Tanpa pikir panjang, aku refleks membekap mulutnya. "Kalau kamu teriak kencang, apa kamu mau Gerry dengar?"Mendengar itu, Hera langsung tenang. Hanya matanya yang terus bergerak memperhatikanku, mulai dari wajah, tubuh, sampai ke bagian bawahku yang masih tegak berdiri karena perbuatannya tadi. Wajahnya semakin merah padam, seolah-olah darah bisa menetes darinya. Matanya penuh kejutan, seakan dia melihat sesuatu yang sangat luar biasa.Setelah yakin dia paham, aku perlahan melepaskan tanganku. Tak disangka, Hera menggigit bibirnya dan bergumam, "Kamu ini kuda, ya? Kenapa punyamu bisa sebuas itu!"Melihat dadanya yang naik turun karena terkejut, aku tidak bisa lagi menahan tanganku. Tanpa memedulikan keinginannya, aku langsung meremas dadanya."Ah!"Setelah beberapa remasan, Hera mendongakkan kepala dan mengeluarkan rintihan rendah. Tubuhnya gemetar, suaranya semakin lembut."Kamu ... dasar bajingan mesum! Jangan pegang ... ah!"Mulutnya bilang jangan pegang, tapi dadanya justr
Read more