LOGIN"Kencang sekali ... sudah haus sekali, ya?" Malam Valentine itu, aku dan sepasang suami-istri yang juga sahabatku melakukan perjalanan darat pulang ke kampung halaman. Tak disangka, istrinya yang sedang setengah sadar, salah mengenaliku sebagai suaminya. Tangan kecilnya yang lembut mulai meraba-raba paha kerasku. Sesekali, dia menggesekkan sepasang buah dada putihnya ke arahku. "Sayang ... mainkan si kecil nakalmu ini, dong!" Mendengar itu, mana mungkin aku bisa menahan diri lagi.
View MoreDi saat genting, Hera mengingatkanku, "Ngh ... hari ini bukan periode amanku."Kata-kata itu bagaikan kembang api yang meledak di kepalaku. "Lalu yang tadi sore ...."Aku sedikit tegang, suaraku bergetar. Bagaimanapun juga, aku hanya ingin menikmati tantangannya, bukan menanggung akibatnya. Hera merasa malu dan memalingkan wajahnya, suaranya mengecil."Nggak apa-apa, aku ... aku sudah membersihkannya."Aku tidak bertanya metode apa yang dia gunakan, intinya aku merasa lega. "Tunggu sebentar, aku ambil di tas dulu ...."Aku pun teringat ada satu kotak pengaman yang belum habis di tasku, jadi aku menepuk pundak Hera agar dia menungguku. Hera mengangguk dan melepas kepergianku. Dari mulai aku keluar sampai kembali membawa barang itu, tidak sampai dua menit.Hera bahkan terheran-heran saat berkata, "Kenapa kamu cepat sekali?"Aku menyeringai nakal. "Aku cepat, ‘kan?"Hera seketika paham maksud kata-kataku, wajahnya memerah dan dia mencaci manja, "Bajingan, menyebalkan!"Karena waktu s
Sisa perjalanan itu kuhabiskan hampir sepenuhnya dengan saling melempar pandang mesra dengan Hera. Tidak kusangka di hari Valentine ini, Tuhan sangat baik padaku dengan mengirimkan seorang kekasih. Hatiku merasa sangat bahagia, sesekali aku masih terbayang akan gairah tadi.Sebelum gelap, kami akhirnya sampai di kampung halaman. Karena hari sudah sore, aku berpikir mereka tidak akan sempat memasak di rumah, jadi aku menawarkan agar mereka makan di rumahku saja. Awalnya Gerry ragu karena takut Hera merasa tidak nyaman. Tapi tak disangka Hera justru setuju. "Boleh saja, maaf jadi merepotkanmu, Felix."Mendengar dia memanggilku "Felix" di depan Gerry, membuat jantungku berdegup makin kencang. Sebelum pulang, aku sudah memberi tahu orang tuaku. Jadi saat kami sampai, hidangan hangat sudah tersaji di meja. Orang tua Gerry sudah lama meninggal, jadi dia pulang hanya untuk berziarah saat hari raya. Orang tuaku mengenal Gerry dengan baik karena kami sudah berteman sejak kecil. Ayahku
"Aduh ... sakit tahu!" Hera seketika lemas, dia bersandar di dadaku sambil terengah-engah. Karena dia sudah begitu agresif, aku tidak boleh mengecewakannya. Aku mengangkat dagunya, memaksanya menatap mataku."Wanita jalang! Buka mulutmu!"Hera patuh dan melakukannya, membuka mulut kecilnya dan memperlihatkan ujung lidah pinknya. Melihat pemandangan itu, aku semakin terbakar. Aku langsung menunduk dan menciumnya dengan liar. Aku menghisap rasa manis dari mulutnya, menelan setiap tetes liurnya. Benar-benar manis ... benar-benar luar biasa ....Di toilet yang sepi itu, hanya terdengar suara basah dari ciuman kami. Suasana terasa sangat erotis dan penuh nafsu. Api gairah semakin berkobar, dan dalam sekejap aku sudah sepenuhnya menguasainya."Kak Hera ... lebih aktif sedikit, oke?"Aku tersenyum nakal sambil merayunya. Hera melirikku dengan manja, lalu benar-benar berbalik membelakangiku dan bersandar di dinding. Dia dengan pelan menunggingkan pantat putihnya yang montok tinggi-t
"Kak Hera, kamu berani sekali!" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pinggangnya yang empuk, sambil menyeringai nakal. Hera tidak peduli, dia malah menggeliat dan mulai mendesak, "Tunggu apa lagi? Aku sudah nggak sabar ...."Tepat saat aku hendak "menyerang", tiba-tiba Gerry berkata, "Kalian mau ke toilet nggak? Di depan ada rest area."Mendengar suara Gerry, aku dan Hera seketika mati kutu karena terkejut. Untungnya Gerry tidak menoleh ke belakang. Kalau tidak, dengan posisi kami seperti ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi.Aku yang pertama kali sadar, segera mengambil jaket untuk menutupi tubuh Hera. Baru setelah itu aku mencoba mengatur napas dan menjawab, "Boleh ... ayo mampir ke toilet!"Gerry mengangguk dan mulai mengarahkan mobil menuju rest area. Karena sebentar lagi sampai, tentu saja aku dan Hera tidak bisa melanjutkan kegiatan kami. Hera tampak tidak puas, bibirnya mengerucut, sepertinya dia sudah sangat ingin.Memanfaatkan kelengahan Gerry, aku berbisi
Tanpa pikir panjang, aku refleks membekap mulutnya. "Kalau kamu teriak kencang, apa kamu mau Gerry dengar?"Mendengar itu, Hera langsung tenang. Hanya matanya yang terus bergerak memperhatikanku, mulai dari wajah, tubuh, sampai ke bagian bawahku yang masih tegak berdiri karena perbuatannya tadi.
Melihat tangannya hampir menyentuh "milikku", aku segera memegang pergelangan tangannya dan memperingatkan dengan suara rendah, "Jangan macam-macam!"Namun, wanita itu sama sekali tidak mendengarkan. Dia justru memelukku semakin erat. Karena tangannya tidak bisa bergerak, dia menggunakan kepalanya
Namaku Felix Karna, tahun ini usiaku tiga puluh tahun. Melihat teman-teman di sekitarku satu per satu sudah mendapatkan istri yang lembut dan cantik, sedangkan aku masih melajang, rasanya sungguh tidak enak. Salahkan saja diriku yang dulu terlalu "buas" sampai pernah membuat seorang wanita masuk r






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.