Masuk"Kau membiarkan tangan fana itu menyentuh kulit suci seorang Batara. Kau tahu risikonya. Jika kau meneruskan ini, kau tidak hanya kehilangan keabadian mu, tapi jiwamu akan dikunci dalam siklus penderitaan manusia selama seratus kelahiran.""Dia tidak punya siapa-siapa," bisik Bima akhirnya, suaranya terdengar sangat kecil di hadapan keagungan langit."Dunia ini terlalu jahat untuknya. Jika aku tidak turun membantunya, siapa yang akan memberinya keadilan?" "Bukan tugasmu untuk menjadi pahlawan bagi satu jiwa yang malang!" balas Indra tajam."Jika kau tidak segera kembali ke kahyangan sekarang, garis hidupmu akan terikat permanen dengan garis hidupnya yang terkutuk itu. Kau akan merasakan sakitnya saat dia terluka, dan kau akan hancur saat dia tiada."
Lihat lebih banyak"Maisa!"
Teriakan terkejut seseorang membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menatap ke arah yang dipanggil. Seketika tatapan itu berubah kepanikan karena melihat salah satu teman kerjanya tertunduk sambil memegangi meja dengan darah mengalir dari hidungnya dan hampir jatuh pingsan. "A–ku tidak apa-apa! Aku ingin ke kamar mandi sebentar." Dengan langkah kaki cepat, wanita cantik dengan rambut sebahu itu bergegas ke arah kamar mandi yang berada tak jauh dari ruangan meeting. Sesampainya di kamar mandi, dia langsung mengunci pintu dari dalam dan terduduk di kloset karena merasakan rasa sakit yang teramat di kepalanya. "Maisa! Buka pintunya!" Ketukan pintu dan panggilan terdengar dari seseorang yang mengikutinya masuk kamar mandi. Suaranya terdengar khawatir, namun wanita di dalam kamar mandi itu tidak ada keinginan untuk membukanya. "A–ku tidak apa-apa. Setelah ini aku akan keluar," jawabnya dengan tenaga yang tersisa. "Maisa!" Suara ketukan tak membuat dia ingin cepat membuka pintu, dia pasti akan membuat temannya itu khawatir, itu yang dipikirkan. "Apakah aku akan mati hati ini, Tuhan?" tanyanya lirih. Rasa sakit membuat tenaganya terkuras habis, hingga untuk bicara keras dia tak sanggup. Disaat merasakan kesakitan seorang diri di dalam kamar mandi, tak lama pandangannya sedikit buyar, tubuhnya melorot ke samping kanan hingga menyentuh lantai kamar mandi yang dingin. Meski toilet itu tak begitu besar, tetap saja tubuhnya yang terkulai tak berdaya karena rasa sakit itu. "Apa begitu sakit? Apa kau tidak merasa jika Tuhan bersikap tak adil padamu?" Ditengah setengah kesadaran yang hampir hilang terdengar suara seseorang, membuat wanita dengan wajah pucat itu menatap ke arah seseorang duduk di hadapannya dengan posisi dia kembali duduk di kloset, padahal sebelumnya dia merasa tubuhnya limbung ke lantai.. Meskipun tidak begitu jelas karena pandangannya kabur, dia tak salah jika ada seseorang di hadapannya sekarang. "Katakan apa yang menjadi amarahmu. Kenapa kau hanya diam ketika tersiksa seperti sekarang. Munafik jika kau tidak menyalahkan Tuhan. Katakan agar aku bisa membantumu, karena amarahmu yang akan menolong mu dari rasa sakit yang menyiksamu sekarang." "Un–tuk a–pa aku menyalahkan Tuhan. Bukankah sejak awal aku sudah ditakdirkan menderita seperti ini. Akan bagus jika aku mati sekarang, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu begitu menusuk. Darah yang keluar begitu banyak, namun tidak bisa dia hentikan. "Apa kau yakin? Aku akan mengabulkan permintaanmu sekarang ketika rasa sakit itu sungguh menyiksamu. Marahlah, karena kau berhak untuk itu." "Ti–dak!" "Lalu apa kau akan merasakan kesakitan ini sendiri?" Tak terdengar suara ketukan dari luar, hanya ada mereka berdua di dalam kamar mandi yang Maisa pikir tidak ada siapapun di sana. "Luapkan amarahmu, katakan apa yang ingin kau minta. Aku akan membantumu. Bangun dan katakan apa yang kau mau atas ketidakadilan ini. Kau berhak meluapkan amarahmu dan menyalahkan Tuhan atas takdir buruk yang menimpamu." "Ti–dak! Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau bersikap seperti Dewa yang datang untuk membantu, ketika kau hanya ingin aku meluapkan kemarahan pada Tuhan. Kau hanya membual!" Walau samar, tapi Maisa melihat seseorang dihadapannya itu tersenyum tipis. Seakan menertawakan kondisinya yang sedang kesakitan. "Kalau begitu gapai tanganku, ini akan membuat rasa sakit mu berkurang. Aku tau kau masih ingin hidup, jadi lakukan dan buktikan apa yang aku katakan." Seseorang itu mengulurkan tangan agar digapai oleh Maisa, pandangan yang kian kabur, membuatnya tidak bisa berpikir panjang. Perlahan tangannya menggapai, berharap orang di hadapannya bisa membantu seperti yang dikatakan. Entah membantu yang seperti apa, ketika penawaran yang dikatakan tidak dia pahami karena rasa sakit. Sorot mata mereka bertemu, pandangan yang mulanya memudar perlahan terlihat jelas ketika Maisa memegang tangan yang ternyata seorang pria itu. Wajahnya tampan dengan sorot mata tegas, namun berwibawa itu membuatnya terdiam. "Kau akan terus menatapku?" "Aku—" "Kau tidak akan keluar dengan darah di kemeja kerjamu kan?" Saat Maisa melirik apa yang pria itu katakan, darah itu menghilang dengan sekali usapan menggunakan tangan yang lain, ketika satu tangan masih menggenggam Maisa. Bahkan darah di tangan pun ikut menghilang. "Se–benarnya siapa kau?" tanyanya dengan rasa takut tapi juga penasaran. Bukannya menjawab, pria itu tersenyum manis. Begitu manis sampai tidak terlihat jika pria itu seorang Dewa kehancuran dan amarah yang sedang berdiri di hadapannya. "Maisa!" Kembali ketukan pintu terdengar ketika dia masih penasaran akan jawaban dari pria yang menggenggam tangannya. "Bangunlah, kau akan terus membuat temanmu itu khawatir, bukankah kau berharap orang lain tidak tau kondisimu?" "Sebenarnya siapa dirimu? Aku pikir kau bukan pegawai di sini, dan—" "Katakan satu permintaan agar apa yang membuatmu kesakitan sekarang bisa adil untukmu. Aku akan kabulkan." "Kenapa kau terus bicara seolah aku harus marah akan takdir buruk ku!" Maisa melepaskan tangannya dari pria asing itu dan berusaha bangun. Dia menatap dirinya melalui pantulan cermin, benar saja jika bekas darah yang tadi hilang. "Kau akan kembali kesakitan, jadi pikirkan tawaranku. Katakan apa yang ingin kau katakan agar ini terlihat adil." "Kau sedang mengajakku bercanda, memangnya apa yang akan kau lakukan ketika aku meluapkan rasa kecewaku." "Tidak banyak, seperti menghancurkan dunia. Agar bisa mengantikan rasa sakit mu ini. Bukankah ketika manusia merasa tidak adil, itu yang mereka inginkan." Maisa tersenyum tipis, bagaimana pria asing di hadapannya mengatakan bisa menghancurkan dunia ketika mereka hanya seorang manusia. Namun, bagaimana pria itu masuk ketika teman Maisa saja masih di luar mengetuk pintu kamar mandi dengan rasa khawatir. "Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan? Kau seakan menganggap ucapanku candaan." Kembali dia menyunggingkan senyum tipisnya itu mendengar perkataan Maisa. "Buktikan jika kau memang bisa mengabulkan apa yang aku minta." Maisa malah menantang pria asing itu. "Katakan saja, apa yang kau minta, atau seperti ini ...." Pria tampan itu lebih dekat ketika Maisa coba berdiri dan menatapnya. Pria itu membuat Maisa kembali kesakitan dengan sekali sentuhan pada pipi kanannya, bahkan dia memuntahkan darah begitu banyak hingga mengotori lantai. Namun, setelahnya pria asing itu membersihkan darah yang ada di lantai bahkan menghilangkan rasa sakit itu dalam sekejap tanpa melakukan apapun, hanya menatap wajah kesakitan Maisa dengan senyum tipisnya. "Apa rasa sakitnya sama? Atau ingin yang lebih sakit lagi?" Kembali pria itu mendekat ketika nafas masih memburu. "Katakan se–benarnya siapa kau ini?" Suaranya bergetar mengatakan itu dengan sorot mata berkaca-kaca karena rasa sakit itu kembali lagi. "Siapa dirimu?""Mati sekarang atau nanti sama saja."Maisa berjalan ke arah jalan, terlihat dari arah belakang dia berdiri mobil melaju kencang. Seakan tidak peduli dengan itu, wanita cantik itu berjalan hampir ke tengah.Beberapa pengguna jalan membunyikan klakson padanya, dia tetap tidak peduli. Matanya