LOGINPada malam pesta pertunanganku, aku mendapati sahabatku sedang memainkan permainan berbahaya dengan tunanganku. Aku menemukan mereka di kasino di kapal pesiar pribadi milik keluarga kami. Klara duduk di pangkuan tunanganku, Kafi, pewaris Keluarga Fadilla. Kafi memegang belati keluarga yang tajam, ujungnya mengait tali tipis gaun Klara. Mata pisaunya menelusuri sepanjang tulang selangkanya. Sedikit saja tekanan, kain sutra itu bisa robek. Pemandangan itu terlihat berbahaya sekaligus intim. Aku melangkah maju sambil mengerutkan kening, tetapi Kafi hanya mendengus. "Ini cuma permainan kecil buat meramaikan suasana, Tuan Putri. Nggak usah tegang begitu." Mata Klara menyipit, suaranya manis dibuat-buat. "Kami cuma main permainan tradisional keluarga. Permainan pisau. Kamu nggak keberatan, 'kan, say?" Aku hendak bicara, tetapi ekspresi Kafi mengeras. "Kita baru saja bertunangan dan kamu sudah mau mengatur aku?" Jadi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menarik pistol buatanku dari sarung di pahaku. "Jadi ini permainan?" tanyaku. "Kalau begitu, kita main dengan taruhan sungguhan."
View MoreSaat perjamuan hampir berakhir, aku bertemu Klara di sebuah lorong sepi. Dia mungkin menyelinap masuk saat suasana sedang di puncak keramaian, berharap bisa mendekati salah satu kepala keluarga dan memohon perlindungan mereka.Rambutnya berantakan, riasannya luntur tidak karuan, dan wajah yang dulu selalu dia rawat dengan cermat kini tampak kusut seperti kertas yang diremas-remas.Begitu melihatku, dia langsung terpaku. Dia ingin lari, tetapi kakinya tidak bisa bergerak."Sera ... Serafina ...."Dia berlutut dan merangkak mendekatiku, matanya merah. "Tolong, ampuni aku. Aku tahu aku salah. Aku tahu betul ....""Aku sombong, aku nggak tahu diri. Serafina, tolong kasihanilah aku. Anggap saja aku ini anjing liar dan usir saja aku ...."Aku menatap sosoknya yang merendah dan menyedihkan itu dari atas, lalu menunduk untuk mendekat ke telinganya."Klara."Aku berkata pelan, kata demi kata, "Kamu tahu kenapa aku nggak langsung menembakmu?"Matanya membelalak karena takut."Karena kematian itu
Di jamuan tahunan Dewan, aku memasuki ballroom sambil menggandeng lengan kakakku, suara hak sepatuku bergema di lantai.Penampilanku kali ini benar-benar berbeda dari gaya lamaku yang selalu lembut dan tertutup.Malam ini aku mengenakan gaun beludru hitam panjang. Potongannya yang pas di tubuh membentuk siluet yang berbahaya, dan belahan tinggi di pahaku memperlihatkan sarung pistol yang terikat di kakiku.Selama sepuluh tahun terakhir, aku tidak lebih dari aksesori yang tersenyum di lengan Kafi Fadilla. Namun, malam ini aku adalah Serafina Ruslan.Ruangan itu terdiam sesaat, lalu dipenuhi bisik-bisik pelan.Banyak tatapan tertuju padaku, tetapi yang paling membakar tanpa diragukan lagi adalah tatapan Kafi.Tubuhnya lebih kurus. Untuk pertama kalinya dia datang sendirian, tanpa Klara, tanpa kerumunan pengagum di sekelilingnya.Begitu melihatku, dia menggenggam gelasnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, aku tidak menatapnya.Aku memegang segelas sampanye dan bergerak
Setelah kembali ke kediaman keluarga Ruslan yang menyerupai benteng, aku tidak beristirahat sedetik pun.Ayahku dan para tetua keluarga duduk mengelilingi meja rapat besar dari kayu kenari hitam, wajah mereka dipenuhi campuran keraguan dan ketertarikan.Aku melempar sebuah berkas ke atas meja. Berkas itu masih ternoda air laut dan berbau darah.Itu adalah peta jalur perdagangan Keluarga Fadilla dengan "Kalajengking Hitam", kartel narkoba terbesar di Koralina."Mulai hari ini, Keluarga Ruslan nggak akan menjadi pelengkap bagi siapa pun."Pandanganku menyapu ke seluruh ruangan, suaraku rendah tetapi membawa hawa dingin yang mematikan. "Apa yang telah dihilangkan oleh Kafi akan aku rebut kembali dengan tanganku sendiri."Para tetua saling bertukar pandang. Akhirnya ayahku mengetukkan pipanya dengan pelan, diam-diam mendukung aksi gilaku.Jika aku bukan lagi anak kucing milik Kafi, aku akan menjadi serigala betina dari Keluarga Ruslan.Target pertamaku adalah sumber pemasukan utama yang me
Kabut pagi masih belum terangkat dari dermaga.Mesin kapal pesiar itu dimatikan, dan keheningan berat langsung menyelimuti pelabuhan. Namun keheningan itu tidak mampu menyembunyikan tatapan-tatapan serakah yang ada di sana.Para mata-mata dari Lima Keluarga, dan bahkan beberapa reporter gosip yang tahu kalau satu langkah salah bisa membuat mereka menghilang sudah menunggu di dermaga seperti burung nasar.Mereka semua menunggu satu pemandangan, saat para pewaris Keluarga Ruslan dan Keluarga Fadilla berjalan berdampingan, memamerkan aliansi mereka yang tidak tergoyahkan.Dan semua orang ingin tahu apa sebenarnya arti suara tembakan yang terdengar di laut lepas tadi malam.Peluit panjang terdengar saat kapal merapat. Jembatan kapal perlahan diturunkan, dan aku berjalan keluar sendirian.Gaun sutra merah dari acara pertunanganku sudah kusut dan menempel di tubuhku, berbau asin seperti air laut. Leo dan beberapa pengawal bergegas maju, mencoba menyampirkan mantel di bahuku."Jangan." Aku me
Kafi tidak meraih pistol itu. Dia tertawa pelan, dengan nada santai yang sama seperti saat biasa membujukku. Dengan lembut, dia menangkup wajahku, ibu jarinya mengusap sudut bibirku. Sekilas kebingungan melintas dalam diriku.Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik-bisik."Serafina sudah gila ya?
Suara Klara pelan, tetapi mengandung niat jahat yang pekat, bergema di dalam kabin yang sunyi."Tamu dari Moska itu, Pak Boris."Dia menunjuk pria gemuk di sudut ruangan yang sedang menenggak vodka. Dia adalah utusan dari mafia Rezalia yang terkenal karena kebejatannya."Aku memerintahkan sahabatku
Ketegangan yang aneh menyelimuti kasino.Leo melirik sekeliling dengan canggung, lalu pandangannya berhenti pada pistol yang berkilau itu. Dia memaksakan senyum kaku. "Kalau Tuan Putri sedang ingin bermain, biar aku yang jadi wasit."Dia mengulurkan tangan untuk mengambil pistol itu, tetapi sebuah t
Pada malam pertunanganku, sahabat terbaikku duduk di pangkuan tunanganku, memainkan permainan pisau. Satu kibasan belati di tangan Kafi saja sudah cukup untuk memutus tali gaun sahabatku.Tawa hambar terlepas dari bibirku saat aku menarik pistol buatanku. Kalau memang mau bermain, sekalian saja berm






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews