Dia bergerak sebelum aku sempat menarik napas.Satu saat masih ada jarak di antara kami, adat, perbatasan, takdir …dan di detik berikutnya, tangannya telah mencengkeram pergelangan aku dengan kekuatan yang mengejutkan kami berdua."Kita pergi," kata Anto.Bukan sebuah permintaan. Bukan sebuah rencana. Sebuah perintah yang lahir dari naluri, tajam dan tanpa pertimbangan, seperti komando di medan perang ketika keraguan berarti kematian.Aku terhuyung setengah langkah ke arahnya. Para penjaga bergerak. Pedang berdesis keluar dari sarungnya.Aku mendongak menatapnya dengan terkejut, bukan oleh nyeri di pergelangan aku, melainkan oleh kemarahan di matanya. Pengekangan telah lenyap, begitu pula disiplin yang selalu menjadi sifatnya. Ini bukan jenderal yang menimbang akibat.Ini adalah seorang pria yang telah mencapai batas dirinya."Sekarang," katanya lagi, suaranya lebih rendah lagi kali ini. "Sebelum tempat ini menghancurkanmu."Untuk sesaat, aku ingin pergi. Astaga, aku ingin menuntu
Read more