LOGINSerena Jane tidak pernah menyangka. Akibat hadir ke acara reuni sekolah, dirinya malah bertemu dengan musuh bebuyutannya, Martin Raxter Benson. Pria yang merupakan pewaris utama perusahaan multinasional ternama! Yang jadi masalah, mereka malah berakhir tidur bersama, dan Martin menuntut pernikahan darinya! Apa yang harus Serena lakukan setelah ini?!
View MoreAh... Martin... Jangan…” Suara Serena terdengar memohon, tercekat di tenggorokan saat tubuhnya ditekan ke kasur. Jemarinya mencengkeram seprai, berusaha mencari pegangan di tengah sensasi nikmat yang mendera.
"Lepaskan aku..." Namun, tubuh di atasnya tidak bergerak. Sebaliknya, pria itu justru menekan lebih dekat, membuat panas tubuh mereka semakin terasa membara. Dengan tangan kiri menahan dua pergelangan Serena. Tangan kanan pria tersebut bergerilya, menelusuri setiap lekuk tubuh Serena sembari sesekali meremas pelan. Sampai akhirnya, jari pria itu menerobos masuk satu tempat terlarang. “Hnng!” Desahan tertahan itu lolos begitu saja bersamaan dengan tubuh Serena yang menegang. Berkali-kali pria itu menyerang, sampai akhirnya tubuh Serena mengejang, lalu berujung melemas dalam pelukan. Di saat itu, tawa rendah penuh kemenangan terdengar, diiringi dengan bisikan dalam yang menggoda. “Mulutmu terus menolak, tapi… tubuhmu berkata sebaliknya, Serena….” Terbaring tak berdaya di ranjang, Serena hanya bisa membatin. Beberapa waktu lalu, dia hanya sedang menghadiri reuni SMA-nya. Berdiri di antara orang-orang yang dulu mengenalnya, mencoba terlihat baik-baik saja. Jadi, kenapa sekarang dia justru berada di sini? Mendesah dan mengejang akibat terbuai kenikmatan yang diberikan musuh terbesarnya?! *Beberapa saat yang lalu *“Martin Raxter Benson digadang-gadang akan segera mewarisi The Benson Industry Group…”
Serena membaca artikel itu di ponselnya sambil bertopang dagu. Foto pria tampan itu memenuhi layar. Jas rapi, senyum tipis, hidup yang terlihat mulus tanpa celah.
Dia mendengus pelan.
“Hah… orang lain tinggal mewarisi perusahaan. Aku malah mewarisi utang.”
Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi kantornya sudah terasa pengap. Kipas angin tua berputar berisik di atas kepala, mengaduk udara panas tanpa benar-benar mendinginkan apa pun.
Ruangan ini terlalu kecil untuk disebut kantor hukum. Dari luar malah lebih mirip warung ayam goreng. Hanya ada satu meja kerja, satu kursi, dan sofa sempit untuk klien. Dan klien pun jarang datang.
Serena baru saja hampir tertidur ketika—
Tok tok.
Matanya langsung terbuka. Jantungnya ikut berdebar.
Klien?
Dia buru-buru berdiri, merapikan rambut, memasang senyum paling profesional.
Membuka pintu, Serena menyapa, “Selamat datang di—”
Kalimatnya terhenti.
Senyumnya langsung hilang.
Pak Budi.
Pria bertubuh buncit dengan map cokelat di tangan.
Penagih utang.
“Pagi, Bu Pengacara,” sapanya santai, sudah melangkah masuk tanpa izin.
“Pagi, Pak,” jawab Serena pelan dengan senyum terpaksa. “Ada yang bisa… dibantu?”
Pak Budi tersenyum, lalu melengos masuk melewati Serena. Pria itu duduk di sofa dengan santai dan seakan berkuasa, lalu melemparkan sebuah map ke atas meja.
“Rekap terbaru utang keluarga Ibu.”
Serena menarik napas panjang. Sudah dia duga pria itu datang untuk membahas utang lagi.
Tanpa banyak bicara, Serena meraih map, lalu membaca isinya. Dan saat melihat angka yang tertera, alisnya langsung berkerut.
“Lima ratus lima puluh juta?! Awalnya lima ratus kan, Pak? Saya sudah nyicil lima tahun, kenapa malah bertambah?!”
“Bunga, denda, administrasi. Semua jalan,” jawab Pak Budi enteng. “Walau Ibu bayar tiap bulan, tapi jumlahnya nggak nutup Bunga, Bu.”
