Share

Bab 3

Penulis: Alissa
Namun, hal itu malah membuatku sangat muak. Aku mendorong bubur itu menjauh dan memejamkan mata sambil terdiam.

Keheningan menyelimuti sekitar. Aku dan Bisma kembali berbicara bersamaan.

"Bisma, kita cerai saja."

"Qila, aku ingin bawa Sasa kembali ke ibu kota."

....

Begitu kata-kata itu terucap, yang menyambutku adalah amarah Bisma.

Matanya memerah, urat di lengannya menonjol saat dia mencengkeram daguku dengan keras, sampai rasanya daguku hampir terlepas.

"Qila, kamu tahu apa yang kamu bicarakan? Aku salah karena menghilang tiba-tiba, aku bisa mengerti kalau kamu marah, tapi jangan bertingkah nggak masuk akal. Perceraian itu bukan candaan. Asal kamu menarik kembali ucapanmu, aku bisa menganggap semua ini nggak pernah terjadi."

"Bisma, kamu mengenalku. Aku nggak pernah bercanda. Surat perjanjian perceraian ada di tas, aku sudah menandatanganinya."

Bisma mengusap pelipisnya, wajahnya dipenuhi kelelahan.

"Jantung yang kuterima hasil transplantasi itu milik pacar Sasa. Saat aku bertemu dengannya, dia sedang bersiap meloncat ke sungai. Aku hanya berpura-pura jadi pacarnya agar dia punya keberanian untuk hidup."

"Qila, patuhlah sedikit. Aku akan bawa Sasa ke ibu kota. Setelah dia melahirkan, aku akan mengurus semuanya."

Aku tersenyum tanpa berkata apa-apa. "Pura-pura jadi pacar" versinya adalah tidur dengan Sasa sampai wanita itu hamil. Tatapan kami bertemu dan Bisma mengalihkan pandangannya dengan rasa bersalah.

Selama aku dirawat di rumah sakit, Bisma tidak pernah muncul. Setiap hari dia hanya menyuruh orang mengantar hadiah ke kamarku.

Begitu pula dengan hari ini. Hanya saja, belum lama setelah diletakkan, mereka kembali lagi.

"Maaf, Bu Qila, kami salah mengantarkan hadiah."

Aku mengangkat pandangan. Itu giok merah yang tidak kusukai, dengan serat putih di dalamnya yang menurunkan kualitasnya.

Ponselku berbunyi pelan, akun kreator yang kuikuti memperbarui unggahan. Di dalam video, Sasa membagikan kabar kehamilannya kepada para pengikutnya dengan wajah penuh kebahagiaan.

Tangan kiriku yang terangkat, giok merah es itu berkilau bening di bawah cahaya lampu. Aku merasa semuanya sangat tidak berarti.

Setelah berhenti mengikuti akun itu, aku meninggalkan hadiah dan surat perjanjian perceraian di kamar rumah sakit, lalu terbang kembali ke ibu kota untuk mengurus pekerjaan.

Seminggu kemudian, Bisma menggendong Sasa kembali ke vila dengan hati-hati. Sambil mengamati sekeliling, lalu menatapku dengan sikap menantang, Sasa mencebik dengan nada yang penuh maksud tersembunyi.

"Kak Bisma, ini rumahmu? Rasanya, hmm, agak kuno. Kenapa seleramu begini, aku nggak suka. Kita pindah tempat lain saja, ya."

Bisma mengusap hidung kecil Sasa dengan penuh kasih dan langsung menyetujuinya tanpa syarat.

Setelah menenangkan Sasa, dia kembali menghampiriku. Masih berjarak sekitar satu meter, aku menghentikannya dengan sikap dingin. Tatapanku yang penuh ejekan membuatnya mengertakkan gigi dan urat di dahinya berdenyut keras.

"Qila, jangan bertingkah nggak masuk akal lagi. Aku sudah bilang ini semua hanya sandiwara. Aku juga punya kesulitanku sendiri. Kenapa kamu nggak bisa memahamiku!" Begitu selesai bicara, dia menarik lenganku dan begitu terkejut saat menyadari tubuhku begitu kurus.

