Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai

Duchess Alice, Tuan Duke Tak Ingin Bercerai

last updateLast Updated : 2026-02-10
By:  Te AnastasiaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Pernikahan ini adalah hukuman bagimu yang datang dalam hidupku dan dengan lancang menggantikan posisi mendiang istriku!" Selama lima tahun, Alice Alexandria terkurung dalam pernikahan yang penuh penderitaan. Menjadi istri seorang Duke Allard Von Stein, pria dingin berstatus duda yang memiliki satu putra. Alice hanyalah seorang istri yang Allard paksa hidup di bawah bayangan-bayang mendiang istrinya. Semenjak kedatangan adik perempuan dari mantan mendiang istri pertama Allard, Alice semakin tersisih dan keberadaannya semakin tidak dianggap oleh suami dan putranya. Merasa tidak sanggup menahan kepahitan pernikahanya, Alice mengajukan permintaan perceraian pada suaminya. Namun, Allard menolak tegas permintaan cerai dari Alice. Akan tetapi, Alice tidak menyerah untuk melepaskan diri dari suaminya!

View More

Chapter 1

Bab 1. Permintaan Cerai Duchess Alice

“Aku ingin bercerai, Tuan Duke.”

Alice Alexandria, wanita berusia dua puluh lima tahun yang menyandang gelar Duchess of Raszberg setelah menikah dengan Duke Allard Von Stein, berdiri tegak dengan penuh tekad di hadapan suaminya. Balutan crinoline dress berenda panjang berwarna biru muda mempertegas sosoknya yang anggun, meski hatinya telah lama remuk.

Tatapannya dingin. Tak tersisa lagi rasa cinta dan kekaguman yang selama lima tahun pernikahan selalu ia persembahkan pada sang Duke.

“Bercerai?” Allard terkekeh singkat, mengejek. Rahangnya mengeras, alis tebalnya menukik tajam saat menatap Alice, seolah wanita itu baru saja melontarkan lelucon murahan. “Sejak kapan kau punya keberanian untuk menuntut sesuatu dariku?”

Kemunculan Alice yang memaksa masuk ke ruangan pribadi Duke Allard telah merusak momen hangat kebersamaan sang Duke dengan seorang wanita muda dan seorang anak laki-laki.

Wanita itu adalah Lady Luciana Clementine, adik ipar dari mendiang istri pertamanya. Sementara anak laki-laki yang duduk di sampingnya adalah Tuan Muda Xander Von Stein, putra tunggal Allard.

Dua orang yang selalu menjadi pusat dunia sang Duke.

Alice sudah terlalu lama menutup mata terhadap kenyataan bahwa suaminya tak pernah benar-benar menganggapnya ada.

Di ruangan ini, dirinya hanyalah orang ketiga.

Lantas, untuk apa ia terus bertahan?

“Selama ini aku tak pernah bisa menjadi istri seperti yang kau inginkan, seperti mendiang Duchess Rhiana,” ucap Alice lirih. “Bukankah kehadiranku juga tak pernah berarti apa-apa bagimu?”

Alice mengepalkan kedua tangannya, berusaha tetap terlihat tegar meski dadanya terasa sesak tak tertahankan. Ia menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata agar tak jatuh membasahi pipinya.

Allard mendengus sinis. “Setidaknya kau sadar diri.”

Alice tidak terkejut mendengarnya. “Karena itu, berpisah adalah pilihan terbaik,” ujarnya, mengabaikan cemoohan pria itu. “Dengan begitu, kau bisa bersama wanita yang kau cintai.”

Selama lima tahun pernikahan, tak satu hari pun Duke Allard benar-benar memandang atau menganggap keberadaan Alice. Pernikahan mereka semata-mata terjadi karena perjodohan demi memenuhi wasiat sang kakek.

Alice bertahan dalam penderitaan, menjalani peran sebagai istri bayangan dan juga pengasuh untuk Xander yang kini berusia lima tahun.

