyingkirkan kabut ungu Celest
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore