Saat perjamuan hampir berakhir, aku bertemu Klara di sebuah lorong sepi. Dia mungkin menyelinap masuk saat suasana sedang di puncak keramaian, berharap bisa mendekati salah satu kepala keluarga dan memohon perlindungan mereka.Rambutnya berantakan, riasannya luntur tidak karuan, dan wajah yang dulu selalu dia rawat dengan cermat kini tampak kusut seperti kertas yang diremas-remas.Begitu melihatku, dia langsung terpaku. Dia ingin lari, tetapi kakinya tidak bisa bergerak."Sera ... Serafina ...."Dia berlutut dan merangkak mendekatiku, matanya merah. "Tolong, ampuni aku. Aku tahu aku salah. Aku tahu betul ....""Aku sombong, aku nggak tahu diri. Serafina, tolong kasihanilah aku. Anggap saja aku ini anjing liar dan usir saja aku ...."Aku menatap sosoknya yang merendah dan menyedihkan itu dari atas, lalu menunduk untuk mendekat ke telinganya."Klara."Aku berkata pelan, kata demi kata, "Kamu tahu kenapa aku nggak langsung menembakmu?"Matanya membelalak karena takut."Karena kematian itu
Read more