Mate Terlarang Sang Alpha

Mate Terlarang Sang Alpha

last updateLast Updated : 2026-03-02
By:  MiarosaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Aku memilihnya.” Satu kalimat dari Alpha Morrigan cukup untuk membuat seluruh pack gemetar. Masalahnya yang ia pilih adalah Lunara Fenrirsson, omega terbuang, anak pengkhianat, darah yang seharusnya tidak pernah dibiarkan hidup. Mate bond mereka adalah kesalahan dan Dewan Tetua tidak pernah membiarkan kesalahan bertahan lama. Dalam satu malam, Lunara kehilangan segalanya, ingatannya dihancurkan dan garis keturunannya disamarkan dengan sihir segel terlarang, dan ia dibuang ke dunia manusia sebagai perempuan biasa yang bahkan tidak mengingat namanya sendiri dan tanpa masa lalu. Alpha merasakan ikatan itu menghilang seperti benang yang terputus di kegelapan. Lima tahun kemudian, ia bukan lagi sekadar pemimpin pack. Ia menjadi penguasa wilayah dan pria paling berkuasa yang ditakuti dan dihormati di dunia manusia dan serigala. Kaya, kuat, dan tak tersentuh, tapi ia masih merasakan kekosongan di dadanya. Sementara itu, seorang pelayan restoran di sudut kota bermimpi tentang mata hitam yang tidak ia kenal dan hutan yang terasa seperti rumah. Mereka pikir dengan menghapusnya, semuanya akan selesai. Mereka salah, karena ketika omega yang dibuang itu mengingat siapa dirinya tidak ada takhta yang akan selamat.

View More

Chapter 1

Bab 1

Darah Lunara Fenrirsson jatuh ke tanah lebih dulu sebelum tubuhnya. Ia tersungkur di halaman batu Pack Blackmoon dan lututnya menghantam tanah basah yang dingin. Napasnya tercekik bukan hanya oleh rasa sakit, tapi oleh tawa yang pecah di sekelilingnya, tawa para manusia serigala yang merasa berhak menginjaknya.

“Bangun, Omega sialan!" bentak seseorang.

Rambut perak Lunara ditarik kasar dari belakang. Kepalanya terhentak ke atas dan memaksa matanya menatap lingkaran wajah-wajah yang penuh hinaan. Mereka bukan hanya sekadar membencinya, tapi mereka juga menikmati penderitaannya.

Darian Bloodclaw berdiri paling depan, musuh lamanya dan putra tetua pack. Serigala beta yang merasa dunia berutang padanya.

“Kau lambat,” kata Darian sambil menendang tulang kering Lunara. “Alpha memerintahkan kayu bakar dikumpulkan sebelum matahari terbit, tapi lihat dirimu selalu gagal dan selalu membawa sial." Ia berdecak jijik.

Lunara menggigit bibirnya sampai darah terasa asin di lidahnya.

“Aku sudah ...."

PLAK!

Tamparan itu membuat kepalanya berputar dan dunia berdenyut putih sesaat.

“Jangan jawab sebelum diizinkan! Omega tidak punya suara," hardik Darian.

Beberapa anggota pack lain ikut tertawa. Ada yang melempar lumpur ke wajah Lunara dan ada yang meludah ke tanah di dekat kakinya seolah ia bahkan tidak layak terkena ludah langsung.

“Anak pengkhianat." Seseorang berbisik cukup keras.

“Darah terkutuk.”

“Seharusnya dia mati bersama ibunya.”

Kalimat terakhir itu menusuk lebih dalam dari pukulan mana pun. Lunara menunduk dan jarinya mencengkeram tanah menahan gemetar yang mengancam keluar. Ia tidak akan menangis di depan mereka dan tidak akan memberi kepuasan itu.

Darian jongkok di hadapannya dan menatapnya sejajar.

“Kamu tahu kenapa kami masih membiarkanmu hidup?” tanyanya pelan dan suaranya hampir ramah yang justru membuatnya lebih kejam. “Karena Alpha belum memutuskan apa yang akan dilakukan pada sisa darahmu.”

Ia menyeringai. “Tapi aku tidak terikat perintah itu.”

Tangan Darian berubah. Kuku-kukunya memanjang, tajam, dan berkilau di bawah cahaya pagi. Sebuah cakar menekan dagu Lunara dan memaksa wajahnya terangkat.

“Satu kesalahan lagi dan aku pastikan kamu tidak bangun untuk melihat purnama berikutnya," bisiknya.

Cakar itu menggores pipi Lunara meskipun tidak dalam, tapi cukup untuk meninggalkan garis merah yang panas dan perih. Jeritan kecil lolos dari tenggorokannya sebelum ia sempat menahannya.

“Berisik!" ujar Darian dingin. Ia mendorong Lunara hingga tubuhnya terhempas ke tanah lagi. “Sekarang bangun! Ambil kayu itu atau aku seret kamu ke kandang bawah tanah.”

Lunara bangkit dengan gemetar. Tubuhnya sakit di mana-mana, tapi ia tetap berdiri, karena kalau jatuh berarti mati lebih cepat.

Saat ia membungkuk mengambil tumpukan kayu, dunia terasa berputar. Bau darahnya sendiri memenuhi udara.

Bau kayu basah bercampur darah menempel di tangan Lunara saat ia mengangkat tumpukan itu ke punggungnya. Tali kasar digesekkan Darian ke bahunya tanpa belas kasihan untuk mengikat kayu itu seperti beban bagi hewan pengangkut.

“Kalau jatuh lagi, aku biarkan kamu membusuk di hutan,” katanya dingin.

Lunara mengangguk tanpa berani menatapnya. Ia sudah belajar bahwa menatap mata anggota pack lain hanya akan mengundang lebih banyak hukuman.

Ia melangkah menuju dapur utama pack, bangunan batu besar tempat para manusia serigala makan dan berkumpul. Di sanalah para omega rendahan bekerja dan Lunara berada di paling bawah dari semuanya.

Seorang omega perempuan yang lebih tua dan wajahnya penuh bekas luka menyambutnya dengan tatapan iba yang tidak berani terlalu lama.

“Cepat! Mereka menunggumu," bisiknya pelan.

Lunara meletakkan kayu itu di sudut ruangan. Tangannya gemetar. Darah dari goresan pipinya menetes ke lantai batu, tapi tidak ada yang peduli.

“Lunara!” bentak seorang beta perempuan. “Air panas untuk para prajurit sudah siap? Mereka kembali dari patroli!”

“A-aku belum ...."

Sebuah ember logam dilempar ke arahnya. Ember itu menghantam kakinya dan air panas di dalamnya tumpah ke tangannya dan kulitnya langsung memerah.

“Jangan menjawab!” teriak beta itu. “Kamu bukan siapa-siapa di sini. Cepat bersihkan lantai aula! Dan setelah itu, kamu ikut mencuci darah dari arena latihan.”

Arena latihan adalah tempat para manusia serigala melampiaskan amarah mereka. Lunara menelan ludahnya. Ia mengambil kain kasar dan mulai menggosok lantai aula, sementara para anggota pack melintas tanpa memperhatikannya.

Beberapa sengaja menginjak kain yang ia pakai. Ada yang menumpahkan sisa makanan ke rambut peraknya sambil tertawa.

“Cocok untuk anak pengkhianat membersihkan kotoran kami," ujar sang prajurit.

Tangan Lunara terasa perih, tapi ia terus menggosok. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah keyakinan bahwa jika ia cukup patuh, mereka mungkin akan melupakannya. Namun, pack tidak pernah lupa.

Di arena latihan, bau darah segar lebih pekat. Dua serigala beta sedang bertarung dan saling mencabik di bawah sorakan anggota pack. Ketika pertarungan selesai, tubuh salah satu tergeletak berdarah.

“Bersihkan!" perintah seorang tetua sambil melirik Lunara.

Tanpa alat pelindung dan tanpa bantuan, Lunara berlutut di tanah berlumpur menggosok darah yang mengering dengan tangan telanjang. Beberapa prajurit duduk di bangku batu, menonton seolah itu hiburan.

“Lihat!" kata salah satu dari mereka sambil tertawa. “Dia lebih mirip budak daripada serigala.”

Lunara tidak menjawab, karena ia tidak berani. Saat kainnya menyentuh tanah, getaran aneh muncul. Getaran itu lebih kuat dan lebih dekat seperti ada sesuatu yang menarik napas bersamanya, sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Ia mendongak tanpa sadar. Di balkon kediaman Alpha, sosok tinggi berdiri dengan jubah hitam panjang. Rambut gelapnya tertiup angin, setengah wajahnya tertutup topeng hitam, dan matanya hitam seperti malam tanpa bintang terkunci pada dirinya, Alpha Morrigan Raventhorn.

Lunara langsung menunduk. Ia tidak tahu mengapa jantungnya berdentum sekeras itu. Ia juga tidak tahu mengapa tubuhnya terasa hangat sekaligus takut.

Kain di tangan Lunara jatuh ke tanah saat teriakan menggema di arena.

“Cukup!”

Suara tetua tua itu menggiring perhatian semua orang. Sorakan mereda dan digantikan bisik-bisik yang haus darah.

Tetua Varrek melangkah ke tengah arena dan tongkat hitamnya menghentak batu.

Matanya yang keruh menatap Lunara seolah ia bukan makhluk hidup.

“Omega ini mengotori arena suci dengan kelalaiannya," katanya lantang.

Lunara menegang dan apasnya tersendat.

“A-aku sudah membersihkan ...."

Tongkat menghantam bahunya. Lunara terjatuh dan darah muncrat dari bibirnya saat batu menghantam rahangnya.

“Diam!” bentak Varrek. “Kamu tidak belajar, rupanya.”

Darian melangkah maju dan wajahnya penuh kepuasan.

“Dia menumpahkan darah prajurit ke saluran air, Tetua, dan mencemari jalur ritual," katanya

Itu bohong. Semua orang tahu itu bohong.

Namun, pack tidak peduli pada kebenaran.

“Bawa dia ke tiang hukuman!" perintah Varrek.

Dua beta menarik Lunara tanpa belas kasihan. Tubuhnya diseret melintasi arena, lututnya tergores batu, dan darahnya membentuk jejak merah yang disambut sorakan.

“Bakar!”

“Cambuk saja!”

“Bunuh sebelum purnama!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status