MasukTerbangun sebagai karakter suami sampah di novel ‘Pembalasan Istri yang Teraniaya’ adalah kutukan bagi Rayyan Danendra. Dalam novel tersebut, ia berperan sebagai karakter villain utama yang menyebabkan kematian putri kecil mereka. Takdirnya berakhir tragis di tangan istrinya, sang protagonis utama, Ghea Niskala. Demi mengubah plot novel, Rayyan yang biasa dipanggil Ray, berencana memperbaiki hubungannya dengan Ghea agar bisa bercerai secara baik-baik. Harusnya rencana itu mudah. Tetapi, ketika kebebasan di depan mata, wanita yang ia kira rapuh tiba-tiba berbisik, “kau pikir … setelah kau memberikanku kehangatan, kau bisa pergi begitu saja, Sayang?” Mata Ray terbelalak. “Ah!”
Lihat lebih banyak“Sudahlah … tak perlu berusaha lagi. Kalian akan mati hari ini,” kata Ray dengan tenang.
Ia menyesap sisa wine terakhir di gelasnya tepat saat teriakan bibinya pecah, bersaing dengan suara kayu jati yang mulai merintih dimakan api. Di depannya, ruangan villa yang dulunya milik orang tua Ray telah disulap menjadi tungku raksasa. Asap hitam mulai menggulung di langit-langit, menjatuhkan hujan abu yang hinggap di bahu kemeja mahalnya. Ray tak bergerak. Bahkan saat api semakin membesar, ia tetap duduk tenang di kursinya. "Ray! Kau gila?! Buka pintunya!" Paman Rian meraung, jemarinya yang penuh perhiasan kini berdarah-darah karena mencakar pintu villa yang telah dikunci dari luar. "Kita semua akan mati terpanggang di sini!" Paman Rian semakin marah, “Rayyan Danendra! Aku mengundangmu ke villa-ku karena kami ingin merayakan kembalinya kamu ke keluarga Danendra, tapi apa-apaan ini? Kau ingin bunuh diri bersama kami?! Dasar bocah sinting!” Ray hanya berdecak saat pamannya menyebut villa ini miliknya. Lalu ia melirik jam tangan mewahnya. Lima menit sejak api mulai membakar villa. Semuanya berjalan lancar, kecuali satu hal: dia juga akan mati hari ini yang sebenarnya tidak ada dalam rencananya. Penjaga villa yang ia suap ternyata memiliki dendam pada keluarga besar Danendra. "Ah ...,” Ray terkekeh rendah, suara tawanya parau. “Aku masih ceroboh seperti biasanya. Seharusnya aku tak mudah mempercayai orang asing.” Ia tidak marah. Justru, rasa lega yang aneh merayap di dadanya. Delapan tahun ia membangun kekayaan sebagai produser musik internasional hanya untuk satu malam ini: melihat keluarga pamannya ketakutan dan mantan tunangannya, Bianca, bersimpuh di lantai sambil memohon kepadanya. "Ray, aku mohon ...," Bianca merangkak, wajah cantiknya yang biasa angkuh kini basah oleh air mata. "Aku akan melakukan apa pun. Aku akan kembali padamu, hanya tolong ... buka pintunya!" Ray menatap wanita itu dengan mata dingin. "Huh?! Sedari awal kita hanya dijodohkan oleh pamanku. Dan setelah aku diusir dari keluarga Danendra, kau tak segan-segan berpacaran dengan Raka.” Bianca tersentak. “Ray … aku … aku minta maaf karena aku mencintai sepupumu. Aku tidak terlibat dalam urusan keluarga kalian, jadi mengapa kamu ingin membunuhku juga?” “Kalimatmu salah. Sedari awal kamu sudah melibatkan diri dalam urusan keluarga kami,” jelas Ray. “Kamu hanya rencana cadangan yang dipersiapkan pamanku untuk merebut warisan dari orang tuaku. Begitu mereka mendapatkan warisan itu, kamu bisa kembali pada Raka.” Raka, putra Paman Rian, yang mendengar namanya terus disebut-sebut berjalan ke arah Ray dengan langkah lebar. Kepalan tangannya melayang ke arah wajah sepupunya, namun Ray dengan tenang menepisnya. Bahkan Ray memutar pergelangan tangannya. “Argh … keparat, lepaskan aku!” Raka mengerutkan dahinya, mencoba menahan rasa sakit. “Ah … lepas atau kupukul kau!” Ray terkekeh sambil melepas lengan Raka. “Percuma. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memukulku.” Raka mundur selangkah, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Amarahnya seketika menciut saat melihat tatapan Ray. Ray benar, Raka tak akan pernah menang saat berduel dengannya. “Mengapa kau lakukan ini, Nak?” tanya Bibi Sarah, istri Paman Rian. Matanya yang basah menatap Ray dengan sendu. “Menjijikkan melihat sandiwara kasih sayangmu itu lagi,” kata Ray dingin, matanya menyapu kalung di leher Bibi Sarah. “Kamu benar-benar tak tahu malu, memakai kalung ibuku seolah kamu berhak memilikinya.” “Ray, kalung ini diberikan oleh—“ “Omong kosong,” potong Ray. “Jangan bawa-bawa nama ibuku.” Bibi Sarah terkesiap, wajahnya mendadak sepucat kertas. “Ray, jika kamu ingin perusahaan orang tuamu kembali, aku akan mengembalikannya sekarang ….” Paman Rian mencoba menengahi. “Mari kita keluar dari sini dulu.” “Buat apa?” Ray bertanya dengan tawa singkat yang menakutkan. “Apa kalian tidak ingat atau pura-pura lupa kalau kalian sudah mengusirku setelah perusahaan itu jadi milik kalian? Tidak ada untungnya juga bagiku mengambil perusahaan yang hampir bangkrut itu.” Ray berjalan perlahan mengitari mereka, seperti serigala yang mengitari mangsa yang sudah terpojok. “Aku tidak ingin melihat kalian mati dengan peluru atau pisau. Itu terlalu cepat,” Ray menyentuh permukaan meja yang mulai berdebu. “Kalian membunuh orang tua dan kakakku, mencuri kehangatan hidupku. Jadi, adil rasanya jika kalian mati dalam kehangatan yang aku ciptakan ini.” “Dasar gila! Kamu juga akan mati di sini, Ray!” teriak Raka frustrasi. Ray berhenti melangkah, menatap kobaran api yang mulai meruntuhkan langit-langit villa. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak tulus namun mengerikan. “Yah … aku tak menyesal karena kalian juga akan mati bersamaku,” tutupnya. Ray kembali duduk di kursinya, menyandarkan kepala seolah sedang bersiap untuk tidur siang. Ia mengabaikan jeritan, makian, dan tangis histeris yang memenuhi ruangan. Baginya, suara deru api ini jauh lebih merdu daripada musik mana pun yang pernah ia ciptakan. Normalnya, ia pasti masuk neraka setelah membunuh kerabatnya, tapi …. PLAK! Ray mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia merasa telapak tangan kanannya mati rasa, seolah telah menampar kulit seseorang dengan keras. “Apa yang terjadi?” tanya Ray pada dirinya sendiri. Selain itu, rasa panas yang membakar kulitnya hilang seketika, berganti dengan rasa dingin yang lembap dan bau menyengat dari alkohol murahan. "Aku tidak punya uang lagi. Alea membutuhkan uang untuk berobat.” Suara perempuan itu begitu parau. Terdengar seperti menangis. ‘Suara siapa ini?’ Ray bergumam dalam hati. Beberapa saat kemudian, ia berhasil membuka mata sepenuhnya. Anehnya, Ray tidak lagi berada di sebuah villa yang terbakar. Ia berada di sebuah ruangan sempit dengan lampu redup yang berkedip-kedip, hampir sekarat. Pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Seorang perempuan kurus dengan wajah pucat pasi dan rambut kusut tengah mendekap erat seorang anak kecil. Di pipi perempuan itu, tak hanya memerah, terdapat lebam kebiruan yang masih segar. Matanya menatap Ray dengan horor, seolah Ray adalah iblis yang baru saja bangkit dari neraka. "Ray, kumohon ... putri kita sedang demam tinggi," isak perempuan itu lagi. Ray terpaku. ‘Putri kita?!’ pikirnya. ‘Tunggu. Aku ... tidak mati?’ Ray membeku. “Jangan tampar aku lagi. Aku tidak punya uang,” ulang perempuan itu, suaranya serak. Tangannya gemetar saat memeluk anak kecil di dadanya. “Alea demam semalaman. Mana tanggung jawabmu sebagai orang tua Alea?!” Ray menatap mereka berdua dengan tatapan bingung, lalu melihat tangannya sendiri yang masih terangkat di udara. Ini seperti pose tangan yang akan menampar seseorang. Tapi bukan itu fokusnya. Ia memperhatikan tangannya. Kulitnya kasar, buku-buku jarinya menebal. Ia juga bisa melihat perutnya membuncit. Hanya satu yang ia pikirkan: ini bukan tubuhnya. “Apa kau dengar aku, Ray?” suara wanita itu meninggi sedikit, bercampur takut. “Tolong … jangan marah. Alea juga putrimu, dia sedang sakit. Dia membutuhkan uang untuk membeli obat.” Ray semakin tidak mengerti: mengapa dia ada di tempat ini? Mengapa tiba-tiba dia menjadi gemuk? Dan siapa mereka? ‘Apa aku sedang bermimpi?’ pikir Ray. Rasa sakit di kepala menghantamnya. Ray tak kuasa memegang keningnya. Rasa basah dan lengket di tangannya membuatnya terkesiap. “Darah?!” Rasa sakit ini menyadarkan bahwa apa yang ada di depannya bukan sekadar mimpi. Barulah ia menyadari kalau ada pecahan vas bunga di sekitar kakinya. “Apa kepalaku cidera karena vas bunga ini?” bisiknya. Tidak. Lupakan luka di kepalanya dulu. Yang terpenting adalah siapa mereka. “Kamu … siapa kamu?” tanya Ray, dahinya mengerut mencari jawaban. “Keterlaluan! Setelah apa yang kamu lakukan pada kami, kamu ingin bermain-main dengan kami!” Perempuan itu meraung, setetes air mata kembali jatuh di pipinya. Tetapi dia tetap menjawab, “aku Ghea, istrimu. Tolong jangan mempermainkanku.” “Ghea?” gumam Ray. Ghea. Anak tadi bernama Alea. Dan nama dia di sini juga Ray. Rayyan Danendra terus mengulang ketiga nama itu. Hingga di suatu titik sebuah ingatan muncul. “Tunggu … bukankah tiga nama itu muncul di novel favorit kakakku?!” Ray mendesah dan berteriak dalam hati, ‘Sial! Apa aku masuk ke dunia novel?!’Namun, tepat saat suasana mencapai puncak ketegangan yang membuat napas Ray tertahan di tenggorokan, tiba-tiba ....Ting!Suara itu terasa seperti penyelamat bagi Ray yang sudah di ujung tanduk. Ghea tersentak, gerakannya terhenti. Ia melepaskan cengkeraman pada kerah piyama Ray dan mundur perlahan, seolah baru saja tersadar dari sihir yang ia ciptakan sendiri.Ray segera mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Ia tidak peduli siapa yang menelepon atau mengirim pesan, ia hanya butuh alasan untuk pergi dari situasi aneh ini.Di layar, sebuah nama muncul: Vito.Ray mengernyit. Terakhir kali orang ini menanyakan kabarnya. Pemilik tubuh asli, 'Rayyan', tampaknya memiliki hubungan yang rumit dengan pria bernama Vito ini. Dari potongan pesan sebelumnya, Vito sering menanyakan kabar dan bahkan menawarkan bantuan uang, namun 'Rayyan' yang asli tak pernah sekali pun membalasnya. Ray sendiri sempat mengabaikannya karena takut salah ketik dan membongkar identitas aslinya.Namun kali ini, pes
"Siapa kamu?" potong Ghea cepat.Ray terperangah, mulutnya sedikit terbuka tetapi tak ada kata yang sanggup keluar. Pertanyaan Ghea barusan membuatnya tak berkutik. Lagi dan lagi perempuan itu meragukan identitasnya. Namun, sebelum Ray sempat memberikan penjelasan, Ghea tiba-tiba membuang muka dan menghela napas panjang."Lupakan," gumam Ghea pelan, suaranya mendadak lemas. "Aku mau menyiapkan makan malam. Kamu jaga Alea."Ghea berbalik, menuju ke dapur yang hanya dipisahkan oleh meja panjang. Ray hanya bisa duduk terpaku di sofa, memandangi punggung istrinya dengan perasaan campur aduk. Lega karena interogasi itu berakhir, tetapi takut karena entah mengapa ia merasa Ghea tidak benar-benar melepaskannya.***Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Hari ini Ray memutuskan untuk tidak begadang membuat musik, tetapi istirahat total. Ini ia lakukan karena instingnya berkata bahwa akan ada hal buruk jika ia masih terjaga.Hanya saja saat Ray mencoba memejamkan mata
