Ray terbangun dengan leher yang terasa kaku akibat tidur di sofa yang sempit. Ia meringis, memijat tengkuknya sembari menatap langit-langit rumah yang kusam.“Ahhh … pantas saja terasa sakit. Ternyata aku tidur di sini semalam,” gumamnya.Ray merogoh sakunya dan mengambil ponsel. Ini masih cukup pagi. Tidak biasanya ia bangun sepagi ini, baik di dunia novel maupun di dunianya sendiri. Mungkin karena ia belum terbiasa tidur di sofa sempit yang sudah usang itu. Sedikit saja bergerak terlalu kasar, ia khawatir salah satu kaki sofanya patah.Karena tidak bisa tidur lagi, Ray memutuskan untuk melangkah ke dapur. Ia mengernyit melihat betapa minimnya bahan makanan yang tersisa. Hanya ada beberapa butir telur, beras, sedikit bawang merah, bawang putih, dan sebotol kecap yang hampir habis."Yah, setidaknya ini cukup untuk nasi goreng sederhana," batinnya.Di kehidupan sebelumnya, ketika ia diusir oleh keluarga pamannya, Ray sesekali memasak. Yah … walaupun masakan sederhana. Jadi, melihat bah
Read more