Share

Bab 2

Auteur: Celebrant
Keesokan harinya, aku berpakaian sederhana dan melangkah keluar dari kamar aku .…

Akhirnya malah didorong kembali hingga punggung aku menghantam dinding batu.

“Kenapa kau begitu kejam,” tanyanya dengan suara yang serak.

“Kau memaksa Raja mengirim Larissa ke Kerajaan Utara?”

Rasa sakit menusuk bahu aku ketika cengkeramannya mengeras.

Lisrita, pembantu aku, bergegas maju dengan wajah panik, tetapi pria itu hanya meliriknya sekilas.

“Keluar.”

Tubuh Lisrita menegang, lalu ia berlari pergi.

Bau alkohol tercium sangat kuat dari dirinya.

Jelas dia tidak tidur semalaman.

“Apa kau sangat ingin dia mati?” geramnya.

“Inikah tujuanmu?”

“Anto … lepaskan aku,” ujar aku dengan gigi terkatup.

Sebaliknya, jari-jarinya justru mencengkeram lebih keras.

“Inikah diri kamu yang sebenarnya?” ujarnya.

“Iri hati, begitu kejam, rela mengorbankan saudaramu hanya untuk mendapatkan apa yang kau inginkan?”

Ia mendekat, suaranya rendah dan penuh racun.

“Apa kau benar-benar berpikir bahwa dengan memohon perkawinan kerajaan, aku akan tunduk pada kamu?”

Tubuh aku menegang.

Kemarahan di wajahnya ….

Kebencian yang mentah dan sama sekali tidak ditutupi .…

Tak berbeda dengan pria yang pernah aku hadapi di kehidupan sebelumnya, ketika kami berdiri di sisi berlawanan.

Suara tamparan menggema keras.

Aku menamparnya.

“Jenderal Anto,” ujar aku dengan nada yang dingin,

“Ingatlah siapa yang ada di depanmu.”

Leher aku terasa perih di tempat jari-jarinya meninggalkan bekas merah.

Aku menekan tangan ke bahu aku, dengan bernapas berat.

Tamparan itu tampaknya menyadarkannya.

Pandangannya jatuh … ke kulit aku yang mulai membiru, ke bekas yang ia tinggalkan sendiri.

Tenggorokannya bergerak.

Untuk sesaat, penyesalan melintas di matanya.

“… Maaf,” katanya dengan pelan.

“Aku mabuk.”

Aku berbalik badan dan membelakangi dia.

“Perkawinan perbatasan adalah urusan negara,” ujar aku.

“Raja sudah memutuskan. Hasilnya akan persis seperti yang kau inginkan.”

Kata-kata terakhir itu melukai lidah aku saat aku ucapkan.

Di belakang aku, ia tertawa pahit.

“Dengan kau masih di sini ....” katanya.

“Masa depan apa yang mungkin dimiliki Larissa?”

Aku berbalik badan … namun dia sudah pergi.

Tangan aku mengepal erat di balik lengan baju aku.

‘Jangan khawatir, Anto,' pikirku.

Kali ini, aku tidak akan mengganggu kamu.

Kurang dari satu jam kemudian, seorang pelayan datang membawa sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya terdapat salep, yaitu salep medan perang, yang biasa digunakan para prajurit untuk menghentikan pendarahan.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku tahu perhatian ini tidak lahir dari cinta.

Ia dibesarkan di rumah ibu aku setelah Keluarga Pratama nyaris musnah dalam pengabdian mereka kepada kerajaan.

Bagi dia, aku hanyalah saudara perempuan karena keadaan tak terduga saja.

Hanya aku yang keliru menafsirkan kewajiban itu sebagai sesuatu yang lebih … seumur hidupku.

Aku menutup kotak itu.

Aku bisa mengatakan kebenaran padanya.

Aku bisa menghentikan kemarahannya, mengakhiri dendamnya, menyelamatkan kami berdua dari kepahitan ini.

Namun aku tidak melakukannya.

Sebagian dari diri aku keras kepala.

Bahkan dangkal.

Jika ia tetap akan menuduh aku, maka lebih baik ia tetap marah sedikit lebih lama.

Tiga hari.

Dalam tiga hari, utusan dari Kerajaan Utara akan tiba.

Dalam tiga hari, pengantin akan diumumkan.

Dan kemudian … dia akan tahu.

Aku meyakinkan diri aku sendiri bahwa aku telah melepaskannya.