Hai Ray, bagaimana kabarmu?Nama yang tertera di sana hanya Vito. Pesan itu dari orang itu.Penasaran, Ray mencoba men-scroll percakapan mereka ke atas. Sebelum pesan ini, ternyata orang itu pernah mengirimkan pesan dengan kalimat tanya yang sama beberapa bulan yang lalu, tetapi pemilik tubuh asli tidak membalasnya. Aneh sekali. Semakin di-scroll, Ray tahu bahwa pemilik tubuh asli ternyata tidak pernah membalas satu pun pesan dari pria bernama Vito ini.'Siapa lagi ini? Di novel aslinya, tidak ada karakter bernama Vito,' batin Ray heran.Ia mencoba mengingat-ingat plot novel yang ia baca secara lompat-lompat itu. Teman-teman Rayyan biasanya adalah sesama pemabuk atau penjudi yang hanya muncul untuk membuatnya jadi pelayan gratis, sebut saja Raka dan Arkan. Tapi Vito? Nama ini terasa asing. Dari gaya bahasanya yang singkat, kemungkinan besar ini adalah teman lama atau kenalan yang tidak terlalu akrab.Ray menghela napas panjang, jarinya menggantung di atas layar.'Malas sekali. Aku su
Ghea tetap diam. Beberapa detik kemudian mulai menyilangkan tangan. Tatapannya menyelidik. "Kok, kedengarannya kamu seperti lagi membicarakan orang lain? Bukan seperti menceritakan pengalamanmu sendiri."Deg.'Sialan! Apa aku salah ngomong?' pikir Ray.Ray berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia segera meminum air putih hanya agar tidak perlu bertatapan langsung dengan Ghea."Maksudku ... aku yang dulu itu bodoh," koreksi Ray cepat. "Tanpa sengaja aku melihat diriku yang dulu dari perspektif orang ketiga. Seolah-olah diriku yang dulu tidak ada kaitannya denganku. Padahal kalau dipikir-pikir, aku memang sebajingan itu. Makanya aku malu mengingat diriku yang dulu."Ghea tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati Ray yang masih sibuk dengan gelas air putihnya, seolah-olah air itu adalah hal paling menarik di dunia. Keheningan di meja makan itu terasa mencekam, hanya interupsi kecil dari Alea yang sibuk mengunyah makanannya yang memecah ketegangan."Begitu ya," gumam Ghea pelan. Ia
Keheningan malam di bangsal umum itu terasa menyesakkan. Bau obat-obatan bercampur dengan aroma keringat dari pasien lain yang hanya dibatasi oleh tirai kain tipis yang kusam. Di balik tirai kasur nomor empat, Ray duduk terdiam di kursi plastik, matanya tak lepas menatap Alea yang tertidur dengan
Ray terpaku. Jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan Ghea. ‘Apa dia tahu aku bukan suaminya?’ batinnya. Tetapi kecemasan itu segera sirna saat Ghea tertawa getir. "Berhenti bersikap seolah kau orang suci, Ray. Aku sudah hafal trikmu," desis Ghea sambil menarik tangannya yang baru s
Bajaj biru itu berhenti mendadak di depan rumah sakit dengan suara mesin yang menderu, menyisakan kepulan asap tipis. Ray melompat turun, tangannya merogoh saku celana dan menemukan gumpalan uang kertas yang lecek. Tanpa menghitung, ia melemparkannya ke kursi supir. "Terima kasih, Bang!" “Hei, Ma
Ghea Niskala. Layaknya gada besi yang menghantam ingatannya, nama itu membuat kening Ray berkeringat dingin. Ghea adalah tokoh utama dalam novel ‘Pembalasan Istri yang Teraniaya’. Sebuah kisah tragis tentang seorang wanita yang kehilangan putrinya akibat kelalaian sang suami, lalu bangkit dari pen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.