Bangunan yang cukup luas.Di dalamnya ada banyak penjual yang menjual berbagai aneka ragam kebutuhan.Martin tidak melepaskan genggaman tangannya pada Serena.Mereka masih ke dalam dengan senang, apalagi Serena yang tidak berhenti tersenyum.Namun baru satu langkah masuk, Martin menatap tiga ibu-ibu yang sedang menawar pakaian.“Serena, mereka temanku,” lirih Martin.Serena mengikuti arah pandang Martin, ada tiga ibu-ibu yang sibuk berbicara dengan penjual pakaian.Serena mengernyit pelan. “Bagaimana kau bisa mengenal mereka?”“Kami bertemu di kereta dan mereka membantuku selama perjalanan,” jelas Martin.Sedangkan salah satu ibu-ibu di sana menyadari. “Itu pak si-i-o kita!” menunjuk Martin yang bersama Serena.Martin mengangkat tangannya dan tersenyum canggung. “Halo,” ucapnya.Serena memandang Martin lalu memandang ibu-ibu yang di sana.Lalu tertawa pelan. “Aneh sekali.”“Sudah ya, pokoknya 3 ini seratus ribu! Kalau tidak boleh kami pergi!” ibu Dewi yang kekeh menawar.“Baiklah-baik
Mehr lesen