Dewantara: Kebangkitan Sang Predator

Dewantara: Kebangkitan Sang Predator

last updateÚltima atualização : 2026-03-18
Por:  JeyEm andamento
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
12Capítulos
166visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Adrian menyusup ke kediaman musuhnya bukan untuk mengajar, melainkan untuk mengeksekusi dendam sepuluh tahun silam. Menyamar sebagai tutor, ia menjerat Aura Clarissa dalam penjara psikologis hingga pengkhianatan Daniel mengubah mansion mewah itu menjadi ladang pembantaian. Di tengah desis bom waktu dan bau amis darah, Adrian menelanjangi identitas aslinya melalui bekas luka bakar yang mengerikan, memaksa Aura menyadari kenyataan pahit bahwa ia hanyalah "brankas bernyawa" bagi warisan berdarah ayahnya. Kini, saat pintu baja perlindungan mereka diledakkan, Aura terjebak di antara kematian atau menyerahkan jiwanya pada Sang Predator.

Ver mais

Capítulo 1

BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron.

"Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut.

"Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu membuatku mendongak. Detik itu juga, aku merasakan hantaman di dada yang kusangka sudah mati rasa. Aura Clarissa muncul. Dia tidak memakai gaun pesta angkuh yang kuharapkan; dia hanya mengenakan gaun tidur satin tipis dan outer panjang. Rambut hitamnya terurai berantakan, membingkai wajah polos yang tampak lelah. Di mataku, dia tidak terlihat seperti putri mahkota; dia tampak seperti burung dalam sangkar emas yang sayapnya baru saja kupatahkan secara mental, bahkan sebelum kami bicara.

"Jadi, ini 'anjing' baru yang dibeli Papa untuk menjagaku?"

Suara Aura memecah sunyi, tajam dengan sarkasme yang sudah kuprediksi. Dia berhenti di anak tangga terakhir, melipat tangan dan memicingkan mata ke arahku. Aku membiarkannya menelusuri penampilanku dari sepatu hingga rambut. Aku tahu dia sedang mencari celah untuk menghinaku.

"Nama saya Adrian," jawabku, memastikan suaraku berat dan tidak tergoyahkan. "Saya tutor privatmu untuk enam bulan ke depan. Saya harap kamu sudah membaca kontrak yang ditandatangani ayahmu."

Dia tertawa getir. "Kontrak? Dengar ya, Tuan Tutor. Aku sudah membuat lima orang sepertimu mengemis untuk berhenti dalam waktu kurang dari sebulan. Jadi, saran saya... ambil uang mukamu, dan pergilah sebelum aku mengubah hidupmu menjadi neraka yang nyata."

Aku tidak mundur. Aku justru melangkah maju, membiarkan dominasiku memenuhi ruangan hingga dia sedikit tersentak. "Sayangnya, Nona Aura, saya sudah lama tinggal di neraka. Saya rasa kita akan menjadi teman yang sangat cocok."

Aku melihat alisnya bertaut. Dia pasti menyadari bahwa aku berbeda dari pria-pria yang dikirim ayahnya sebelumnya. Aku tidak menatapnya dengan nafsu yang disembunyikan; aku menatapnya dengan kegelapan yang seolah bisa melihat langsung ke balik tulang rusuknya.

"Maksudmu apa?" tantangnya, suaranya naik satu oktav karena gelisah.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling aula dengan senyum miring. "Rumah ini sangat mewah, tapi baunya seperti kuburan. Kamu tidak bosan karena pelajaran bisnis, Aura. Kamu bosan karena kamu sadar bahwa di rumah ini, kamu hanyalah pajangan yang menunggu waktu untuk dijual kepada penawar tertinggi."

Kalimatku menghantamnya tepat di ulu hati. Aku bisa melihat kemarahan sekaligus luka di matanya. "Kau tidak tahu apa-apa! Kau hanya pekerja yang dibayar untuk mengawasiku!"

"Mungkin," jawabku tenang sembari berdiri tepat di depannya. Aku sengaja menonjolkan perbedaan tinggi kami, memaksanya untuk mendongak sepenuhnya. "Tapi saya adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara keluar dari sini tanpa harus hancur. Tergantung seberapa patuh kamu di kelas saya."

Napasnya tertahan. Aku bisa mencium aroma murni dari tubuhnya yang kini terkepung oleh wangi sandalwood dan tobacco milikku. Aku melihat bibirnya terkatup rapat, seolah semua kata hinaannya mendadak lenyap.

"Aura! Sudah berkenalan dengan Adrian?"

Suara berat yang sangat kukenali menggelegar dari balkon lantai dua. Baron berdiri di sana, mengenakan jubah sutra dengan cerutu di tangan—tampak seperti raja yang sedang meninjau ternaknya. Pria tua ini pernah tertawa saat melihat keluargaku hancur.

Aku segera menarik diri, memasang wajah formal yang sempurna sebagai topeng. "Sudah, Tuan Baron. Nona Aura sangat... antusias menyambut sesi pertama kami."

Baron tertawa puas. "Bagus! Adrian ini ahli strategi. Belajarlah darinya, Aura. Jangan memalukan keluarga." Dia mengembuskan asap cerutu ke arah kami. "Gunakan cara apa pun, Adrian. Jika dia membangkang, lakukan apa saja agar dia mengerti arti disiplin."

Aku melihat Aura mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dia diperlakukan seperti aset bermasalah, dan itu adalah bagian dari rencanaku untuk membuatnya semakin terpojok.

"Mari, Nona Aura," ajakku dengan nada manis yang palsu. "Ruang belajar ada di sana, bukan?"

Aku mengikutinya menuju perpustakaan pribadi yang suram. Begitu kami masuk, aku menutup pintu kayu yang berat itu dan memutar kunci.

Klik.

Aku sengaja membiarkan suara itu bergema agar dia merasa terkurung. Dia berbalik dengan wajah waspada. "Kenapa kau mengunci pintunya?!"

Aku membisu, melangkah tanpa suara mengitarinya. Aku berhenti tepat di belakang kursinya, membiarkan deru napasku terasa di tengkuknya hingga dia gemetar. Sekarang, saatnya pelajaran yang sesungguhnya dimulai.

Adrian baru saja meletakkan kartu asnya di atas meja: sebuah kalung berdarah yang seharusnya sudah terkubur sepuluh tahun lalu. Dia mengharapkan Aura hancur atau memohon penjelasan. Namun, saat jemari Aura menyentuh logam dingin itu, Adrian menyadari satu hal yang luput dari risetnya selama sepuluh tahun di London.

Mata Aura tidak menunjukkan ketakutan. Ada kilatan pengenalan yang jauh lebih gelap di sana.

Aura tidak bertanya siapa Adrian. Dia justru menggenggam kalung itu hingga telapak tangannya berdarah, lalu menatap Adrian dengan senyum yang sama persis dengan senyum licik Baron. "Jadi, kau orangnya," bisik Aura pelan, hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, suara kunci pintu yang diputar Adrian tadi terdengar berderit dari luar. Seseorang sedang mencoba masuk, dan itu bukan pelayan yang membawa minum.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
12 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status