Serena terdiam.
Tangannya masih memegang kertas itu, tapi pikirannya kosong. Rasanya percuma. Selama ini dia merasa sudah berusaha keras, ternyata utangnya bahkan tidak bergerak turun!
Melihat itu, Pak Budi tersenyum. “Yah, kalau Ibu mau utangnya lunas dan bukannya nambah terus, mulai minggu depan Ibu harus bayar minimal tiga puluh juta,” lanjutnya. “Kalau seperti itu, harusnya setelah satu-dua tahun, pasti lunas lah utangnya.”
Mendengar kalimat tersebut, Serena langsung mengangkat kepala dengan mata mendelik. “Tiga puluh?!”
“Biar kelihatan niat.”
“Pak, itu besar banget. Dari mana saya dapat uang segitu?!”
Pak Budi mengangkat bahu. “Ya, cari. Pinjam. Minta keluarga. Kan Ibu yang pengacara, lebih pintar dari saya yang bahkan nggak lulus SMA.”
Serena hampir tertawa.
Keluarga?
Ibunya sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ayahnya sakit-sakitan, meninggalkan pabrik bangkrut dan semua utang atas namanya. Kerabat yang dulu sering datang saat keluarganya masih berada, semuanya menghilang.
Sekarang, Serena hanya ada dirinya sendiri!
Selagi pikiran Serena berkecamuk, Pak Budi berdiri dari sofa dan melangkah ke pintu. “Kalau pembayaran Ibu telat, yang datang setelah ini bukan saya, tapi anak-anak tim saya. Dan asal Ibu tahu, mereka nggak sesabar saya. Mereka bisa duduk depan ruko, teriak-teriak, bilang Ibu pengacara penipu. Nanti klien Ibu kabur semua, dan Ibu terpaksa harus bayar dengan… cara lain.” Senyuman mesum terlukis di bibirnya.
Serena langsung menegang, tapi ekspresinya keras. “Saya akan bayar, jadi hal itu nggak akan terjadi.”
Mendengarnya, Pak Budi hanya mengangkat bahu dengan wajah meremehkan. “Ya, oke. Saya tunggu.”
Setelah pria itu pergi dan pintu kembali tertutup, tubuh Serena lemas dan dia langsung jatuh terduduk ke sofa. Matanya menatap angka di kertas itu lama.
Tiga puluh juta. Dari mana dia dapat uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?! Satu klien saja belum tentu dapat tiga juta!
Menyisir rambutnya dengan frustrasi, Serena bergumam, “Hidup seperti ini… apa gunanya?”
Tepat di saat itu, ponsel Serena bergetar. Dia menoleh ke arah layar dan melihat sebuah nama.
Bela. Sahabat baiknya.
Melihat hal tersebut, Serena menarik napas panjang, lalu menepuk kedua pipinya.
‘Serena, kau harus kuat!’
Lalu, dia mengangkat telepon dan tersenyum lebar. “Halo, sahabat kesayanganku!”
Suara Bela langsung terdengar jijik di sisi telepon yang lain. “Kenapa suaramu manis banget? Ngeri dengernya!”
Serena tersenyum tipis. “Pinjami aku uang.”
“Waw, Serena. Langsung to the point banget.”
Helaan napas lelah terlontar dari mulut Serena. “Bisa nggak?”
“Bisa… sepuluh juta cukup.”
Serena mengerjapkan mata. Dia tahu Bela akan membantu, tapi tidak menyangka sebesar itu. Baik sekali sahabatnya ini!
“Terima kas—”
Baru ingin berterima kasih, Bela tiba-tiba menyela, “Eits, tapi nggak segampang itu.”
“Hah?”
“Ada syaratnya.”
Serena menghela napas. Tentu saja.
“Apa syaratnya?” tanya Serena cepat. Dia rela melakukan apa saja demi uang ini. Kalau tidak, hidupnya akan hancur! Hanya membantu Bela, apa sulitnya, ‘kan?
“Temenin aku ke reuni sekolah!”
Mendengar itu, Serena menyesal sudah yakin lebih dulu. Dia mulai menggigit jari.
Reuni adalah salah satu acara yang paling tidak dia sukai. Menurut Serena, itu adalah acara pamer pencapaian hidup dan berusaha mencari kegunaan teman lama.
Melihat pencapaian teman-temannya jujur membuat Serena senang, tapi ketika tiba saatnya dia menceritakan pencapaiannya, apa yang bisa dia ceritakan? Utang yang semakin bertambah setiap detiknya?
