"Maisa!" Pekikan tertahan itu seketika memecah keheningan ruang rapat. Beberapa pasang mata langsung beralih, menatap lurus ke arah sudut meja. Suasana mendadak mencekam. Kepanikan menjalar cepat saat mereka melihat Maisa, rekan kerja mereka, terduduk kaku dengan tubuh bergetar. Telapak tangannya mencengkeram tepi meja begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan bobot tubuhnya yang nyaris ambruk. Dari lubang hidungnya, cairan kental berwarna merah pekat mengalir deras, menetes membasahi kemeja kerjanya. "A–aku tidak apa-apa! Aku ke kamar mandi sebentar," bisiknya parau, memotong rentetan pertanyaan yang belum sempat terlontar. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, wanita berambut sebahu itu melangkah cepat. Langkahnya limbung, meninggalkan ruang rapat menuju toilet yang terletak beberapa meter di ujung koridor. Begitu berhasil menyelinap masuk, Maisa langsung memutar kunci dari dalam. Detik berikutnya, pertahanannya runtuh. Ia terduduk di atas kloset penutup, kedua tangann
Read more