"Alaric, tak peduli iblis seperti apa dirimu sebelumnya, aku tak bisa membencimu."Cecilia menatap Alaric, nada suaranya tegas dan matanya serius.Pengakuan Alaric masih terngiang di telinganya, masa lalu kelam itu seperti duri yang menusuk hatinya.Anehnya, semakin dalam duri itu menancap, semakin jelas perasaannya.Waktu yang dihabiskan bersama Alaric telah menanamkan benih yang tak terbantahkan di hatinya.Perlindungan tanpa kata itu, momen- momen berbahaya saat bersama, kerja sama yang tanpa cela — semuanya telah menggerakkan hatinya yang dulu mati.Alaric mendengar kata- kata Cecilia, matanya berkedip, jakunnya bergerak naik turun, tetapi dia hanya terkekeh pelan, "Terima kasih.""Bukan apa- apa," Cecilia sedikit menundukkan pandangannya.Pada saat itu, sinar matahari menerobos masuk ke dalam ruangan melalui tirai tipis.Cecilia perlahan berjalan ke jendela besar dari lantai hingga langit- langit, menatap pemandangan kota yang kabur di kejauhan, ujung jarinya dengan lembut mengus
Magbasa pa