Tuan Martin, Berhenti Menggodaku

Tuan Martin, Berhenti Menggodaku

last updateLast Updated : 2026-02-19
By:  IamyourhappyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
14Chapters
85views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Serena Jane adalah seorang pengacara yang memiliki kantor hukumnya sendiri, bukan firma hukum besar. Melainkan sebuah kantor hukum kecil dengan kedatangan klien yang tidak menentu. Ditinggali hutang segudang oleh orang tuanya, sehingga membuat hidup Serena dikejar rentenir. Dikala keputusasaannya Serena terpaksa hadir ke acara reuni sekolah dan membuatnya bertemu dengan musuh bebuyutannya, Martin Raxter Benson yang merupakan pewaris utama The Benson Industry Group. Martin, pria tampan dengan segudang kekayaan itu datang ke hidup Serena lalu menawarkan pernikahan. Apakah Serena akan menerima tawaran itu? lalu menjalani hidupnya satu atap bersama musuh bebuyutannya?

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Martin Raxter Benson digadang-gadang akan segera mewarisi The Benson Industry Group…”

Serena membaca artikel itu di ponselnya sambil bertopang dagu. Foto pria tampan itu memenuhi layar. Jas rapi, senyum tipis, hidup yang terlihat mulus tanpa celah.

Dia mendengus pelan.

“Hah… orang lain tinggal mewarisi perusahaan. Aku malah mewarisi utang.”

Jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi kantornya sudah terasa pengap. Kipas angin tua berputar berisik di atas kepala, mengaduk udara panas tanpa benar-benar mendinginkan apa pun.

Ruangan ini terlalu kecil untuk disebut kantor hukum. Dari luar malah lebih mirip warung ayam goreng. Hanya ada satu meja kerja, satu kursi, dan sofa sempit untuk klien. Dan klien pun jarang datang.

Serena baru saja hampir tertidur ketika—

Tok tok.

Matanya langsung terbuka. Jantungnya ikut berdebar.

Klien?

Dia buru-buru berdiri, merapikan rambut, memasang senyum paling profesional.

Membuka pintu, Serena menyapa, “Selamat datang di—”

Kalimatnya terhenti.

Senyumnya langsung hilang.

Pak Budi.

Pria bertubuh buncit dengan map cokelat di tangan.

Penagih utang.

“Pagi, Bu Pengacara,” sapanya santai, sudah melangkah masuk tanpa izin.

“Pagi, Pak,” jawab Serena pelan dengan senyum terpaksa. “Ada yang bisa… dibantu?”

Pak Budi tersenyum, lalu melengos masuk melewati Serena. Pria itu duduk di sofa dengan santai dan seakan berkuasa, lalu melemparkan sebuah map ke atas meja.

“Rekap terbaru utang keluarga Ibu.”

Serena menarik napas panjang. Sudah dia duga pria itu datang untuk membahas utang lagi.

Tanpa banyak bicara, Serena meraih map, lalu membaca isinya. Dan saat melihat angka yang tertera, alisnya langsung berkerut.

“Lima ratus lima puluh juta?! Awalnya lima ratus kan, Pak? Saya sudah nyicil lima tahun, kenapa malah bertambah?!”

“Bunga, denda, administrasi. Semua jalan,” jawab Pak Budi enteng. “Walau Ibu bayar tiap bulan, tapi jumlahnya nggak nutup Bunga, Bu.”

Serena terdiam.

Tangannya masih memegang kertas itu, tapi pikirannya kosong. Rasanya percuma. Selama ini dia merasa sudah berusaha keras, ternyata utangnya bahkan tidak bergerak turun!

Melihat itu, Pak Budi tersenyum. “Yah, kalau Ibu mau utangnya lunas dan bukannya nambah terus, mulai minggu depan Ibu harus bayar minimal tiga puluh juta,” lanjutnya. “Kalau seperti itu, harusnya setelah satu-dua tahun, pasti lunas lah utangnya.”

Mendengar kalimat tersebut, Serena langsung mengangkat kepala dengan mata mendelik. “Tiga puluh?!”

“Biar kelihatan niat.”

“Pak, itu besar banget. Dari mana saya dapat uang segitu?!”

Pak Budi mengangkat bahu. “Ya, cari. Pinjam. Minta keluarga. Kan Ibu yang pengacara, lebih pintar dari saya yang bahkan nggak lulus SMA.”

Serena hampir tertawa.

Keluarga?

Ibunya sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ayahnya sakit-sakitan, meninggalkan pabrik bangkrut dan semua utang atas namanya. Kerabat yang dulu sering datang saat keluarganya masih berada, semuanya menghilang.

Sekarang, Serena hanya ada dirinya sendiri!

Selagi pikiran Serena berkecamuk, Pak Budi berdiri dari sofa dan melangkah ke pintu. “Kalau pembayaran Ibu telat, yang datang setelah ini bukan saya, tapi anak-anak tim saya. Dan asal Ibu tahu, mereka nggak sesabar saya. Mereka bisa duduk depan ruko, teriak-teriak, bilang Ibu pengacara penipu. Nanti klien Ibu kabur semua, dan Ibu terpaksa harus bayar dengan… cara lain.” Senyuman mesum terlukis di bibirnya.

Serena langsung menegang, tapi ekspresinya keras. “Saya akan bayar, jadi hal itu nggak akan terjadi.”

Mendengarnya, Pak Budi hanya mengangkat bahu dengan wajah meremehkan. “Ya, oke. Saya tunggu.”

Setelah pria itu pergi dan pintu kembali tertutup, tubuh Serena lemas dan dia langsung jatuh terduduk ke sofa. Matanya menatap angka di kertas itu lama.

Tiga puluh juta. Dari mana dia dapat uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu?! Satu klien saja belum tentu dapat tiga juta!

Menyisir rambutnya dengan frustrasi, Serena bergumam, “Hidup seperti ini… apa gunanya?”

Tepat di saat itu, ponsel Serena bergetar. Dia menoleh ke arah layar dan melihat sebuah nama.

Bela. Sahabat baiknya.

Melihat hal tersebut, Serena menarik napas panjang, lalu menepuk kedua pipinya.

‘Serena, kau harus kuat!’

Lalu, dia mengangkat telepon dan tersenyum lebar. “Halo, sahabat kesayanganku!”

Suara Bela langsung terdengar jijik di sisi telepon yang lain. “Kenapa suaramu manis banget? Ngeri dengernya!”

Serena tersenyum tipis. “Pinjami aku uang.”

“Waw, Serena. Langsung to the point banget.”

Helaan napas lelah terlontar dari mulut Serena. “Bisa nggak?”

“Bisa… sepuluh juta cukup.”

Serena mengerjapkan mata. Dia tahu Bela akan membantu, tapi tidak menyangka sebesar itu. Baik sekali sahabatnya ini!

“Terima kas—”

Baru ingin berterima kasih, Bela tiba-tiba menyela, “Eits, tapi nggak segampang itu.”

“Hah?”

“Ada syaratnya.”

Serena menghela napas. Tentu saja.

“Apa syaratnya?” tanya Serena cepat. Dia rela melakukan apa saja demi uang ini. Kalau tidak, hidupnya akan hancur! Hanya membantu Bela, apa sulitnya, ‘kan?

“Temenin aku ke reuni sekolah!”

Mendengar itu, Serena menyesal sudah yakin lebih dulu. Dia mulai menggigit jari.

Reuni adalah salah satu acara yang paling tidak dia sukai. Menurut Serena, itu adalah acara pamer pencapaian hidup dan berusaha mencari kegunaan teman lama.

Melihat pencapaian teman-temannya jujur membuat Serena senang, tapi ketika tiba saatnya dia menceritakan pencapaiannya, apa yang bisa dia ceritakan? Utang yang semakin bertambah setiap detiknya?

Yang benar saja!

Sadar Serena ragu, Bela langsung merengek. “Serena! Ayo dong. Sekali ini aja! Cuma temenin aku ke reuni dan kau langsung dapat sepuluh juta, apa susahnya sih???”

Mendengar omongan Bela, Serena pun menatap ke arah kertas tagihan di meja. Tiga puluh juta tercetak jelas di sana, dan peringatan Pak Budi terngiang jelas dalam kepala.

Akhirnya, setelah berpikir matang, Serena pun berkata, “Oke… tapi kirim uangnya secepatnya. Aku perlu.”

“YES!” seru Bela di sisi telepon yang lain. “Aku menjemputmu nanti. Aku akan mendandani kamu. Dijamin cantik!”

Serena hanya tersenyum lelah. Dan saat ponsel dimatikan, artikel berita yang tadi dia baca terlihat. Lalu, senyuman Serena sepenuhnya menghilang, digantikan kerutan dalam di kening.

Datang ke reuni rasanya seperti menggali kuburan sendiri.

Apalagi kalau satu orang itu datang dan bertemu dengannya.

Musuh bebuyutannya.

Memikirkan itu saja sudah cukup membuat perutnya tidak nyaman.

Malas memikirkan hal yang belum tentu terjadi, Serena mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke kantong celana.

“Tidak mungkin,” gumamnya pada diri sendiri. “Orang sesibuknya mana mungkin datang ke acara reuni tidak penting seperti ini.”

Serena mencoba meyakinkan diri.

Tapi… tentu saja hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Karena ketika Serena tiba di restoran hotel bersama Bela, matanya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam dan dalam, yang dari dulu membuat pria itu disebut murid tertampan di satu sekolah.

Dan sekarang, berdiri lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya, dengan postur lurus, bahu lebar, dan jas gelap rapi, pria tersebut tampak lebih tenang dan berwibawa dari terakhir Serena mengingatnya.

Saat melihat sosok Serena, wajah pria itu, yang sejak tadi terlihat dingin dan formal saat berbicara dengan beberapa alumni lain, langsung berubah cerah.

Sudut bibirnya terangkat.

Bukan senyum sopan.

Tapi senyum mengenali.

“Serena Jane,” sapanya santai, suaranya dalam dan familiar. “Lama tidak bertemu.”

Serena menggertakkan gigi, tangannya mengepal.

Kenapa…? Kenapa musuh bebuyutannya, sang pewaris The Benson Industry Group, Martin Raxter Benson, datang ke acara reuni ini?!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
14 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status