Share

Bab 2

Penulis: Alissa
Saat melihat air mata di sudut mataku, pupil Bisma sedikit memicing. Dia hendak melangkah mendekat, tetapi Sasa sudah lebih dulu meraih lengannya.

"Kamu kakaknya Kak Bisma, ya? Aku pernah lihat kamu di ponselnya!"

Dia melepaskan tangan Bisma, lalu mengentakkan kaki dengan manja. "Kenapa nggak bilang sama aku dulu kalau kakakmu mau datang? Aku lagi jelek begini, mau gimana menghadapi orang?"

Bisma mengusap rambutnya dengan penuh sayang, lalu berbisik memanggilnya gadis super cantik. Sikap kekanak-kanakan itu sangat mirip dengan saat dia dulu berpacaran denganku.

Keduanya bermesraan cukup lama, barulah Sasa keluar dari pelukan Bisma dengan wajah malu-malu dan mengajakku naik ke atas untuk duduk. Aku tidak menolak.

Begitu pintu dibuka, seekor anak kucing tiba-tiba berlari dan menabrak betisku. Aku tertegun.

Kenangan tiba-tiba kembali ke masa lalu.

Dulu, aku berkali-kali bermanja pada Bisma karena ingin memelihara seekor anjing dan bahkan berjanji semua urusannya akan kutangani sendiri. Namun, dia selalu menolak dengan alasan kebersihan dan takut kuman.

Rasa getir menyebar di hatiku.

Tiba-tiba Sasa mendekat dengan wajah memerah, lalu berbisik pelan di telingaku, "Kakak nggak tahu, demi memelihara anak kucing ini, aku sudah berkorban banyak! Bisma itu benar-benar seperti nggak kenal ampun, aku sampai tiga hari nggak bisa turun dari tempat tidur!"

Melihat Bisma yang sedang membersihkan kotak pasir kucing, dia mendengus pelan. "Katanya dia punya fobia kotor, ternyata bohong!"

Bagaimanapun, Sasa masih muda. Niatnya itu bisa langsung kutebak. Sambil berbicara, dia juga dengan sengaja mengaitkan sesuatu dari bawah sofa, memperlihatkan celana dalam renda yang tersembunyi. Aku mengerutkan kening. Membayangkan apa yang mereka lakukan di atas sofa itu membuatku muak.

Dengan wajah penuh keluhan, Sasa mengepalkan tangan dan memukul dada Bisma dengan manja. "Semua gara-gara kamu nggak membereskan barang-barang ini! Kalau Kakak lihat, nanti dia nggak suka sama aku!"

Sambil merasa bersalah dan terus meminta maaf pada Sasa, Bisma juga menatapku dengan tajam sebagai peringatan.

Detik berikutnya, ponselku bergetar.

Di jendela obrolan kontak yang dipasangi sematan, akhirnya tidak lagi hanya dipenuhi gelembung percakapan diriku seorang.

[ Jangan libatkan Sasa dalam urusan kita. Dia nggak bersalah. ]

[ Coba pikirkan Kakek Zafran. Sepertinya dia masih tinggal di rumah perawatan Keluarga Rajarda. ]

Kedua tanganku mengepal kuat, kuku menancap dalam ke telapak tangan.

Namun demi satu-satunya keluarga yang kumiliki, aku terpaksa menahan rasa tidak nyaman dan mual, lalu duduk kembali di sofa dan membatalkan sematan itu.

Setelah menenangkan Sasa, Bisma berbalik masuk ke dapur. Sebelum pergi, dia menoleh lagi dengan tidak tenang. Seolah dia khawatir aku akan membuat Sasa kembali merasa tersakiti. Bahkan, gerakannya saat memasak pun jadi jauh lebih cepat.

Meja itu dipenuhi dengan masakan berminyak dan pedas yang sesuai dengan selera Sasa. Perutku tiba-tiba terasa nyeri, aku memegangi perut dan terjatuh ke lantai. Melihat hal itu, kali ini wajah Bisma terlihat panik karena aku.

"Qila, apa perutmu kambuh lagi? Aku pergi beli obat sekarang juga."

Baru saja dia berdiri, Sasa ikut memegangi perutnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kak Bisma, perutku sakit sekali, ah."

Bisma tidak ragu sedikit pun. Dia menggendong Sasa dan melangkah pergi, bahkan menginjak punggung tanganku. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak kesakitan.

Saat membuka mata lagi, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Di sampingku, Bisma sedang menelepon sangat lama untuk menenangkan Sasa yang ketakutan.

Begitu melihatku terbangun, dia mencari alasan untuk menutup telepon, lalu mengangkat semangkuk bubur putih yang sudah dingin dan berpura-pura hendak menyuapiku.

"Qila, dokter bilang pola makanmu nggak teratur dalam jangka panjang, penyakit lambungmu kambuh lagi. Makan buburnya yang patuh. Nanti sore aku akan masakkan sup untuk lambungmu."

Kekhawatiran di matanya tidak tampak seperti dibuat-buat.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 10

    Pada saat ini, dia sadar betul bahwa jarak antara aku dan dirinya semakin menjauh. Dengan senyum pahit, Bisma tiba-tiba melirik ke sudut yang remang. Di sana, Sasa menatap dengan mata penuh kebencian, bilah pisau di tangannya memantulkan kilau dingin.Sambil menundukkan pinggiran topi, Sasa berjalan mendekat dengan terpincang-pincang."Qila, mati saja kamu. Hahaha."Adegan diriku yang tergeletak dengan bersimbah darah, tidak terjadi seperti yang dibayangkannya. Senyum Sasa seketika membeku.Bisma berdiri di depanku. Darah mengalir dari perutnya. Wajahnya pucat pasi, tetapi dia masih menyunggingkan senyum lega."Qila, syukurlah kamu nggak apa-apa."Suara jeritan terdengar di mana-mana. Dengan tenang, aku menelepon polisi.Sasa ditahan dan diborgol oleh para pengawal. Wajah mungil yang dulu cerah dan menawan itu kini tampak lesu dan tirus."Qila, kenapa? Kenapa kamu bisa hidup sebaik ini, sementara aku harus hidup dengan sembunyi-sembunyi!"Melihat raut wajah Sasa yang penuh kebencian, a

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 9

    Sasa menangis tersedu-sedu, ingus dan air matanya bercampur jadi satu.Sejak Bisma tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seorang teman, pembalasan yang gila pun dimulai.Dari dihujat seluruh internet sampai kecelakaan mobil yang membuat kakinya patah, Bisma sedikit demi sedikit mengembalikan semua penderitaan yang pernah kurasakan, bahkan berlipat ganda padanya.Dengan sorot mata lembut, Bisma mengusap perutnya yang hamil. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat bulu kuduk berdiri."Qila juga pernah mengandung anakku. Kalau bukan karena kamu membohongiku dan menahanku di sisimu, Qila nggak akan keguguran. Kamu membuatku kehilangan dua orang terpenting dalam hidupku, aku juga akan membuatmu tetap sadar dan merasakan penderitaan itu!"Mendengar ucapannya, tubuh Sasa langsung merinding."Pak Bisma! Semua ini salahku, aku yang gelap mata dan menggodamu. Terserah kamu mau gimana menghukumku. Tapi anak ini nggak bersalah. Aku mohon, aku mohon lepaskan anak kita. Ahh!"Tanpa

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 8

    "Qila, kamu benar-benar kejam. Bahkan seorang penjahat pun masih diberi kesempatan membela diri, tapi kamu bahkan nggak memberiku kesempatan untuk meminta maaf."Aku menatapnya dengan pandangan seakan melihat orang asing.Bisma tertegun. Seolah menipu diri sendiri, dia melangkah maju hendak menutup mataku dengan tangannya dan suaranya bergetar tak terkendali."Qila, kamu nggak boleh menatapku dengan pandangan seperti itu. Jangan bersikap setega ini padaku.""Bisma, jaga sikapmu." Aku mundur selangkah. Tangan Bisma membeku di udara. "Sebagai orang yang sudah menikah, kamu seharusnya punya kesadaran sebagai suami orang." Aku mengingatkannya dengan baik, tetapi dia malah salah paham.Sorot matanya seketika dipenuhi cahaya kegembiraan. "Qila, kamu cemburu, ya? Tenang saja, aku akan menceraikan wanita jahat itu!"Mengingat semua perhitungan Sasa, Bisma sampai ingin mencabik-cabiknya. Baru sekarang dia sadar, Sasa sama sekali bukan wanita polos seperti yang dia bayangkan, melainkan wanita ya