Yang benar saja!
Sadar Serena ragu, Bela langsung merengek. “Serena! Ayo dong. Sekali ini aja! Cuma temenin aku ke reuni dan kau langsung dapat sepuluh juta, apa susahnya sih???”
Mendengar omongan Bela, Serena pun menatap ke arah kertas tagihan di meja. Tiga puluh juta tercetak jelas di sana, dan peringatan Pak Budi terngiang jelas dalam kepala.
Akhirnya, setelah berpikir matang, Serena pun berkata, “Oke… tapi kirim uangnya secepatnya. Aku perlu.”
“YES!” seru Bela di sisi telepon yang lain. “Aku menjemputmu nanti. Aku akan mendandani kamu. Dijamin cantik!”
Serena hanya tersenyum lelah. Dan saat ponsel dimatikan, artikel berita yang tadi dia baca terlihat. Lalu, senyuman Serena sepenuhnya menghilang, digantikan kerutan dalam di kening.
Datang ke reuni rasanya seperti menggali kuburan sendiri.
Apalagi kalau satu orang itu datang dan bertemu dengannya.
Musuh bebuyutannya.
Memikirkan itu saja sudah cukup membuat perutnya tidak nyaman.
Malas memikirkan hal yang belum tentu terjadi, Serena mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke kantong celana.
“Tidak mungkin,” gumamnya pada diri sendiri. “Orang sesibuknya mana mungkin datang ke acara reuni tidak penting seperti ini.”
Serena mencoba meyakinkan diri.
Tapi… tentu saja hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Karena ketika Serena tiba di restoran hotel bersama Bela, matanya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam dan dalam, yang dari dulu membuat pria itu disebut murid tertampan di satu sekolah.
Dan sekarang, berdiri lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya, dengan postur lurus, bahu lebar, dan jas gelap rapi, pria tersebut tampak lebih tenang dan berwibawa dari terakhir Serena mengingatnya.
Saat melihat sosok Serena, wajah pria itu, yang sejak tadi terlihat dingin dan formal saat berbicara dengan beberapa alumni lain, langsung berubah cerah.
Sudut bibirnya terangkat.
Bukan senyum sopan.
Tapi senyum mengenali.
“Serena Jane,” sapanya santai, suaranya dalam dan familiar. “Lama tidak bertemu.”
Serena menggertakkan gigi, tangannya mengepal.
Kenapa…? Kenapa musuh bebuyutannya, sang pewaris The Benson Industry Group, Martin Raxter Benson, datang ke acara reuni ini?!
Serena sejenak bisa melupakan segala permasalahannya saat makan bersama Ava dan Miko.“Bu Serena coba ini,” ucap Ava lalu menyuapi Serena dengan kue.Serena menerimanya kemudian mengunyahnya perlahan. “Hm…” lalu memberikan jempolnya sebagai tanda enak.Serena terdiam melihat seorang wanita hamil yang ditemani oleh suami.Mereka nampak serasi saat memasuki kafe, si wanita nampak begitu manja dan si pria dengan senang hati menerimanya.Lalu tanpa sadar ia mengusap perutnya sendiri.Kehadiran anak di atas semua masalah tidak membuat Serena terbebani, ia senang ada satu nyawa yang berada di dalam tubuhnya.Tetapi, ia juga berpikir bagaimana nasib anaknya ke depannya.“Bu Serena,” panggil Ava lagi karena melihat Serena melamun.“Ya?” jawab Serena kemudian mengambil minum.“Perut Bu Serena sakit? Kenapa sedari tadi memegang perut?” tanya Ava kebingungan.“Oh—” Serena kelabakan sebentar. “Aku—”“Perut Bu Serena kembung?” tanya Miko dengan mata yang melebar.“Jangan-jangan kebanyakan makan ku
Martin masuk ke ruangan paling horor di dalam kantor.Tangannya menarik kursi ke belakang. kemudian tubuhnya hampir mendarat di bantalan kursi yang empuk.“Jangan duduk, kamu tidak pantas duduk,” ucap Freddy yang akhirnya membuat Martin tidak jadi duduk.Padahal pantatnya hampir saja menyentuh bantalan kursi.Martin kembali berdiri dengan wajah dan penampilan yang berantakan.“Kenapa ingin bercerai?” tanya Freddy pada Martin.Koneksi yang dimiliki Freddy begitu luas.Dan Martin yakin ada satu orang kenalan dari orang pemerintahan yang memberitahu.Freddy melihat putranya yang kemudian membuatnya mengeluh. “Kamu jelek.”Martin memutar bola matanya malas, kemudian menunduk dan menatap dirinya sendiri.“Sekarang penampilanku bukan hal yang penting,” balas Martin.“Kalau begitu jelaskan alasannya kenapa kalian ingin bercerai?” tanya Freddy mendesak putranya.Dari wajahnya yang mulai keriput itu jelas sedang mengintrogasi putranya.Martin menghela napas pelan, dari semua hari kenapa juga D
