Melihat itu, Vivian mematikan TV dan perlahan berjalan menghampiri Juniper, bertanya dengan lembut, "Kamu baik- baik saja?"Juniper mendongak menatapnya dengan tatapan kosong, pertama- tama menggelengkan kepalanya, lalu mengangguk.Vivian tersenyum kecil, membantu Juniper yang berwajah pucat duduk di sofa, suaranya santai, "Mau kuberi dia pelajaran? Membalas dendam?"Wajah Juniper semakin pucat."Atau mungkin kita harus memilih sesuatu yang lebih keras?"Vivian melanjutkan dengan nada ringan dan menggoda, berpura- pura tidak memperhatikan reaksi Juniper. "Jika itu untukmu, aku tidak keberatan menghubungi bos kriminal terbesar di Silvermoon City untuk meminta bantuan."Juniper mendongakkan kepalanya, bibirnya sedikit terbuka, "Siapa?"Sebelum Vivian sempat menjawab, Juniper menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil berbisik, "Tidak perlu."Suaranya begitu lembut, seolah bisa pecah kapan saja."Benar- benar tidak perlu?"Vivian memejamkan matanya setengah, tersenyum berbahaya. Dia menc
閱讀更多