MasukDua tahun aku menunggu donor jantung yang cocok, tetapi saat jantung itu akhirnya datang, istriku justru memberikannya kepada Julio Didin, si tuan muda palsu yang selama ini berpura-pura menjadi bagian dari keluarga kami. Dokter memvonis bahwa aku hanya punya satu minggu lagi untuk hidup. Di ambang kematian ini, aku membuat keputusan besar: membekukan tubuhku setelah mati. Lalu, aku menandatangani surat wasiat untuk mendonasikan tubuhku sendiri ke studio milik Julio. Di hari aku menandatangani surat donor itu, putriku berlari ke pelukanku dengan wajah berbinar. Dia berkata betapa bahagianya dia melihat ayahnya akhirnya berdamai dengan sang paman. Orang tuaku pun memuji, mengatakan bahwa aku akhirnya memahami arti persaudaraan dan pentingnya saling membantu. Istriku menatapku dengan lega, seolah beban berat telah terangkat dari bahunya. Dia berkata, "Baguslah, kalau kamu akhirnya bisa membuang prasangka dan mulai berpikiran terbuka." Aku hanya tersenyum tipis. Ya, kali ini aku benar-benar menuruti kemauan kalian. Aku akan mengembalikan identitas Tuan Muda Keluarga Didin ini kepada Julio. Aku akan mengabulkan keinginan kalian semua.
Lihat lebih banyakStudio.Wanda dan yang lainnya tiba dengan terburu-buru. Begitu mendengar maksud kedatangan mereka, staf di sana seketika menunjukkan ekspresi meremehkan dan berkata, "Oh, jadi kalian yang disebut sebagai keluarga oleh Tuan itu?"Wanda dan yang lainnya merasa tatapan staf itu seperti sayatan demi sayatan pisau yang menghujam tubuh mereka.Dengan mata memerah, Lani bertanya, "Di mana putraku? Aku ingin bertemu putraku."Staf itu menjawab dengan dingin, "Putra Anda sudah masuk ke tahap dormansi. Sesuai peraturan, siapa pun nggak boleh menjenguknya.""Kalau nggak, eksperimen pembekuan akan terhenti. Kalau itu sampai terjadi, dia benar-benar nggak akan punya kesempatan lagi untuk hidup kembali."Lani sangat ketakutan hingga segera mengibaskan tangannya dan berkata, "Jangan ... jangan hentikan eksperimennya. Aku nggak perlu menemuinya lagi, aku nggak akan menemuinya."Di tengah perjalanan tadi, Wanda sudah mendengar penjelasan rinci dari asistennya mengenai eksperimen ini. Meskipun baginya
Julio tersentak sadar. Dia buru-buru menyembunyikan senyumnya dan berkata dengan panik, "Mana mungkin. Aku ... aku nggak percaya Kakak meninggal. Ini pasti cuma akal-akalannya saja supaya kita semua ketakutan."Akan tetapi, di dalam lubuk hatinya, dia tahu persis bahwa Farhan memang sudah mati.Sebab dua malam yang lalu, dia sudah menerima informasi data pendonor di grup kerja rumah sakit.Nama pendonor itu adalah Farhan.Hanya saja, karena tidak ada foto yang terlampir, awalnya dia tidak yakin apakah itu orang yang sama atau hanya kesamaan nama belaka.Akan tetapi, sekarang, dia sangat yakin bahwa orang itu adalah Farhan.Memikirkan hal ini, Julio kembali memasang wajah memelas. Dia menjulurkan tangannya untuk memperlihatkan pergelangan tangannya kepada Wanda, di mana terdapat sedikit luka lecet di sana.Dengan nada suara yang sangat iba, dia berkata, "Kak Wanda, sakit sekali ...."Belum sempat Wanda membuka mulut, Yanto sudah mendahuluinya dengan interogasi bernada dingin, "Ibumu sam