masih menatap ke arah Bima yang hanya diam.Semakin dekat mobil itu melaju kearahnya, dia malah menutup mata. Tanda dia pasrah jika mobil itu akan menabraknya."Apa kau sudah gila!"Teriakan itu membuat Maisa membuka mata. Dia pikir mobil itu sudah menabraknya. Ternyata dia sudah disisi jalan dengan Bima yang memeluk erat tubuhnya.Bukannya menatap kearah orang yang memaki, Maisa menatap pria yang memeluknya. Rasa takut itu seperti tidak ada dalam gurat wajahnya. Dia melakukan ini hanya karena ini Bima bersamanya.Maisa tidak tau lagi bagaimana caranya menahan pria asing yang baru dia temui beberapa waktu ini."Jangan memberikan keburukan pada orang lain hanya karena kecerobohanmu. Kau hanya akan m
"Kenapa kau melarang ku untuk mengakhiri hidup jika kau terus datang padaku."Seorang pria coba mengakhiri hidupnya, namun gagal karena Bima tidak ingin pria itu dengan mudah mati setelah membuat orang lain menderita."Kau harus merasakan apa yang sebelumnya kau lakukan pada orang itu. Tidak adil jika kau mati begitu saja tanpa kehancuran di dunia. Kau harus tersiksa dengan rasa bersalah yang sudah kau buat."Dengan senyuman yang menjadi ciri khasnya, Bima tampak dingin meski wajahnya tampan."Tidak! Aku ingin mati. Kau tidak bisa menghalangiku."Pria itu berusaha untuk lari ke arah tepi jembatan dan ingin melompat, namun Bima tidak membiarkan itu. Kehancuran yang pria itu rasakan harus dijalani, tak boleh dia memilih mati tanpa penyesalan."Biarkan aku mati. Siapa dirimu melarang ku! Pergi dariku! Ha!!"Teriakan pria itu membuat Bima kembali tersenyum, tak lama beberapa orang membawa pria itu yang dianggap gila karena t
"tinggal bersama?"Senyumnya tersungging tipis mendengar permintaan wanita yang ada di hadapannya. "Katakan kenapa aku harus tinggal bersamamu ketika kau hanya harus menjalani operasi. Jika setelah operasi kau tidak ingat ayahmu, bukankah itu bagus."Maisa terdiam, benar apa yang Bima katakan. Namun, hati kecilnya berkata lain."Sebenarnya aku ...""Kenapa? Kau boleh tidak percaya dengan yang kau lihat tentang kebenaran itu. Tapi bukankah akan lebih baik jika ingatanmu itu hilang." Bima coba menjelaskan jika wanita di hadapannya tidak akan rugi melupakan ayahnya."Sejujurnya bukan tentang hilang ingatan yang aku takutkan, tapi aku takut akan tiada ketika aku sangat ingin bertemu dengan ayahku," ucapnya lirih karena dia ragu mengatakannya. Hatinya terluka saat ini, namun dia tidak bisa membohongi Bima tentang kekhawatiran yang mengganggunya."Apa aku egois saat takut mati? Hidupku cukup sulit, ibu selalu aku anggap baik ketika hanya perlakuan kasar yang aku dapat. Aku membayangkan it
"Kenapa kau memintaku untuk tidak pergi?"Mereka berdua sedang duduk di sebuah taman setelah Maisa puas meluapkan rasa sakitnya. Dia meminta Bima agar tidak pergi ketika memang hanya pria asing itu yang menemaninya saat ini."Karena kau spesial. Kau bisa membantuku, kau juga bisa membuatku sembuh dari penyakit ini. Tidak bisakah aku meminta tolong agar kau tetap berada di sampingku?""Kau tidak takut saat aku memintamu membayar hal itu dengan imbalan dari yang kau minta?" Maisa menatap pria di sampingnya, dia mulai bisa berpikir. Hal itu dia lupakan, ada imbal balik dengan apa yang diminta."Kenapa kau menatapku seperti. Bukankah aku sudah ingatkan itu?""Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Maisa dengan perasaan takut. Yang dia tau, pria dihadapannya ini berbeda dengannya, jadi dia takut jika pilihannya ini merugikan dia juga."Tenanglah, aku bukan memintamu mati, aku hanya ingin kau mengatakan permintaanmu." Pria asing yang diberi nama Bima itu lebih dekat pada wanita di sam
"Ayah, aku ini putri mu. Ibu sudah tiada dan—""Berhenti bicara dan pergi. Aku tak ingin menoleh kebelakang lagi. Jangan pernah datang karena aku tak berharap kau ini ada di sini sekarang," sahut ayah Maisa, dia langsung mengenali puterinya. Kalau saja dia bersikap tak peduli, mungkin dia tidak aka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.