Share

Bab 4

Author: Alissa
Mengabaikan tatapan simpati dari orang-orang di sekitar, aku menyapu semua yang sudah hancur dan kotor itu ke dalam tempat sampah sendirian.

....

Beberapa hari berikutnya, Bisma tidak terlihat sama sekali. Telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas, bahkan dia juga tidak datang ke kantor. Aku hanya bisa mengirim pesan langsung ke Sasa melalui akun pribadinya.

Tanpa Bisma di dekatnya, Sasa tidak lagi berpura-pura.

Tak lama kemudian, aku menerima belasan foto yang baru diambil dengan penuh pose intim.

[ Kak Bisma capek melayaniku, sudah nggak punya tenaga untuk angkat teleponmu. ]

[ Kak, menurutmu, apa kalau seseorang sudah tua itu jadi lebih nggak tahu malu ya? Kak Bisma sudah nggak cinta kamu, tapi kamu masih saja mendekat dan berharap. ]

Aku tersenyum tipis dan membalas.

[ Meski dia nggak cinta aku, aku tetap istrinya secara sah. Sedangkan kamu, cuma wanita simpanan yang nggak berani muncul ke publik. ]

[ Sasa: Aku bukan wanita simpanan! Yang nggak dicintai itu yang wanita simpanan! Qila, tunggu saja! ]

Aku sama sekali tidak menanggapi provokasinya dengan serius.

Keesokan harinya, asistennya menelepon dan memberi tahu bahwa Bisma sudah datang ke kantor. Aku menjawab singkat, lalu setengah jam kemudian berdiri di depan pintu kantornya.

"Pindahkan Siska ke cabang. Posisi yang kosong berikan saja untuk Sasa, supaya dia nggak datang menggangguku setiap hari."

Mengingat sosok Sasa yang lincah, sudut bibir Bisma terangkat dalam senyum tipis. "Ingat, beri dia pekerjaan yang ringan saja. Jangan sampai dia kelelahan."

Pelipisku berdenyut keras. Aku langsung mendorong pintu dan masuk.

"Bisma, kamu benar-benar sudah kehilangan akal! Siska adalah orang lama yang sudah berjuang bersama perusahaan sejak awal. Selama ini dia bawa banyak sekali keuntungan untuk perusahaan, kamu yang paling tahu itu! Tapi demi Sasa, kamu malah ...."

"Zaman sudah modern sekarang. Cara berpikir Siska sudah ketinggalan. Perusahaan saat ini justru membutuhkan talenta muda yang energik seperti Sasa." Bisma memotong ucapanku dengan nada tegas.

"Jangan merasa hanya karena kamu menggantikan mengurus perusahaan beberapa hari, perusahaan ini jadi milik keluargamu!"

Talenta? Padahal hanya seorang lulusan universitas swasta biasa.

Melihat orang di hadapanku yang sudah dibutakan oleh cinta, aku tiba-tiba tertawa.

Aku menyerahkan surat pengunduran diri dan surat perjanjian perceraian yang sudah sejak lama kusiapkan kepada Bisma.

"Tandatangani."

Sikap dingin di mataku menusuk Bisma. Untuk sekali ini, nadanya melunak. "Qila, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jangan bertengkar denganku hanya karena hal-hal kecil seperti ini, boleh? Aku janji, malam ini aku pulang menemanimu."

Entah seberapa percaya dirinya dia, sampai pada titik seperti ini pun dia masih mengira aku hanya sedang merajuk.

Pada akhirnya, masalah itu menghilang begitu saja.

Aku tiba-tiba merasa sangat lelah, sama sekali tidak menyadari ada telur busuk yang dilempar tepat ke arahku. Cairan telur yang amis menempel di rambutku, mengalir dari kepala dan mengaburkan pandanganku.

Aku hanya mendengar orang di depanku berteriak hampir seperti orang gila.

"Wanita nggak tahu malu, pelakor! Berani-beraninya kamu merusak hubungan pasangan kesukaanku!"

