Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku

Sang Dewa Turun untuk Mencintaiku

last updateHuling Na-update : 2026-06-16
By:  Nyemoetdz KimOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
26Mga Kabanata
402views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

"Kau membiarkan tangan fana itu menyentuh kulit suci seorang Batara. Kau tahu risikonya. Jika kau meneruskan ini, kau tidak hanya kehilangan keabadian mu, tapi jiwamu akan dikunci dalam siklus penderitaan manusia selama seratus kelahiran.""Dia tidak punya siapa-siapa," bisik Bima akhirnya, suaranya terdengar sangat kecil di hadapan keagungan langit."Dunia ini terlalu jahat untuknya. Jika aku tidak turun membantunya, siapa yang akan memberinya keadilan?" "Bukan tugasmu untuk menjadi pahlawan bagi satu jiwa yang malang!" balas Indra tajam."Jika kau tidak segera kembali ke kahyangan sekarang, garis hidupmu akan terikat permanen dengan garis hidupnya yang terkutuk itu. Kau akan merasakan sakitnya saat dia terluka, dan kau akan hancur saat dia tiada."

view more

Kabanata 1

01. Siapa Dirimu?

"Maisa!"

Pekikan tertahan itu seketika memecah keheningan ruang rapat. Beberapa pasang mata langsung beralih, menatap lurus ke arah sudut meja.

Suasana mendadak mencekam. Kepanikan menjalar cepat saat mereka melihat Maisa, rekan kerja mereka, terduduk kaku dengan tubuh bergetar. Telapak tangannya mencengkeram tepi meja begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan bobot tubuhnya yang nyaris ambruk. Dari lubang hidungnya, cairan kental berwarna merah pekat mengalir deras, menetes membasahi kemeja kerjanya.

"A–aku tidak apa-apa! Aku ke kamar mandi sebentar," bisiknya parau, memotong rentetan pertanyaan yang belum sempat terlontar.

Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, wanita berambut sebahu itu melangkah cepat. Langkahnya limbung, meninggalkan ruang rapat menuju toilet yang terletak beberapa meter di ujung koridor.

Begitu berhasil menyelinap masuk, Maisa langsung memutar kunci dari dalam. Detik berikutnya, pertahanannya runtuh. Ia terduduk di atas kloset penutup, kedua tangannya meremas kepala yang rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Sakitnya begitu menyiksa, hingga pandangannya mulai mengabur.

*Gedor! Gedor!*

"Maisa! Buka pintunya! Kau di dalam, kan?!"

Suara ketukan keras menyentak dinding pintu. Rekan kerjanya ternyata menyusul, nadanya sarat akan kecemasan. Namun, jangankan untuk berdiri dan membuka kunci, untuk bernapas pun Maisa harus berjuang setengah mati. Ia tidak ingin siapa pun melihat kerapuhannya. Ia tidak ingin dikasihani.

"A–aku tidak apa-apa. Sebentar lagi aku keluar," sahut Maisa, suaranya nyaris habis, tenggelam oleh debar jantungnya sendiri.

"Maisa!"

Panggilan di luar sana terus bersahut-sungut, tetapi Maisa bergeming. Di tengah jeratan rasa sakit yang kian mengganas, sebuah bisikan keputusasaan lolos dari bibirnya yang memucat.

"Apakah aku akan mati hari ini, Tuhan...?" lirihnya.

Tenaganya terkuras habis. Pandangan Maisa mendadak goyah, lalu berputar hebat. Tubuhnya melorot ke samping, tumbang begitu saja menempel pada dinginnya lantai porselen toilet yang sempit. Kesadarannya berada di ambang batas.

"Apa rasanya sesakit itu? Apa kau tidak merasa bahwa Tuhan sedang bersikap tidak adil padamu?"

Sebuah suara asing—berat, dingin, namun begitu jernih—bergema di ruangan yang tertutup itu.