Bahwa aku memilih jalan ini dengan kepala jernih, tanpa ragu dan tanpa penyesalan.

Namun malam itu, terjaga sambil menatap kegelapan, aku akhirnya mengerti … bahkan setelah memutuskan untuk meninggalkannya, sebagian dari diri aku masih menunggu dia.

Bukan untuk cintanya.

Bukan untuk permintaan maafnya.

Melainkan untuk saat ketika ia akhirnya mengetahui kebenaran … dan untuk ekspresi apa pun yang akan melintas di wajahnya saat itu.

Apakah ia akan merasa lega, meyakini ini adalah akhir yang terbaik ... bahwa Larissa akan selamat, bahwa ia akhirnya bisa melindungi orang yang ia pikir ia cintai?

Atau yang muncul justru penyesalan … atas hari-hari ketika ia melampiaskan amarahnya pada aku, atas tuduhan yang dilontarkan tanpa belas kasihan, atas sikap dingin yang tak pernah ia pertanyakan?

Aku tidak tahu mana yang akan lebih menyakitkan.

Aku hanya tahu bahwa setiap kali membayangkan keduanya, ada rasa perih yang sunyi, yang tak mampu aku padamkan.

Aku kembali berkata pada diri aku bahwa ini tidak lagi penting.

Bahwa kebahagiaan maupun penyesalannya … tak lagi menjadi beban aku.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 8

    Dia bergerak sebelum aku sempat menarik napas.Satu saat masih ada jarak di antara kami, adat, perbatasan, takdir …dan di detik berikutnya, tangannya telah mencengkeram pergelangan aku dengan kekuatan yang mengejutkan kami berdua."Kita pergi," kata Anto.Bukan sebuah permintaan. Bukan sebuah rencana. Sebuah perintah yang lahir dari naluri, tajam dan tanpa pertimbangan, seperti komando di medan perang ketika keraguan berarti kematian.Aku terhuyung setengah langkah ke arahnya. Para penjaga bergerak. Pedang berdesis keluar dari sarungnya.Aku mendongak menatapnya dengan terkejut, bukan oleh nyeri di pergelangan aku, melainkan oleh kemarahan di matanya. Pengekangan telah lenyap, begitu pula disiplin yang selalu menjadi sifatnya. Ini bukan jenderal yang menimbang akibat.Ini adalah seorang pria yang telah mencapai batas dirinya."Sekarang," katanya lagi, suaranya lebih rendah lagi kali ini. "Sebelum tempat ini menghancurkanmu."Untuk sesaat, aku ingin pergi. Astaga, aku ingin menuntu

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 7

    Sudut Pandang Lamitta.Aku telah berhenti mengharapkan penyelamatan. Itu mungkin saja malah jadi hal yang paling berbahaya.Kerajaan Utara memberikan pelajarannya dengan cepat. Lebih baik diam dan tanpa protes, akan lebih aman begitu. Pada hari ketiga, salah satu wanita yang ditugaskan pada aku menarik lengan aku terlalu keras saat mengenakan pakaian istana, dan aku tidak sempat menghindar. Kainnya robek. Pedang pun datang setelahnya dengan cepat dan sembarangan, bertujuan semata-mata untuk mengingatkan aku tentang posisi aku.Darah mengering gelap di atas wol pucat. Tidak ada yang meminta maaf. Aku pun tidak memintanya.Pada malam keempat, aku akhirnya memahami apa yang harus dihadapi Larissa di kehidupan lain, pengujian tanpa henti, kekejaman yang disamarkan sebagai adat, penantian panjang untuk melihat kapan pengantin Kerajaan Selatan akhirnya runtuh.Aku tidak akan runtuh. Jika ini adalah harga perdamaian, maka aku akan membayarnya sambil tetap berdiri tegak.Itulah sebabnya, k

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 6

    Sudut Pandang Anto.Jalan menuju Kerajaan Utara terbentang di bawah kuku kuda aku, jarak demi jarak tanah beku menghancurkan ilusi terakhir bahwa aku masih memiliki waktu.Aku pernah melihat akhir seperti ini sebelumnya. Di kehidupan terakhir, Larissa-lah yang pergi ke Kerajaan Utara, dengan gemetar, menangis, berpegangan pada setiap perpisahan seolah itu adalah tali penyelamat. Ia pernah sekali menulis surat, lalu tidak pernah lagi. Setahun kemudian, kabar tiba di ibu kota: istri Kerajaan Utara itu bunuh diri. Istana berkabung sebentar. Aku mengatakan pada diri aku sendiri bahwa ini tak terhindarkan. Aku pun mengatakan bahwa aku telah melakukan apa yang dituntut oleh kewajiban.Namun aku salah.Kali ini, Lamitta yang pergi. Wanita yang keluar sendirian melewati gerbang tanpa air mata, tanpa cela, bahkan tanpa menoleh kembali ke kota yang telah mengorbankannya ....Dan justru itulah yang paling buat aku takut.Pada malam ketiga, aku mulai mendengarnya di mana-mana, kebenaran yang sel