Rasa iba yang baru muncul di matanya, segera terputus oleh suara kaca pecah dan jeritan kesakitan Sasa dari belakang. Pupil Bisma langsung memicing tajam.

"Sasa, jangan pegang pecahan kaca, nanti tanganmu terluka!"

Sayangnya sudah terlambat. Darah segar mengalir dari sela jari Sasa. Dengan wajah panik, Bisma mengangkatnya dan bergegas ke rumah sakit. Dia bahkan tidak melirik apa pun yang terinjak di kakinya.

Saat menatap bintang origami yang tergeletak di lantai dan remuk terinjak, dadaku terasa perih.

Dulu, pemuda berusia 18 tahun itu menyerahkan 999 bintang dan sebuah hati yang tulus padaku dengan wajah yang memerah karena malu. Pria berusia 28 tahun kini, telah menarik kembali semuanya tanpa sisa.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 10

    Pada saat ini, dia sadar betul bahwa jarak antara aku dan dirinya semakin menjauh. Dengan senyum pahit, Bisma tiba-tiba melirik ke sudut yang remang. Di sana, Sasa menatap dengan mata penuh kebencian, bilah pisau di tangannya memantulkan kilau dingin.Sambil menundukkan pinggiran topi, Sasa berjalan mendekat dengan terpincang-pincang."Qila, mati saja kamu. Hahaha."Adegan diriku yang tergeletak dengan bersimbah darah, tidak terjadi seperti yang dibayangkannya. Senyum Sasa seketika membeku.Bisma berdiri di depanku. Darah mengalir dari perutnya. Wajahnya pucat pasi, tetapi dia masih menyunggingkan senyum lega."Qila, syukurlah kamu nggak apa-apa."Suara jeritan terdengar di mana-mana. Dengan tenang, aku menelepon polisi.Sasa ditahan dan diborgol oleh para pengawal. Wajah mungil yang dulu cerah dan menawan itu kini tampak lesu dan tirus."Qila, kenapa? Kenapa kamu bisa hidup sebaik ini, sementara aku harus hidup dengan sembunyi-sembunyi!"Melihat raut wajah Sasa yang penuh kebencian, a

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 9

    Sasa menangis tersedu-sedu, ingus dan air matanya bercampur jadi satu.Sejak Bisma tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seorang teman, pembalasan yang gila pun dimulai.Dari dihujat seluruh internet sampai kecelakaan mobil yang membuat kakinya patah, Bisma sedikit demi sedikit mengembalikan semua penderitaan yang pernah kurasakan, bahkan berlipat ganda padanya.Dengan sorot mata lembut, Bisma mengusap perutnya yang hamil. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat bulu kuduk berdiri."Qila juga pernah mengandung anakku. Kalau bukan karena kamu membohongiku dan menahanku di sisimu, Qila nggak akan keguguran. Kamu membuatku kehilangan dua orang terpenting dalam hidupku, aku juga akan membuatmu tetap sadar dan merasakan penderitaan itu!"Mendengar ucapannya, tubuh Sasa langsung merinding."Pak Bisma! Semua ini salahku, aku yang gelap mata dan menggodamu. Terserah kamu mau gimana menghukumku. Tapi anak ini nggak bersalah. Aku mohon, aku mohon lepaskan anak kita. Ahh!"Tanpa

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 8

    "Qila, kamu benar-benar kejam. Bahkan seorang penjahat pun masih diberi kesempatan membela diri, tapi kamu bahkan nggak memberiku kesempatan untuk meminta maaf."Aku menatapnya dengan pandangan seakan melihat orang asing.Bisma tertegun. Seolah menipu diri sendiri, dia melangkah maju hendak menutup mataku dengan tangannya dan suaranya bergetar tak terkendali."Qila, kamu nggak boleh menatapku dengan pandangan seperti itu. Jangan bersikap setega ini padaku.""Bisma, jaga sikapmu." Aku mundur selangkah. Tangan Bisma membeku di udara. "Sebagai orang yang sudah menikah, kamu seharusnya punya kesadaran sebagai suami orang." Aku mengingatkannya dengan baik, tetapi dia malah salah paham.Sorot matanya seketika dipenuhi cahaya kegembiraan. "Qila, kamu cemburu, ya? Tenang saja, aku akan menceraikan wanita jahat itu!"Mengingat semua perhitungan Sasa, Bisma sampai ingin mencabik-cabiknya. Baru sekarang dia sadar, Sasa sama sekali bukan wanita polos seperti yang dia bayangkan, melainkan wanita ya

