Ravenna mencengkeram lengan Marva dengan keputusasaan."Aku tidak ingat apa-apa! Aku berjalan dalam tidur dan terbangun dengan ketakutan ini! Aku tidak mau egois. Aku tidak boleh membiarkan Morrigan hancur hingga tidak tersisa karena melindungiku. Tolong, Nek, kali ini saja, ikuti aku! Kita harus pergi sebelum Silas atau Morrigan menyadarinya."Marva menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan, lalu mengangguk lemah."Baik, Sayang. Nenek ikut dan kita pergi dari sini. Kita sudah banyak merepotkannya," bisik Marva sambil menghapus air mata di pipi cucunya.Mereka mulai membereskan barang-barang mereka yang hanya sedikit. Beruntung bagi mereka, karena pagi ini terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ezra dan Nerina sudah berangkat ke sekolah. Ketidakhadiran kedua anak itu setidaknya mengurangi risiko mereka terpergok, meskipun di sisi lain, Ravenna merasa dadanya kian berdenyut nyeri, karena pergi tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan pada mereka."Ravenna, Nenek sudah siap," b
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-20 Mehr lesen