Allard mengalah dan meninggalkan kamar Alice setelah wanita itu melontarkan ancamannya. Meskipun Allard tidak takut pada ancaman itu, tetapi ia tahu Alice bisa nekat kapan saja, dan Allard tidak akan membiarkan Alice pergi dari hidupnya. "Aaarrgghh, sial!" umpat Allard, menggebrak kedua tangannya di atas meja kerjanya. Kedua matanya terpejam erat, tersirat dalam ingatannya guratan raut wajah Alice yang menatap berang padanya beberapa menit yang lalu. “Apa… yang harus kulakukan?" lirih Allard dengan dada sesak. Allard selalu ingin meluapkan amarahnya tiap kali Alice melawan dan membangkangnya. Namun, begitu langsung berhadapan dengan wanita itu, Allard tidak bisa meluapkan kekesalannya. Bahkan emosi apa yang kini merasuk dalam dirinya, Allard tidak tahu. Hanya saja, ia tidak senang bila Alice mendiaminya, menjaga jarak darinya, dan membenci sentuhan tangannya barang sedikitpun. Allard membenci itu."Sampai kau berani pergi dari tempat ini, aku tidak akan memaafkanmu, Alice...." K
Huling Na-update : 2026-04-15 Magbasa pa