Dan sesosok wanita itu adalah Inara Niskala. Entah mengapa, Ray dan Ghea bertemu lagi dengannya di rumah sakit ini."Selamat siang, Bibi," sapa Alea dengan sopan.Inara mendengus, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat angkuh. "Siapa yang kamu panggil Bibi? Ibumu sudah lama didepak dari silsilah keluarga Niskala. Bagiku, kalian tidak lebih dari sekadar orang asing yang tidak sengaja berpapasan denganku di jalan."Ghea menatap kakak tirinya tajam. Sementara Ray berpikir keras, menyusun sebuah rencana balasan.Sebelum Ghea sempat membuka suara, Ray melangkah maju, memotong dengan nada bicara yang tenang tetapi menusuk."Kalau memang kita hanya orang asing, bukankah seharusnya kamu mengabaikan kami? Dengan meluangkan waktu untuk menghampiri kami, itu membuktikan bahwa sebenarnya ... kamulah yang tidak bisa berhenti memikirkan kami," katanya."Apa maksudmu?!" Wajah Inara memerah, rahangnya mengeras."Kenapa? Apa aku salah?" potong Ray."Hei, kamu kurang ajar, ya? Dasar si gendut pec
Baca selengkapnya