Saat ini, di kediaman Keluarga Irsan.Tangan Wanda yang memegang ponsel terus gemetar hebat. Dia menonton video itu berulang-ulang.Di dalam rekaman tersebut, raut wajah Julio yang biasanya tampak polos dan lugu, berubah menjadi sangat bengis dan mengerikan.Dia tidak pernah menyangka bahwa anak domba yang selama ini tampak lembut, ternyata adalah seekor monster pemangsa yang menakutkan.Lani dan Yanto pun merasakan hal yang sama.Saat ini, mata keduanya sudah memerah karena tangis. Lani berujar dengan suara parau, "Sayang, kita benar-benar telah salah paham pada Farhan. Cepat ... cepat cari dan bawa Farhan pulang.""Aku ingin bilang padanya, kalau aku yang salah. Aku yang salah."Yanto menyahut dengan suara tercekat, "Aku akan segera menelepon dokter utamanya. Farhan pasti ada bersamanya.""Dia pasti sedang marah pada kita, itu sebabnya dia berbohong dan bilang kalau dia sudah meninggal. Benar, pasti begitu."Wanda mengangguk setuju. "Benar, kemarin dia masih mengirim pesan padaku, ka
Yanto bertanya dengan nada sedikit terkejut, "Jadi, kamu sudah memaafkannya?"Lani menghela napas panjang dan bertanya, "Sayang, apa menurutmu selama ini kita terlalu keras pada Farhan?""Sekarang, dia sudah mulai menurut. Mulai saat ini, mari kita lebih menyayanginya dan perlahan-lahan mengajarinya dengan cara yang baik."Yanto pun mengangguk setuju. "Aku setuju denganmu."Sebenarnya, Yanto tidak begitu membenci Farhan. Bagaimanapun, 80% wajah Farhan sangat mirip dengannya.Melihat Farhan, Yanto merasa seperti melihat dirinya sendiri saat masih muda.Jika saja Farhan tidak bersikap begitu mengecewakan, Yanto pun tidak akan memperlakukannya dengan dingin hanya demi memberinya pelajaran.Pasangan suami istri itu pun mulai berdiskusi tentang bagaimana cara menebus kesalahan mereka kepada Farhan.Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa saat ini Farhan telah dimasukkan ke dalam peti tidur.Di sisi lain, setelah Wanda berhasil masuk ke vila Keluarga Didin, dia mulai mencari Farhan dengan kalap
Suara Wanda mendadak terdiam.Dia tertegun menatapku, ada rasa panik yang sulit dijelaskan menyusup ke hatinya.Rasanya, sosokku yang sekarang bagaikan selembar kertas putih yang sangat ringan, yang sewaktu-waktu bisa diterbangkan angin ke tempat yang tak lagi bisa dia jangkau.Aku bangkit perlahan,
Wanda menarikku dengan kasar dari tempat tidur dan menyeretku keluar dengan paksa.Dia melangkah terlalu cepat hingga kakiku terbentur keras pada kosen pintu. Suara 'duk' yang keras itu membuat seluruh tubuhku seketika gemetar karena menahan sakit.Akan tetapi, dia hanya menoleh sekilas, lalu kembal
Baru saja menapakkan kaki di depan pintu, rasa nyeri yang menghujam dada nyaris membuatku jatuh pingsan.Aku menyandarkan tubuh ke dinding, lalu perlahan berjongkok. Dengan jemari gemetar, aku menggeledah tas, mencari obat pereda nyeri dosis tinggi dan langsung menelan beberapa butir sekaligus. Hany
Waktumu nggak banyak lagi. Gunakanlah sisa waktu ini untuk berpamitan dengan baik ke keluargamu."Suara dokter spesialis itu terdengar lembut, terselip rasa iba di dalamnya, tetapi bagiku, kata-kata itu seperti batu raksasa yang menghantam dadaku.Meski aku sudah lama menduga hasilnya, tetap saja, s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan