Waktumu nggak banyak lagi. Gunakanlah sisa waktu ini untuk berpamitan dengan baik ke keluargamu."Suara dokter spesialis itu terdengar lembut, terselip rasa iba di dalamnya, tetapi bagiku, kata-kata itu seperti batu raksasa yang menghantam dadaku.Meski aku sudah lama menduga hasilnya, tetap saja, saat vonis mati itu dijatuhkan, mataku tak kuasa menahan panas yang menggenang.Aku baru 28 tahun. Demi bisa bertahan hidup, aku selalu berjuang sekuat tenaga.Akan tetapi, tak kusangka, jantung donor yang begitu sulit kudapatkan setelah menunggu lama, justru direbut oleh istriku sendiri.Dia memberikannya kepada Julio, si tuan muda palsu yang sebenarnya hanya menderita sedikit gangguan irama jantung prematur.Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju kamar rawat Julio. Di sana, kulihat kedua orang tuaku, istriku, Wanda Irsan, dan putriku, Tiara Didin, semuanya berkumpul mengelilinginya dengan penuh perhatian.Melihatku masuk, Wanda yang sedang menyuapi Julio minum segera meletakkan gelasnya
Read more