LOGIN"Kau membiarkan tangan fana itu menyentuh kulit suci seorang Batara. Kau tahu risikonya. Jika kau meneruskan ini, kau tidak hanya kehilangan keabadian mu, tapi jiwamu akan dikunci dalam siklus penderitaan manusia selama seratus kelahiran.""Dia tidak punya siapa-siapa," bisik Bima akhirnya, suaranya terdengar sangat kecil di hadapan keagungan langit."Dunia ini terlalu jahat untuknya. Jika aku tidak turun membantunya, siapa yang akan memberinya keadilan?" "Bukan tugasmu untuk menjadi pahlawan bagi satu jiwa yang malang!" balas Indra tajam."Jika kau tidak segera kembali ke kahyangan sekarang, garis hidupmu akan terikat permanen dengan garis hidupnya yang terkutuk itu. Kau akan merasakan sakitnya saat dia terluka, dan kau akan hancur saat dia tiada."
View More"Mati sekarang atau nanti sama saja."Maisa berjalan ke arah jalan, terlihat dari arah belakang dia berdiri mobil melaju kencang. Seakan tidak peduli dengan itu, wanita cantik itu berjalan hampir ke tengah.Beberapa pengguna jalan membunyikan klakson padanya, dia tetap tidak peduli. Matanya masih menatap ke arah Bima yang hanya diam.Semakin dekat mobil itu melaju kearahnya, dia malah menutup mata. Tanda dia pasrah jika mobil itu akan menabraknya."Apa kau sudah gila!"Teriakan itu membuat Maisa membuka mata. Dia pikir mobil itu sudah menabraknya. Ternyata dia sudah disisi jalan dengan Bima yang memeluk erat tubuhnya.Bukannya menatap kearah orang yang memaki, Maisa menatap pria yang memeluknya. Rasa takut itu seperti tidak ada dalam gurat wajahnya. Dia melakukan ini hanya karena ini Bima bersamanya.Maisa tidak tau lagi bagaimana caranya menahan pria asing yang baru dia temui beberapa waktu ini."Jangan memberikan keburukan pada orang lain hanya karena kecerobohanmu. Kau hanya akan m
"Kenapa kau melarang ku untuk mengakhiri hidup jika kau terus datang padaku."Seorang pria coba mengakhiri hidupnya, namun gagal karena Bima tidak ingin pria itu dengan mudah mati setelah membuat orang lain menderita."Kau harus merasakan apa yang sebelumnya kau lakukan pada orang itu. Tidak adil jika kau mati begitu saja tanpa kehancuran di dunia. Kau harus tersiksa dengan rasa bersalah yang sudah kau buat."Dengan senyuman yang menjadi ciri khasnya, Bima tampak dingin meski wajahnya tampan."Tidak! Aku ingin mati. Kau tidak bisa menghalangiku."Pria itu berusaha untuk lari ke arah tepi jembatan dan ingin melompat, namun Bima tidak membiarkan itu. Kehancuran yang pria itu rasakan harus dijalani, tak boleh dia memilih mati tanpa penyesalan."Biarkan aku mati. Siapa dirimu melarang ku! Pergi dariku! Ha!!"Teriakan pria itu membuat Bima kembali tersenyum, tak lama beberapa orang membawa pria itu yang dianggap gila karena t
"tinggal bersama?"Senyumnya tersungging tipis mendengar permintaan wanita yang ada di hadapannya. "Katakan kenapa aku harus tinggal bersamamu ketika kau hanya harus menjalani operasi. Jika setelah operasi kau tidak ingat ayahmu, bukankah itu bagus."Maisa terdiam, benar apa yang Bima katakan. Namun, hati kecilnya berkata lain."Sebenarnya aku ...""Kenapa? Kau boleh tidak percaya dengan yang kau lihat tentang kebenaran itu. Tapi bukankah akan lebih baik jika ingatanmu itu hilang." Bima coba menjelaskan jika wanita di hadapannya tidak akan rugi melupakan ayahnya."Sejujurnya bukan tentang hilang ingatan yang aku takutkan, tapi aku takut akan tiada ketika aku sangat ingin bertemu dengan ayahku," ucapnya lirih karena dia ragu mengatakannya. Hatinya terluka saat ini, namun dia tidak bisa membohongi Bima tentang kekhawatiran yang mengganggunya."Apa aku egois saat takut mati? Hidupku cukup sulit, ibu selalu aku anggap baik ketika hanya perlakuan kasar yang aku dapat. Aku membayangkan it
"Kenapa kau memintaku untuk tidak pergi?"Mereka berdua sedang duduk di sebuah taman setelah Maisa puas meluapkan rasa sakitnya. Dia meminta Bima agar tidak pergi ketika memang hanya pria asing itu yang menemaninya saat ini."Karena kau spesial. Kau bisa membantuku, kau juga bisa membuatku sembuh dari penyakit ini. Tidak bisakah aku meminta tolong agar kau tetap berada di sampingku?""Kau tidak takut saat aku memintamu membayar hal itu dengan imbalan dari yang kau minta?" Maisa menatap pria di sampingnya, dia mulai bisa berpikir. Hal itu dia lupakan, ada imbal balik dengan apa yang diminta."Kenapa kau menatapku seperti. Bukankah aku sudah ingatkan itu?""Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Maisa dengan perasaan takut. Yang dia tau, pria dihadapannya ini berbeda dengannya, jadi dia takut jika pilihannya ini merugikan dia juga."Tenanglah, aku bukan memintamu mati, aku hanya ingin kau mengatakan permintaanmu." Pria asing yang diberi nama Bima itu lebih dekat pada wanita di sam
"Ayah, aku ini putri mu. Ibu sudah tiada dan—""Berhenti bicara dan pergi. Aku tak ingin menoleh kebelakang lagi. Jangan pernah datang karena aku tak berharap kau ini ada di sini sekarang," sahut ayah Maisa, dia langsung mengenali puterinya. Kalau saja dia bersikap tak peduli, mungkin dia tidak aka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.