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 7

    Setelah dipaksa pulang oleh para pengawal yang datang menyusul, dia akhirnya kembali sadar."Cari dia. Kalian harus menemukan Qila dan membawanya kembali!"Setelah semua orang pergi, dia berbaring di ranjang kamar utama sambil berusaha mencium aroma yang sudah dikenalnya dari udara. Namun, semua yang berhubungan denganku di kamar itu sudah lama dibuang. Bahkan seprai yang pernah kupakai tidur pun sudah diganti dengan yang baru.Bisma meringkuk dengan mata yang memerah."Qila, kamu benar-benar kejam. Aku cuma nggak tega melihat Sasa terus terjebak dalam duka karena kematian pacarnya, makanya aku berpura-pura jadi pacarnya. Aku sama sekali nggak mencintainya. Tapi kamu malah setega itu, sampai nggak menyisakan sedikit pun kenangan untukku."....Pesawat mendarat di Kota Gandara.Setelah menempatkan kakek dengan baik, aku mendirikan sebuah perusahaan.Bisnis baru saja berjalan. Aku bekerja sendirian sampai larut malam, ketika tiba-tiba ponselku menampilkan permintaan panggilan video dari

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 6

    "Kak Bisma, kenapa kamu membentakku! Kamu nggak pernah membentakku sebelumnya. Apa kamu jatuh cinta sama orang lain atau sebenarnya kamu nggak pernah mencintaiku, makanya di ponselmu masih menyimpan fotonya?"Melihat Sasa kembali menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri, Bisma tak berdaya dan memeluknya. Dia mengecup kening Sasa dengan agak asal."Sasa, jangan mikir macam-macam. Mana mungkin aku nggak mencintaimu." Setelah akhirnya menenangkan Sasa hingga tertidur, tanpa sadar Bisma mengemudi ke bawah vilaku.Menatap vila yang gelap gulita, Bisma tidak ingin menggangguku. Dia hanya duduk di dalam mobil dan mengisap rokok semalaman. Dia mengira, saat kami bertemu keesokan harinya di pengadilan, aku akan merasa iba melihatnya yang tampak lusuh.Dengan sengaja tidak mencukur janggut, Bisma datang ke tempat yang sudah disepakati sambil terbatuk-batuk, tetapi tidak melihat sosok yang dikenalnya."Halo Pak Bisma, saya pengacara Bu Qila. Mulai sekarang, saya akan sepenuhnya menang

  • Melihat Suami yang Kucintai Berada di Pelukan Wanita Lain   Bab 5

    Aku menunduk. Di halaman peramban yang terbuka, judulnya terpampang jelas.[ Mengagetkan! Pasangan konten kreator pendatang baru ternyata berasal dari selingkuhan! ]Dalam sekejap, halaman itu menghilang.Aku diseret dan ditarik dengan paksa. Bisma sama sekali tidak peduli bahwa aku baru selesai operasi. Dia menekan bahuku dengan kasar dan memaksaku berlutut di depan ranjang rumah sakit Sasa."Berlutut yang benar. Ini utangmu pada Sasa!"Aku paling takut rasa sakit, tetapi Bisma berulang kali menyakitiku tanpa ragu demi Sasa. Rasa perih memenuhi dadaku, air mataku meluncur tanpa bisa kutahan. Ini adalah terakhir kalinya aku menangis karena Bisma."Bisma, kita cerai. Selama kamu menunda perceraian ini, Sasa akan selamanya menyandang nama sebagai selingkuhan." Begitu kata-kataku selesai, sudut bibir Sasa yang pura-pura pingsan di ranjang rumah sakit itu sedikit terangkat.Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Emosi bergolak di mata Bisma. Jauh di lubuk hatinya, ada suara yang memp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status