Setelah menekan tombol kirim. Serena kemudian mengusap pipinya sendiri.Ia mendongak dan berusaha meredakan air mata yang terus keluar dari matanya.Martin menyuruhnya untuk mengirim gugatan cerai. Dan bukankah hal itu yang ia harapkan?Namun justru hal tersebutlah yang paling menyakiti hatinya.Serena menunduk, menutup wajahnya dan mulai terisak pelan.Air matanya terus berlinang sementara dadanya mulai sesak. Sulit untuk mengontrol suara tangisannya sendiri, meski Serena ingin.Serena melepaskannya dan tidak lagi mengontrol tangisannya. Ia membiarkan bibirnya meraung dan air matanya berjatuhan semakin banyak.Di sisi lain, tidak jauh berbeda. Martin baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.Bukannya tidak bisa mengirim surat gugatan cerai, tetapi Martin sendiri tidak sanggup.Ia berdiri dari duduknya kemudian memilih berbaring di atas sofa.Lalu satu tangannya berada di atas dahi. Martin memejamkan mata, sekarang tidak ada lagi yang tersisa di antara hubungan mereka.Sebentar lag
Martin masuk ke ruangan paling horor di dalam kantor.Tangannya menarik kursi ke belakang. kemudian tubuhnya hampir mendarat di bantalan kursi yang empuk.“Jangan duduk, kamu tidak pantas duduk,” ucap Freddy yang akhirnya membuat Martin tidak jadi duduk.Padahal pantatnya hampir saja menyentuh bantalan kursi.Martin kembali berdiri dengan wajah dan penampilan yang berantakan.“Kenapa ingin bercerai?” tanya Freddy pada Martin.Koneksi yang dimiliki Freddy begitu luas.Dan Martin yakin ada satu orang kenalan dari orang pemerintahan yang memberitahu.Freddy melihat putranya yang kemudian membuatnya mengeluh. “Kamu jelek.”Martin memutar bola matanya malas, kemudian menunduk dan menatap dirinya sendiri.“Sekarang penampilanku bukan hal yang penting,” balas Martin.“Kalau begitu jelaskan alasannya kenapa kalian ingin bercerai?” tanya Freddy mendesak putranya.Dari wajahnya yang mulai keriput itu jelas sedang mengintrogasi putranya.Martin menghela napas pelan, dari semua hari kenapa juga D
Waktu sarapan.Serena melirik Martin yang berada di sampingnya. kekacauan di perpustakaan mulai dibenahi oleh orang-orang suruhan Martin.“Sepertinya rak-rak di sana sudah mulai rapuh, Dad. Kamu harus menggantinya,” ucap Elara.“Memangnya apa yang terjadi? kenapa bisa sampai rubuh ada sesuatu kah?”
21++ “Martin..” rintihan Serena terdengar frustasi. Sedangkan di bawahnya, Martin sibuk membalai titik sensitifnya. Serena membusungkan dadanya, berada di belakang mobil dengan dirinya yang terbaring tidak berdaya. Lalu Martin yang berada di bawahnya dan kepala yang menghilang di balik pahanya.
21++ “Jangan gila, Martin.” Serena melebarkan mata karena tindakan gila pria itu yang membawa tangannya masuk di antara paha, dan menyentuh titik sensitif pria itu. “Aku sudah lama gila, karenamu.” Martin tersenyum miring, kemudian memiringkan kepalanya dan menarik tengkuk Serena. Serena hanya
Beberapa menit sebelum kedatangan Martin, Serena sedang asik melamun duduk di pinggir halte.Tetapi ada satu mobil yang melaju dengan sangat kencang dan berakhir dengan menerjang genangan air.Lalu menimbulkan cipratan yang begitu besar sampai mengenai tubuh Serena hingga membuatnya basah kuyup.“K






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews