Ghea, Izinkan Suami Sampahmu Menceraikanmu

Ghea, Izinkan Suami Sampahmu Menceraikanmu

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-05-11
Oleh:  CococakeOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
39Bab
517Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Terbangun sebagai karakter suami sampah di novel ‘Pembalasan Istri yang Teraniaya’ adalah kutukan bagi Rayyan Danendra. Dalam novel tersebut, ia berperan sebagai karakter villain utama yang menyebabkan kematian putri kecil mereka. Takdirnya berakhir tragis di tangan istrinya, sang protagonis utama, Ghea Niskala. Demi mengubah plot novel, Rayyan yang biasa dipanggil Ray, berencana memperbaiki hubungannya dengan Ghea agar bisa bercerai secara baik-baik. Harusnya rencana itu mudah. Tetapi, ketika kebebasan di depan mata, wanita yang ia kira rapuh tiba-tiba berbisik, “kau pikir … setelah kau memberikanku kehangatan, kau bisa pergi begitu saja, Sayang?” Mata Ray terbelalak. “Ah!”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1: Masuk ke Dunia Novel

“Sudahlah … tak perlu berusaha lagi. Kalian akan mati hari ini,” kata Ray dengan tenang.

Ia menyesap sisa wine terakhir di gelasnya tepat saat teriakan bibinya pecah, bersaing dengan suara kayu jati yang mulai merintih dimakan api. Di depannya, ruangan villa yang dulunya milik orang tua Ray telah disulap menjadi tungku raksasa. Asap hitam mulai menggulung di langit-langit, menjatuhkan hujan abu yang hinggap di bahu kemeja mahalnya.

Ray tak bergerak. Bahkan saat api semakin membesar, ia tetap duduk tenang di kursinya.

"Ray! Kau gila?! Buka pintunya!" Paman Rian meraung, jemarinya yang penuh perhiasan kini berdarah-darah karena mencakar pintu villa yang telah dikunci dari luar. "Kita semua akan mati terpanggang di sini!"

Paman Rian semakin marah, “Rayyan Danendra! Aku mengundangmu ke villa-ku karena kami ingin merayakan kembalinya kamu ke keluarga Danendra, tapi apa-apaan ini? Kau ingin bunuh diri bersama kami?! Dasar bocah sinting!”

Ray hanya berdecak saat pamannya menyebut villa ini miliknya. Lalu ia melirik jam tangan mewahnya.

Lima menit sejak api mulai membakar villa. Semuanya berjalan lancar, kecuali satu hal: dia juga akan mati hari ini yang sebenarnya tidak ada dalam rencananya. Penjaga villa yang ia suap ternyata memiliki dendam pada keluarga besar Danendra.

"Ah ...,” Ray terkekeh rendah, suara tawanya parau. “Aku masih ceroboh seperti biasanya. Seharusnya aku tak mudah mempercayai orang asing.”

Ia tidak marah. Justru, rasa lega yang aneh merayap di dadanya. Delapan tahun ia membangun kekayaan sebagai produser musik internasional hanya untuk satu malam ini: melihat keluarga pamannya ketakutan dan mantan tunangannya, Bianca, bersimpuh di lantai sambil memohon kepadanya.

"Ray, aku mohon ...," Bianca merangkak, wajah cantiknya yang biasa angkuh kini basah oleh air mata. "Aku akan melakukan apa pun. Aku akan kembali padamu, hanya tolong ... buka pintunya!"

Ray menatap wanita itu dengan mata dingin. "Huh?! Sedari awal kita hanya dijodohkan oleh pamanku. Dan setelah aku diusir dari keluarga Danendra, kau tak segan-segan berpacaran dengan Raka.”

Bianca tersentak. “Ray … aku … aku minta maaf karena aku mencintai sepupumu. Aku tidak terlibat dalam urusan keluarga kalian, jadi mengapa kamu ingin membunuhku juga?”

“Kalimatmu salah. Sedari awal kamu sudah melibatkan diri dalam urusan keluarga kami,” jelas Ray. “Kamu hanya rencana cadangan yang dipersiapkan pamanku untuk merebut warisan dari orang tuaku. Begitu mereka mendapatkan warisan itu, kamu bisa kembali pada Raka.”

Raka, putra Paman Rian, yang mendengar namanya terus disebut-sebut berjalan ke arah Ray dengan langkah lebar. Kepalan tangannya melayang ke arah wajah sepupunya, namun Ray dengan tenang menepisnya. Bahkan Ray memutar pergelangan tangannya.

“Argh … keparat, lepaskan aku!” Raka mengerutkan dahinya, mencoba menahan rasa sakit. “Ah … lepas atau kupukul kau!”

Ray terkekeh sambil melepas lengan Raka. “Percuma. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memukulku.”

Raka mundur selangkah, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Amarahnya seketika menciut saat melihat tatapan Ray.

Ray benar, Raka tak akan pernah menang saat berduel dengannya.

“Mengapa kau lakukan ini, Nak?” tanya Bibi Sarah, istri Paman Rian. Matanya yang basah menatap Ray dengan sendu.

“Menjijikkan melihat sandiwara kasih sayangmu itu lagi,” kata Ray dingin, matanya menyapu kalung di leher Bibi Sarah. “Kamu benar-benar tak tahu malu, memakai kalung ibuku seolah kamu berhak memilikinya.”

“Ray, kalung ini diberikan oleh—“

“Omong kosong,” potong Ray. “Jangan bawa-bawa nama ibuku.”

Bibi Sarah terkesiap, wajahnya mendadak sepucat kertas.

“Ray, jika kamu ingin perusahaan orang tuamu kembali, aku akan mengembalikannya sekarang ….” Paman Rian mencoba menengahi. “Mari kita keluar dari sini dulu.”

“Buat apa?” Ray bertanya dengan tawa singkat yang menakutkan. “Apa kalian tidak ingat atau pura-pura lupa kalau kalian sudah mengusirku setelah perusahaan itu jadi milik kalian? Tidak ada untungnya juga bagiku mengambil perusahaan yang hampir bangkrut itu.”

Ray berjalan perlahan mengitari mereka, seperti serigala yang mengitari mangsa yang sudah terpojok.

“Aku tidak ingin melihat kalian mati dengan peluru atau pisau. Itu terlalu cepat,” Ray menyentuh permukaan meja yang mulai berdebu. “Kalian membunuh orang tua dan kakakku, mencuri kehangatan hidupku. Jadi, adil rasanya jika kalian mati dalam kehangatan yang aku ciptakan ini.”

“Dasar gila! Kamu juga akan mati di sini, Ray!” teriak Raka frustrasi.

Ray berhenti melangkah, menatap kobaran api yang mulai meruntuhkan langit-langit villa. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak tulus namun mengerikan.

“Yah … aku tak menyesal karena kalian juga akan mati bersamaku,” tutupnya.

Ray kembali duduk di kursinya, menyandarkan kepala seolah sedang bersiap untuk tidur siang. Ia mengabaikan jeritan, makian, dan tangis histeris yang memenuhi ruangan. Baginya, suara deru api ini jauh lebih merdu daripada musik mana pun yang pernah ia ciptakan.

Normalnya, ia pasti masuk neraka setelah membunuh kerabatnya, tapi ….

PLAK!

Ray mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangan kanannya mati rasa, seolah telah menampar kulit seseorang dengan keras.

“Apa yang terjadi?” tanya Ray pada dirinya sendiri.

Selain itu, rasa panas yang membakar kulitnya hilang seketika, berganti dengan rasa dingin yang lembap dan bau menyengat dari alkohol murahan.

"Aku tidak punya uang lagi. Alea membutuhkan uang untuk berobat.”

Suara perempuan itu begitu parau. Terdengar seperti menangis.

‘Suara siapa ini?’ Ray bergumam dalam hati.

Beberapa saat kemudian, ia berhasil membuka mata sepenuhnya.

Anehnya, Ray tidak lagi berada di sebuah villa yang terbakar. Ia berada di sebuah ruangan sempit dengan lampu redup yang berkedip-kedip, hampir sekarat. Pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Seorang perempuan kurus dengan wajah pucat pasi dan rambut kusut tengah mendekap erat seorang anak kecil. Di pipi perempuan itu, tak hanya memerah, terdapat lebam kebiruan yang masih segar. Matanya menatap Ray dengan horor, seolah Ray adalah iblis yang baru saja bangkit dari neraka.

"Ray, kumohon ... putri kita sedang demam tinggi," isak perempuan itu lagi.

Ray terpaku. ‘Putri kita?!’ pikirnya. ‘Tunggu. Aku ... tidak mati?’

Ray membeku.

“Jangan tampar aku lagi. Aku tidak punya uang,” ulang perempuan itu, suaranya serak. Tangannya gemetar saat memeluk anak kecil di dadanya. “Alea demam semalaman. Mana tanggung jawabmu sebagai orang tua Alea?!”

Ray menatap mereka berdua dengan tatapan bingung, lalu melihat tangannya sendiri yang masih terangkat di udara. Ini seperti pose tangan yang akan menampar seseorang.

Tapi bukan itu fokusnya. Ia memperhatikan tangannya. Kulitnya kasar, buku-buku jarinya menebal. Ia juga bisa melihat perutnya membuncit.

Hanya satu yang ia pikirkan: ini bukan tubuhnya.

“Apa kau dengar aku, Ray?” suara wanita itu meninggi sedikit, bercampur takut. “Tolong … jangan marah. Alea juga putrimu, dia sedang sakit. Dia membutuhkan uang untuk membeli obat.”

Ray semakin tidak mengerti: mengapa dia ada di tempat ini? Mengapa tiba-tiba dia menjadi gemuk? Dan siapa mereka?

‘Apa aku sedang bermimpi?’ pikir Ray.

Rasa sakit di kepala menghantamnya. Ray tak kuasa memegang keningnya. Rasa basah dan lengket di tangannya membuatnya terkesiap.

“Darah?!”

Rasa sakit ini menyadarkan bahwa apa yang ada di depannya bukan sekadar mimpi.

Barulah ia menyadari kalau ada pecahan vas bunga di sekitar kakinya.

“Apa kepalaku cidera karena vas bunga ini?” bisiknya.

Tidak. Lupakan luka di kepalanya dulu. Yang terpenting adalah siapa mereka.

“Kamu … siapa kamu?” tanya Ray, dahinya mengerut mencari jawaban.

“Keterlaluan! Setelah apa yang kamu lakukan pada kami, kamu ingin bermain-main dengan kami!” Perempuan itu meraung, setetes air mata kembali jatuh di pipinya. Tetapi dia tetap menjawab, “aku Ghea, istrimu. Tolong jangan mempermainkanku.”

“Ghea?” gumam Ray.

Ghea. Anak tadi bernama Alea. Dan nama dia di sini juga Ray.

Rayyan Danendra terus mengulang ketiga nama itu. Hingga di suatu titik sebuah ingatan muncul.

“Tunggu … bukankah tiga nama itu muncul di novel favorit kakakku?!”

Ray mendesah dan berteriak dalam hati, ‘Sial! Apa aku masuk ke dunia novel?!’

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
39 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status