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 7

    Setelah dipaksa pulang oleh para pengawal yang datang menyusul, dia akhirnya kembali sadar."Cari dia. Kalian harus menemukan Qila dan membawanya kembali!"Setelah semua orang pergi, dia berbaring di ranjang kamar utama sambil berusaha mencium aroma yang sudah dikenalnya dari udara. Namun, semua yang berhubungan denganku di kamar itu sudah lama dibuang. Bahkan seprai yang pernah kupakai tidur pun sudah diganti dengan yang baru.Bisma meringkuk dengan mata yang memerah."Qila, kamu benar-benar kejam. Aku cuma nggak tega melihat Sasa terus terjebak dalam duka karena kematian pacarnya, makanya aku berpura-pura jadi pacarnya. Aku sama sekali nggak mencintainya. Tapi kamu malah setega itu, sampai nggak menyisakan sedikit pun kenangan untukku."....Pesawat mendarat di Kota Gandara.Setelah menempatkan kakek dengan baik, aku mendirikan sebuah perusahaan.Bisnis baru saja berjalan. Aku bekerja sendirian sampai larut malam, ketika tiba-tiba ponselku menampilkan permintaan panggilan video dari

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 6

    "Kak Bisma, kenapa kamu membentakku! Kamu nggak pernah membentakku sebelumnya. Apa kamu jatuh cinta sama orang lain atau sebenarnya kamu nggak pernah mencintaiku, makanya di ponselmu masih menyimpan fotonya?"Melihat Sasa kembali menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri, Bisma tak berdaya dan memeluknya. Dia mengecup kening Sasa dengan agak asal."Sasa, jangan mikir macam-macam. Mana mungkin aku nggak mencintaimu." Setelah akhirnya menenangkan Sasa hingga tertidur, tanpa sadar Bisma mengemudi ke bawah vilaku.Menatap vila yang gelap gulita, Bisma tidak ingin menggangguku. Dia hanya duduk di dalam mobil dan mengisap rokok semalaman. Dia mengira, saat kami bertemu keesokan harinya di pengadilan, aku akan merasa iba melihatnya yang tampak lusuh.Dengan sengaja tidak mencukur janggut, Bisma datang ke tempat yang sudah disepakati sambil terbatuk-batuk, tetapi tidak melihat sosok yang dikenalnya."Halo Pak Bisma, saya pengacara Bu Qila. Mulai sekarang, saya akan sepenuhnya menang

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 5

    Aku menunduk. Di halaman peramban yang terbuka, judulnya terpampang jelas.[ Mengagetkan! Pasangan konten kreator pendatang baru ternyata berasal dari selingkuhan! ]Dalam sekejap, halaman itu menghilang.Aku diseret dan ditarik dengan paksa. Bisma sama sekali tidak peduli bahwa aku baru selesai operasi. Dia menekan bahuku dengan kasar dan memaksaku berlutut di depan ranjang rumah sakit Sasa."Berlutut yang benar. Ini utangmu pada Sasa!"Aku paling takut rasa sakit, tetapi Bisma berulang kali menyakitiku tanpa ragu demi Sasa. Rasa perih memenuhi dadaku, air mataku meluncur tanpa bisa kutahan. Ini adalah terakhir kalinya aku menangis karena Bisma."Bisma, kita cerai. Selama kamu menunda perceraian ini, Sasa akan selamanya menyandang nama sebagai selingkuhan." Begitu kata-kataku selesai, sudut bibir Sasa yang pura-pura pingsan di ranjang rumah sakit itu sedikit terangkat.Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Emosi bergolak di mata Bisma. Jauh di lubuk hatinya, ada suara yang memp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status