Masuk"Pernikahan ini adalah hukuman bagimu yang datang dalam hidupku dan dengan lancang menggantikan posisi mendiang istriku!" Selama lima tahun, Alice Alexandria terkurung dalam pernikahan yang penuh penderitaan. Menjadi istri seorang Duke Allard Von Stein, pria dingin berstatus duda yang memiliki satu putra. Alice hanyalah seorang istri yang Allard paksa hidup di bawah bayangan-bayang mendiang istrinya. Semenjak kedatangan adik perempuan dari mantan mendiang istri pertama Allard, Alice semakin tersisih dan keberadaannya semakin tidak dianggap oleh suami dan putranya. Merasa tidak sanggup menahan kepahitan pernikahanya, Alice mengajukan permintaan perceraian pada suaminya. Namun, Allard menolak tegas permintaan cerai dari Alice. Akan tetapi, Alice tidak menyerah untuk melepaskan diri dari suaminya!
Lihat lebih banyak"Allard, aku sangat takut ... aku sangat takut kau pergi meninggalkan aku, Allard...." Alice menangis memeluk suaminya. Wanita itu tidak bisa menahan untuk tidak menangis tergugu menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Allard. Di tengah udara yang sangat dingin, Alice berada di hutan di tengah kehamilannya yang besar untuk mencari suaminya. Allard merasa terharu, sekaligus tidak tega dan kaget atas apa yang Alice lakukan di sini demi dirinya. "Aku tidak apa-apa, Sayang," bisik Allard, ia menunduk menangkup kedua pipi Alice dan menatap sepasang mata sembab istrinya. "Allard...." Sambil terisak, Alice mengulurkan tangannya menyentuh kening Allard yang terluka. "Mengapa kau ada di sini, Sayang? Tempat ini berbahaya untukmu. Kau sedang hamil, Alice...." Allard menoleh pada Arshen yang masih memakai mentelnya. "Berikan mantelmu!" Mau tak mau Arshen melepaskannya dan pria itu melepaskan mentel setengah basah yang Alice pakai, lalu menggantikan dengan milik Arshen. "Ayo kita pulang," b
Kereta kuda yang Alice tumpangi kini dihadang oleh prajurit saat mereka tiba di dekat lokasi longsor. "Tuan Count, prajurit menghadang di depan," ujar kusir menghampiri Alastair. Mendengar hal itu, Alice menatap Alastair dengan tatapan bingung. Alastair mengangguk padanya. "Aku akan keluar, kau tetaplah di sini dulu." Alice mengangguk patuh. Alastair segera membuka pintu kereta kuda dan turun. Semua prajurit dan ksatria menatap ke arahnya. Alastair melihat kereta kuda hancur di timbun baru dan salju, namun semua kuda tidak ada satu pun. Alastair yakin kalau Allard dan rombongan lainnya pergi sebelum kereta itu tertimpa longsor. "Pergi cari Tuan Duke ke seluruh hutan ini!" perintah Alastair pada semua prajurit. "Baik, Yang Mulia." Alastair segera kembali ke kereta kuda. Di sana, ia meminta Alice untuk turun dan melihat apa yang terjadi. Saat Alice turun, beberapa orang menatapnya tak percaya. "Nyonya Duchess!" Alice melihat sekitar, di tengah hutan yang gelap, ia berjalan di
"Duchess, lebih baik Anda menunggu di rumah saja ... Anda jangan ke sana!" Madam Paloma menahan lengan Alice saat wanita itu bersikeras ingin pergi ke tempat Allard kecelakaan. Sambil menangis, Alice menepis tangan Madam Paloma. Ia bahkan tidak peduli dengan segala konsekuensi. "Aku akan ikut, aku ingin mencari suamiku...." Alice menangis berjalan cepat ke depan. "Yang Mulia Nyonya...." Lisa pun ikut mengejarnya. Sesampainya di halaman depan istana utama, semua orang di sana menatap Alice yang berjalan cepat ke arah kereta para pengawal yang akan pergi ke wilayah hutan menuju Luinzla. Ratu Caroline dan Raja Ronan yang berada di sana pun langsung kaget melihat Alice. "Alice, Nak ... kau mau ke mana? Jangan ikut, biarkan mereka mencari suamimu. Cuaca sedang sangat buruk, Nak...." Ratu Caroline memeluk Alice dengan erat sambil menangis penuh kesedihan. "Aku ingin mencari Allard, Bu. Tolong lepaskan aku," isak tangis Alice semakin menjadi. "Jangan, Alice. Kau sedang hamil besar,
Dalam perjalanan ke desa seberang di cuaca dingin, perjalanan tidak semulus yang Allard bayangkan. Hujan salju dan angin kencang menghambat perjalanan rombongan kereta kuda kerajaan yang membawa beberapa orang-orang penting di dalamnya. "Yang Mulia, angin semakin kencang di depan, kita juga tidak mungkin beristirahat di sini ... karena pepohonan tinggi seperti ke sana kemari disambar angin." Arshen mengatakan hal itu pada Allard saat kereta kuda berhenti. Allard pun turun, dua kereta kuda di belakangnya dan satu di depannya pun juga ikut berhenti. "Seberapa jauh untuk tiba di Luinzla?" tanya Allard pada Tuan Peine—sang kusir. "Kurang lebih lima sampai enam jam lagi, tuanku. Paling tidak kita harus menemukan tempat aman lebih dulu," ujar pria itu sambil menatap ke arah sekitar yang gelap karena badai. "Situasi ini sangat membahayakan," ujar Steward Fjord. "Kita harus kembali berjalan!" seru Allard pada mereka semua. "Benar, kita harus keluar dari hutan ini dulu untuk keselamat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak