Namun, hal itu malah membuatku sangat muak. Aku mendorong bubur itu menjauh dan memejamkan mata sambil terdiam.Keheningan menyelimuti sekitar. Aku dan Bisma kembali berbicara bersamaan."Bisma, kita cerai saja.""Qila, aku ingin bawa Sasa kembali ke ibu kota."....Begitu kata-kata itu terucap, yang menyambutku adalah amarah Bisma.Matanya memerah, urat di lengannya menonjol saat dia mencengkeram daguku dengan keras, sampai rasanya daguku hampir terlepas."Qila, kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Aku salah karena menghilang tiba-tiba, aku bisa mengerti kalau kamu marah, tapi jangan bertingkah nggak masuk akal. Perceraian itu bukan candaan. Asal kamu menarik kembali ucapanmu, aku bisa menganggap semua ini nggak pernah terjadi.""Bisma, kamu mengenalku. Aku nggak pernah bercanda. Surat perjanjian perceraian ada di tas, aku sudah menandatanganinya."Bisma mengusap pelipisnya, wajahnya dipenuhi kelelahan."Jantung yang kuterima hasil transplantasi itu milik pacar Sasa. Saat aku bertemu de
Ler mais