Maisa mengerjapkan mata yang terasa berat. Samar, ia menyadari posisinya telah berubah. Ia tidak lagi tergeletak di lantai dingin, melainkan kembali terduduk di atas kloset. Di hadapannya, seseorang tengah duduk bertumpu lutut, menatapnya lurus. Meski pandangannya masih berbayang, Maisa yakin ia tidak sedang berhalusinasi. Ada sosok asing di dalam toilet bersamanya.

"Keluarkan amarahmu. Mengapa kau hanya diam saat takdir menyiksamu seperti ini?" Sosok itu kembali bersuara, mengintimidasi. "Munafik jika kau bilang kau tidak menyalahkan Tuhan. Katakan saja. Amarahmu yang akan menjadi penolongmu dari rasa sakit ini."

"Un–tuk apa aku menyalahkan-Nya?" Maisa terbatuk, napasnya memburu egois. "Bukankah... sejak awal aku memang ditakdirkan untuk menderita? Akan lebih baik jika aku mati sekarang. Aku—"

Kalimatnya terputus secara brutal. Rasa sakit itu menghantam lagi, lebih runcing dari sebelumnya. Darah segar kembali merembes keluar dari hidungnya, mengalir deras seolah menolak untuk berhenti.

"Kau yakin?" Sosok itu memiringkan kepalanya, mengamati penderitaan Maisa tanpa simpati. "Aku bisa mengabulkan permintaanmu sekarang juga. Berledaklah. Kau punya hak untuk murka."

"Ti–dak!"

"Lalu kau memilih untuk menanggung rasa sakit ini sendirian?"

Suasana mendadak hening yang aneh. Ketukan histeris dari luar pintu tadi lenyap begitu saja, menyisakan keheningan mutlak yang mencekik. Hanya ada mereka berdua di ruang sempit ini.

"Luapkan amarahmu, sebutkan apa yang kau inginkan. Aku akan membantumu," bisik sosok itu lagi, suaranya bagai hipnotis yang merayap di telinga. "Bangkit dan tuntut keadilan atas takdir buruk ini. Kau berhak mengutuk rasa sakit ini."

"Ti–dak! Sebenarnya... kau ini siapa?!" Maisa menggeram, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. "Kenapa kau berlagak seperti penolong, padahal kau hanya ingin aku mengutuk Tuhan? Kau hanya membual!"

Di balik kabur matanya, Maisa menangkap seulas senyum tipis terukir di wajah sosok itu. Senyum yang dingin, seolah sedang menonton sebuah lelucon yang menggelikan.

"Kalau begitu, gapai tanganku. Ini akan meredakan sakitmu," sosok itu mengulurkan telapak tangannya yang kokoh ke hadapan Maisa. "Aku tahu kau masih ingin hidup. Lakukan, dan buktikan ucapanku."

Melihat uluran tangan itu, di tengah rasa sakit yang kian menjajah logika, Maisa kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Perlahan, dengan jemari yang bergetar hebat, ia menyambut uluran tangan tersebut. Ia hanya ingin sakit ini hilang.

*Deg.*

Begitu kulit mereka bersentuhan, pandangan kabur Maisa mendadak jernih seketika. Netranya membelalak. Di hadapannya kini berdiri seorang pria dengan paras yang luar biasa tampan. Garis wajahnya tegas, tatapan matanya tajam memikat, memancarkan aura wibawa yang tak kasat mata namun mampu mengunci pergerakan Maisa.

Pria itu menunduk, menatap tangan mereka yang bertautan. "Kau akan terus menatapku?"

"Aku..."

"Kau tidak berniat keluar dengan kemeja penuh darah, bukan?" Pria itu mengibaskan tangan satunya yang bebas.

Maisa tersentak. Ia melirik kemejanya. Ajaib, noda darah pekat yang baru saja mengotori pakaian dan telapak tangannya lenyap tanpa bekas dalam sekali usapan angin.

"Se–benarnya siapa kau?" Rasa takut kini menjalar, bercampur dengan rasa penasaran yang luar biasa.

Pria itu tidak menjawab. Ia justru mengulas senyum manis. Sangat manis, hingga tak ada yang akan mengira bahwa sosok di hadapan Maisa saat ini adalah perwujudan dari Dewa Kehancuran dan Amarah.

"Maisa!"

*Gedor! Gedor!*

Suara gedoran pintu kembali menghantam indra pendengaran Maisa, seolah dimensi waktu mereka baru saja tersambung kembali dengan dunia luar.

"Bangunlah. Kau akan terus membuat temanmu ketakutan. Bukankah kau paling tidak suka jika orang lain tahu kondisimu?" ujar pria itu dengan nada santai.

"Siapa kau yang sebenarnya? Kau jelas bukan pegawai di kantor ini, dan—"

"Sebutkan satu permintaan agar rasa sakitmu ini terasa adil. Akan kukabulkan," potong pria itu, mengabaikan pertanyaan Maisa.

"Kenapa kau terus memaksaku untuk marah pada takdir?!" sentak Maisa frustrasi.

Ia menyentak tangannya lepas dari genggaman pria asing itu, lalu berpegangan pada wastafel untuk berdiri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; wajahnya masih pucat, namun bekas darah benar-benar telah sirna.

"Rasa sakit itu akan kembali datang," ancam pria itu tenang, bersandar pada dinding toilet yang sempit. "Pikirkan tawaranku. Katakan sesuatu agar semua ini terasa adil bagimu."

"Kau pasti sedang bercanda," Maisa mendengus sinis, memutar tubuh menghadap pria itu. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika aku meluapkan kekecewaanku?"

"Tidak banyak," jawab pria itu enteng, seringai tipis kembali muncul di bibirnya. "Mungkin... menghancurkan dunia ini? Untuk menggantikan rasa sakitmu. Bukankah saat manusia merasa diperlakukan tidak adil oleh takdir, batin mereka ingin meremukkan dunia?"

Maisa tersenyum getir. Pria ini mengklaim bisa menghancurkan dunia, padahal wujudnya tak berbeda dengan manusia biasa. Namun di sisi lain, logika Maisa berontak; bagaimana bisa pria ini masuk ke toilet yang terkunci rapat sementara temannya masih berteriak-teriak di luar?

"Kau tidak percaya padaku? Kau menganggap ucapanku hanya lelucon?" Pria itu membaca keraguan di mata Maisa.

"Buktikan jika kau memang bisa mengabulkan apa pun," tantang Maisa berani, meski suaranya sedikit bergetar.

"Baik, jika itu maumu..." Pria tampan itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Maisa bisa merasakan aura dingin yang menguar dari tubuhnya.

*Tap.*

Satu sentuhan lembut mendarat di pipi kanan Maisa.

Detik itu juga, gelombang rasa sakit yang seribu kali lipat lebih dahsyat menghantam kepala dan dada Maisa. Tubuhnya tersedak hebat. Tanpa bisa ditahan, cairan merah pekat dalam jumlah banyak terlontar dari mulutnya, mengotori lantai porselen putih di bawah mereka. Maisa jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal di ambang kematian.

Namun, belum sempat Maisa memejamkan mata, pria itu hanya melirik ke arah lantai. Dalam sekejap mata, seluruh darah yang berceceran lenyap. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang nyaris merenggut nyawa Maisa menguap tanpa sisa, menyisakan tubuh yang segar bugar seolah ia tidak pernah sakit seumur hidupnya. Semua terjadi dalam satu jentikan tak kasat mata.

Pria itu kembali membungkuk, menatap wajah Maisa yang masih syok dengan napas yang memburu cepat. Seringai tipisnya tidak pernah pudar.

"Bagaimana? Apa rasanya sama? Atau... kau ingin merasakan yang lebih sakit lagi?"

Maisa mendongak, air mata ketakutan kini menggenang di pelupuk matanya. Seluruh sendi tubuhnya gemetar menghadapi entitas mengerikan yang menyamar dalam rupa pria rupawan di hadapannya.

"Katakan... se–benarnya siapa kau ini?" bisik Maisa, suaranya bergetar hebat dipenuhi kengerian mutlak. "Siapa dirimu?!"

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
26 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status