Se connecterMoncong senjata di ulu hatiku terasa lebih nyata daripada perih di bahu. Di kegelapan gudang yang remang, aku terpaku. Bi Asih, pelayan tua yang sepuluh tahun ini setia melayani Baron dan menyeduhkan teh untuk Aura, kini berdiri di belakangku dengan kuda-kuda pembunuh profesional."Jangan bergerak, Adnan," bisiknya. Suaranya tidak lagi serak dan lemah. Itu adalah suara yang dilatih untuk memberi perintah, bukan menerima pesanan dapur."Bi... Asih?" Suara Aura terdengar dari kegelapan, penuh dengan ketidakpercayaan yang menyayat."Diam, Nona Muda. Saya di sini untuk membereskan kekacauan yang dibuat ayah Anda dan dua bersaudara gila ini," sahut Bi Asih tanpa melepaskan tekanannya padaku.Di sisi lain gudang, Arlan tertawa keras. Tawanya bergema di antara kontainer besi, menciptakan suasana horor yang mencekam. "Luar biasa! Baron benar-benar memelihara ular di dalam selimutnya. Jadi, kau bekerja untuk siapa, Tua Bangka? Interpol? Atau faksi London yang kukhianati?""Saya bekerja untuk s
Kegelapan bukan lagi sebuah ruang, melainkan sebuah ingatan yang menyesakkan. Saat kesadaranku mulai merangkak naik dari bius dosis tinggi milik Aura, aku tidak terbangun di atas tumpukan daun kering hutan pegunungan. Aku terbangun dalam posisi tergantung, kedua tanganku dirantai ke pipa besi yang dingin dan berkarat. Aroma di sekelilingku adalah campuran antara bau laut yang asin, minyak mesin, dan logam—sebuah gudang di pinggir pelabuhan.Kepalaku berdenyut hebat. Efek penenang itu menyisakan rasa mual yang mengocok perut. Aku mencoba menggerakkan bahuku, namun luka tembak yang belum sempat dijahit itu memprotes dengan rasa panas yang menyentak saraf."Sudah bangun, Adnan?"Suara itu datang dari kegelapan di depanku. Serak, hancur, namun memiliki ritme yang sama dengan suaraku sendiri.Aku mendongak, berusaha memfokuskan pandangan. Di bawah sorot lampu bohlam yang berayun, berdiri sosok bertopeng perak itu. Dia tidak lagi mengenakan jas taktis. Dia hanya memakai kemeja putih yang le
"Maaf membiarkanmu terjebak dengan 'palsu' ini terlalu lama."Suara itu menghantamku lebih keras daripada ledakan apa pun yang pernah kualami. Aku membeku. Seluruh otot di tubuhku menegang hingga ke titik menyakitkan. Ego "predator" yang kubangun selama sepuluh tahun dengan darah dan air mata runtuh dalam satu detik. Senjata di tanganku bergetar—sesuatu yang seharusnya mustahil bagi pria yang sudah membunuh tanpa kedip sepertiku. Aku tidak bisa menarik pelatuk karena Aura berada tepat di garis tembak, berdiri di antara aku dan sosok misterius yang baru saja merampas identitasku.Aura menatap kalung dengan lambang burung bangkai di lantai, lalu menatap sosok bertopeng perak itu dengan ngeri. Saat matanya beralih padaku, aku melihat keraguan yang menghancurkan. Dia mundur perlahan, menjauh dariku seolah-olah aku adalah wabah yang baru saja ia sadari keberadaa
Sinar matahari pagi yang dingin menembus celah gorden vila, namun suasana di dalam ruang kerja ini tetap gelap gulita. Aku sengaja membiarkan lampu mati. Aku ingin Aura merasakan apa yang kurasakan sepuluh tahun lalu: ketakutan akan hal yang tidak terlihat. Di depanku, Aura duduk tegak di kursi kayu yang keras, matanya sembab karena kurang tidur. Semalam, aku memaksanya menonton video pengkhianatan Baron berulang kali. Aku ingin memori tentang Baron sebagai pahlawan di kepalanya mati membusuk."Pelajaran kelima," suaraku memecah keheningan, berat dan tanpa emosi. "Bisnis bukan tentang angka, Aura. Bisnis adalah tentang siapa yang memegang leher siapa."Aku melemparkan tablet ke atas meja. Di layarnya, terpampang struktur organisasi Baron Corp—perusahaan yang dibangun dari puing-puing kehancuran keluargaku. "Mulai hari ini, kamu adalah bonekaku untuk mengambil alih semua ini. Kamu akan tampil di depan direksi sebagai ahli waris yang 'sadar' akan dosa ayahnya."Aura mendongak, matanya be
SUV hitam itu membelah kegelapan jalanan menanjak menuju kaki gunung, menjauh dari sirine polisi yang kini hanya menjadi gema di kejauhan. Di sampingku, Aura meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri seolah dunia sedang runtuh menimpanya. Aku bisa mencium aroma ketakutannya yang bercampur dengan sisa mesiu."Kita sudah sampai," ucapku datar saat mobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang tertutup tanaman rambat liar.Vila ini bukan sekadar bangunan tua. Ini adalah markas rahasia keluarga Dewantara yang dihapus dari semua peta resmi sepuluh tahun lalu. Tempat di mana ayahku merancang strategi kejayaannya, dan kini menjadi tempat di mana aku akan merancang kehancuran sisa-sisa Baron. Aku turun dan menarik pintu mobil Aura. "Turun. Jangan membuatku menyeretmu lagi."Aura melangkah keluar dengan ragu. Matanya menatap bangunan batu tua yang terlihat angker di bawah sinar bulan. "Tempat apa ini, Adrian? Kenapa lo bawa gue ke sini?""Tempat di mana suaramu tidak akan didengar oleh siapa pun,
Asap putih di ruang bawah tanah mulai menipis, menyisakan bau anyir darah yang memuakkan. Aku berdiri tegak, membiarkan moncong pistolku yang masih panas mengarah ke lantai beton. Di depanku, Daniel—si pengkhianat yang dulu menjilat kaki Baron saat rumah keluargaku terbakar—kini bersimpuh dengan kaki hancur tertembus peluruku. Aku tidak membunuhnya seketika. Kematian terlalu murah bagi anjing penjilat seperti dia."Adrian... tolong... aku hanya menjalankan perintah," rintih Daniel, suaranya parau karena rasa sakit yang luar biasa. Tangannya masih mencoba menggapai tas berisi dokumen aset Baron. Keserakahan yang menjijikkan.Aku melirik Aura yang bersandar di dinding. Napasnya memburu, wajahnya sepucat kertas. Aku bisa melihat trauma yang mendalam di matanya. Ini adalah bagian dari rencanaku; menghancurkan dunianya yang naif, lalu memaksanya berpaling kepadaku sebagai satu-satunya pelindung yang tersisa."Pelajaran keempat, Aura," ucapku tanpa melepaskan pandangan dari Daniel yang meran