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 5

    Wajah yang familier di balik kerudung itu menghantamnya seperti tamparan keras.“Larissa!”Larissa melompat dan memeluknya, mencengkeram dada Anto seolah tanah di bawah kakinya telah runtuh.“Bagaimana … bagaimana bisa kau di sini?” tanyanya dengan suara yang serak.Begitu kata-kata itu terucap, pikiran yang dingin dan tajam mulai terbentuk di benaknya.Pandangan Larissa melirik ke arah lain. Suaranya melunak, dibalut kegelisahan dan sesuatu yang disembunyikannya dengan hati-hati.“Aku … aku tidak tahu,” katanya. “Kemarin surat keputusan kerajaan diubah. Mereka berkata … Lamitta yang akan dikirim ke Kerajaan Utara menggantikan aku.”Suasana aula itu seolah berputar.“Apa kau bilang?”Anto mencengkeram pundaknya, jari-jarinya menekan cukup keras hingga meninggalkan bekas memar. “Jika dia pergi ke Kerajaan Utara … maka wanita yang keluar sendirian melewati gerbang itu ….”“Larissa.” Seseorang memanggil dengan nada mendesak dari luar. “Jenderal, kau mau ke mana?”Anto melepaskannya sea

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 4

    Anto berdiri di luar kamar aku selama sehari semalam penuh. Aku tidak pernah membuka pintu.Pada malam sebelum perkawinan politik itu, cahaya bulan melukiskan siluetnya di ambang pintu yang begitu tinggi, tegang, dan tak bergerak. Akhirnya, suaranya memecah keheningan.“Lamitta,” kata dia pada akhirnya.Suaranya rendah dan tertahan, terlalu terkendali bagi seorang pria yang berdiri di hadapan pilihan yang belum sepenuhnya ia paham.“Aku akan menikahi kamu.”Aku bersandar pada pintu, tetap tidak menjawab.“Aku akan menghabiskan hidup aku untuk bertanggung jawab atas hunusan pedang itu,” lanjut kata dia. Setiap kata diucapkan dengan hati-hati, seolah dipilih dari kode yang telah ia jalani sejak kecil.“Aku bersumpah … bukan sebagai seorang kekasih, tapi sebagai seorang prajurit.”Ada jeda sejenak. “Aku akan melindungi kamu seperti aku melindungi kerajaan ini,” katanya pada akhirnya. “Dengan tubuh aku. Dengan nyawa aku.”Ia tidak mengucapkan kata cinta. Ia hanya mengatakan hal-hal yan

  • Takdir Kita Tak Pernah Terhubung   Bab 3

    Aku menghadiri pesta besar kerajaan, yang akan menjadi kali terakhir bagi aku di tanah air ini.Saat aku tiba, aula agung telah dipenuhi musik lembut, cahaya lilin dan juga air mata.Larissa berdiri di tengah lingkaran para bangsawan wanita. Matanya memerah, suaranya terdengar bergetar cukup untuk membangkitkan rasa simpati, tanpa benar-benar terdengar hancur. Ia menggenggam sapu tangan sutra, seolah itulah satu-satunya penopang yang membuatnya tetap berdiri.“Jadi setelah perayaan ini, Putri Larissa akan dikirim melewati perbatasan Kerajaan Utara ….” desah seorang wanita dengan suara cukup keras untuk didengar.“Sungguh menyedihkan,” gumam yang lain. “Dan Putri Mahkota tidak melakukan apa-apa … sama sekali, kecuali mengejar kasih Jenderal Anto.”“Setidaknya Larissa tahu kewajibannya,” tambah seseorang. “Dia mengabdi pada kerajaan dengan sesungguhnya ….”Pundak Larissa bergetar. Di balik lengan yang menutupi wajahnya, ada sesuatu yang melintas sekilas, begitu tajam, dan puas.Lalu ia m

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status