Moncong senjata di ulu hatiku terasa lebih nyata daripada perih di bahu. Di kegelapan gudang yang remang, aku terpaku. Bi Asih, pelayan tua yang sepuluh tahun ini setia melayani Baron dan menyeduhkan teh untuk Aura, kini berdiri di belakangku dengan kuda-kuda pembunuh profesional."Jangan bergerak, Adnan," bisiknya. Suaranya tidak lagi serak dan lemah. Itu adalah suara yang dilatih untuk memberi perintah, bukan menerima pesanan dapur."Bi... Asih?" Suara Aura terdengar dari kegelapan, penuh dengan ketidakpercayaan yang menyayat."Diam, Nona Muda. Saya di sini untuk membereskan kekacauan yang dibuat ayah Anda dan dua bersaudara gila ini," sahut Bi Asih tanpa melepaskan tekanannya padaku.Di sisi lain gudang, Arlan tertawa keras. Tawanya bergema di antara kontainer besi, menciptakan suasana horor yang mencekam. "Luar biasa! Baron benar-benar memelihara ular di dalam selimutnya. Jadi, kau bekerja untuk siapa, Tua Bangka? Interpol? Atau faksi London yang kukhianati?""Saya bekerja untuk s
Last Updated : 2026-03-18 Read more