Anak itu dirawat Alice sejak bayi dengan sepenuh hati, seperti anak kandungnya sendiri. Namun sebesar apa pun pengorbanannya demi menjadi ibu tiri yang baik dan istri yang sempurna, ia tak pernah benar-benar dihargai.

Allard justru mencurahkan seluruh perhatiannya pada sang putra dan adik perempuan mendiang istrinya.

Sejak kehadiran Luciana, kehidupan Alice berubah drastis. Segala hal yang dulu masih bisa ia genggam, perlahan lepas dan menjauh. Termasuk suami dan anak tirinya.

“Berhentilah bersandiwara, Alice. Kau membuatku muak!” sentak Allard, membuat suasana semakin tegang.

Alice menggeleng pelan. “Tidak. Aku serius, Allard. Aku tak ingin lagi menjadi istrimu,” ujarnya teguh.

Mata birunya yang indah berkaca-kaca saat ia melirik ke arah Xander yang kini memeluk bibinya dengan erat.

“Sekarang Xander juga sudah memiliki seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Dan orang itu bukan aku.”

Luciana tampak terkejut mendengar itu. Matanya membesar, bibirnya bergetar seolah menahan luka. Dengan langkah ragu, ia mendekati Alice.

“Nyonya Alice, tolong jangan salah paham,” ucapnya lembut. “Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari Anda. Saya hanya ingin menjaga keponakan saya.”

Ucapannya terdengar tulus. Namun tangan Luciana dengan sengaja meraih Xander dan menariknya lebih dekat ke dalam pelukannya, seolah Alice adalah ancaman.

“Bibi Luci…” Xander mendongak, menatap Luciana dengan mata berkaca-kaca. “Jangan sedih.”

Luciana menundukkan kepala, ia tersenyum sedih saat mengelus puncak kepala anak itu. “Tidak apa-apa, Sayang. Bibi hanya tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran orang tuamu.”

Gadis itu kemudian menatap Alice dan Allard bergantian. Sepasang matanya memerah menahan tangis. “Saya mohon maaf jika kehadiran saya menimbulkan kesalahpahaman di antara kalian. Saya bisa segera pergi dari sini.”

“Kau tidak perlu pergi ke mana pun, Luciana,” sela Allard dengan cepat.

Hati Alice seakan ditusuk ribuan jarum saat mendengar suaminya mempertahankan keberadaan gadis itu di rumah mereka.

Ia sudah menduga, Allard tak akan pernah membiarkan Luciana pergi.

“Dan kau, Alice… Kau pikir dengan drama murahan ini aku akan melepaskanmu? Jangan bermimpi!” desis Allard dengan bibir menipis menahan amarah.

“Aku tidak pernah meminta apapun, Allard. Aku hanya ingin bercerai,” Alice membela diri, karena ia benar-benar sudah berada di batas kesabaran.

Melihat kesungguhan di wajah pilu istrinya, kemarahan Allard justru semakin memuncak.

Pria itu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Alice, menatapnya dengan kebencian yang tak ia sembunyikan. Rahang tegasnya mengeras.

“Dengar baik-baik. Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikanmu,” desis Allard dingin. “Ini adalah hukuman bagimu karena telah datang dalam hidupku dan dengan lancang menggantikan posisi mendiang istriku!”

Usai mengucapkan itu, Allard berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Alice tanpa sepatah kata tambahan.

Air mata Alice akhirnya mengalir. Ia tertunduk, menyembunyikan tangisnya. Kata-kata Allard terasa seperti kutukan penuh kebencian yang mencabik-cabik hatinya.

Luciana menatapnya dengan sorot mata iba.

Xander melepaskan diri dari pelukan bibinya dan melangkah mendekat. Wajah anak itu penuh kemarahan yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya. Anak yang dulu begitu manis kini berubah menjadi sosok monster kecil yang memusuhinya.

“Ibu bukan lagi ibuku!” teriaknya tajam. “Aku tidak mau punya ibu sepertimu! Aku sudah punya Bibi Luciana yang jauh lebih baik!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status