Saat aku lengah, dia menghunus pisau tajam dan menusukkannya ke arahku. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, ponselku berdering. Dengan sisa tenaga terakhir, aku mengangkatnya. Dari seberang sana terdengar suara Bisma yang terdengar panik.

"Terjadi sesuatu sama Sasa. Aku nggak pulang malam ini."

Aku belum sempat berbicara, sambungan telepon sudah diputus dengan tergesa-gesa.

Setelah tiga jam upaya penyelamatan, aku akhirnya berhasil bertahan hidup. Baru saja membuka mata, tubuhku langsung ditarik dari ranjang dengan kasar.

Bisma membanting ponselnya ke wajahku. "Qila, kamu benar-benar keji. Bahkan wanita hamil pun berani kamu jebak!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 10

    Pada saat ini, dia sadar betul bahwa jarak antara aku dan dirinya semakin menjauh. Dengan senyum pahit, Bisma tiba-tiba melirik ke sudut yang remang. Di sana, Sasa menatap dengan mata penuh kebencian, bilah pisau di tangannya memantulkan kilau dingin.Sambil menundukkan pinggiran topi, Sasa berjalan mendekat dengan terpincang-pincang."Qila, mati saja kamu. Hahaha."Adegan diriku yang tergeletak dengan bersimbah darah, tidak terjadi seperti yang dibayangkannya. Senyum Sasa seketika membeku.Bisma berdiri di depanku. Darah mengalir dari perutnya. Wajahnya pucat pasi, tetapi dia masih menyunggingkan senyum lega."Qila, syukurlah kamu nggak apa-apa."Suara jeritan terdengar di mana-mana. Dengan tenang, aku menelepon polisi.Sasa ditahan dan diborgol oleh para pengawal. Wajah mungil yang dulu cerah dan menawan itu kini tampak lesu dan tirus."Qila, kenapa? Kenapa kamu bisa hidup sebaik ini, sementara aku harus hidup dengan sembunyi-sembunyi!"Melihat raut wajah Sasa yang penuh kebencian, a

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 9

    Sasa menangis tersedu-sedu, ingus dan air matanya bercampur jadi satu.Sejak Bisma tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seorang teman, pembalasan yang gila pun dimulai.Dari dihujat seluruh internet sampai kecelakaan mobil yang membuat kakinya patah, Bisma sedikit demi sedikit mengembalikan semua penderitaan yang pernah kurasakan, bahkan berlipat ganda padanya.Dengan sorot mata lembut, Bisma mengusap perutnya yang hamil. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat bulu kuduk berdiri."Qila juga pernah mengandung anakku. Kalau bukan karena kamu membohongiku dan menahanku di sisimu, Qila nggak akan keguguran. Kamu membuatku kehilangan dua orang terpenting dalam hidupku, aku juga akan membuatmu tetap sadar dan merasakan penderitaan itu!"Mendengar ucapannya, tubuh Sasa langsung merinding."Pak Bisma! Semua ini salahku, aku yang gelap mata dan menggodamu. Terserah kamu mau gimana menghukumku. Tapi anak ini nggak bersalah. Aku mohon, aku mohon lepaskan anak kita. Ahh!"Tanpa

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 8

    "Qila, kamu benar-benar kejam. Bahkan seorang penjahat pun masih diberi kesempatan membela diri, tapi kamu bahkan nggak memberiku kesempatan untuk meminta maaf."Aku menatapnya dengan pandangan seakan melihat orang asing.Bisma tertegun. Seolah menipu diri sendiri, dia melangkah maju hendak menutup mataku dengan tangannya dan suaranya bergetar tak terkendali."Qila, kamu nggak boleh menatapku dengan pandangan seperti itu. Jangan bersikap setega ini padaku.""Bisma, jaga sikapmu." Aku mundur selangkah. Tangan Bisma membeku di udara. "Sebagai orang yang sudah menikah, kamu seharusnya punya kesadaran sebagai suami orang." Aku mengingatkannya dengan baik, tetapi dia malah salah paham.Sorot matanya seketika dipenuhi cahaya kegembiraan. "Qila, kamu cemburu, ya? Tenang saja, aku akan menceraikan wanita jahat itu!"Mengingat semua perhitungan Sasa, Bisma sampai ingin mencabik-cabiknya. Baru sekarang dia sadar, Sasa sama sekali bukan wanita polos seperti yang dia bayangkan, melainkan wanita ya

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 7

    Setelah dipaksa pulang oleh para pengawal yang datang menyusul, dia akhirnya kembali sadar."Cari dia. Kalian harus menemukan Qila dan membawanya kembali!"Setelah semua orang pergi, dia berbaring di ranjang kamar utama sambil berusaha mencium aroma yang sudah dikenalnya dari udara. Namun, semua yang berhubungan denganku di kamar itu sudah lama dibuang. Bahkan seprai yang pernah kupakai tidur pun sudah diganti dengan yang baru.Bisma meringkuk dengan mata yang memerah."Qila, kamu benar-benar kejam. Aku cuma nggak tega melihat Sasa terus terjebak dalam duka karena kematian pacarnya, makanya aku berpura-pura jadi pacarnya. Aku sama sekali nggak mencintainya. Tapi kamu malah setega itu, sampai nggak menyisakan sedikit pun kenangan untukku."....Pesawat mendarat di Kota Gandara.Setelah menempatkan kakek dengan baik, aku mendirikan sebuah perusahaan.Bisnis baru saja berjalan. Aku bekerja sendirian sampai larut malam, ketika tiba-tiba ponselku menampilkan permintaan panggilan video dari

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 6

    "Kak Bisma, kenapa kamu membentakku! Kamu nggak pernah membentakku sebelumnya. Apa kamu jatuh cinta sama orang lain atau sebenarnya kamu nggak pernah mencintaiku, makanya di ponselmu masih menyimpan fotonya?"Melihat Sasa kembali menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri, Bisma tak berdaya dan memeluknya. Dia mengecup kening Sasa dengan agak asal."Sasa, jangan mikir macam-macam. Mana mungkin aku nggak mencintaimu." Setelah akhirnya menenangkan Sasa hingga tertidur, tanpa sadar Bisma mengemudi ke bawah vilaku.Menatap vila yang gelap gulita, Bisma tidak ingin menggangguku. Dia hanya duduk di dalam mobil dan mengisap rokok semalaman. Dia mengira, saat kami bertemu keesokan harinya di pengadilan, aku akan merasa iba melihatnya yang tampak lusuh.Dengan sengaja tidak mencukur janggut, Bisma datang ke tempat yang sudah disepakati sambil terbatuk-batuk, tetapi tidak melihat sosok yang dikenalnya."Halo Pak Bisma, saya pengacara Bu Qila. Mulai sekarang, saya akan sepenuhnya menang

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 5

    Aku menunduk. Di halaman peramban yang terbuka, judulnya terpampang jelas.[ Mengagetkan! Pasangan konten kreator pendatang baru ternyata berasal dari selingkuhan! ]Dalam sekejap, halaman itu menghilang.Aku diseret dan ditarik dengan paksa. Bisma sama sekali tidak peduli bahwa aku baru selesai operasi. Dia menekan bahuku dengan kasar dan memaksaku berlutut di depan ranjang rumah sakit Sasa."Berlutut yang benar. Ini utangmu pada Sasa!"Aku paling takut rasa sakit, tetapi Bisma berulang kali menyakitiku tanpa ragu demi Sasa. Rasa perih memenuhi dadaku, air mataku meluncur tanpa bisa kutahan. Ini adalah terakhir kalinya aku menangis karena Bisma."Bisma, kita cerai. Selama kamu menunda perceraian ini, Sasa akan selamanya menyandang nama sebagai selingkuhan." Begitu kata-kataku selesai, sudut bibir Sasa yang pura-pura pingsan di ranjang rumah sakit itu sedikit terangkat.Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Emosi bergolak di mata Bisma. Jauh di lubuk hatinya, ada suara yang memp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status