Short
Memainkan Taruhan Berbahaya Bersama Tunanganku

Memainkan Taruhan Berbahaya Bersama Tunanganku

By:  ShirleyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
5.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada malam pesta pertunanganku, aku mendapati sahabatku sedang memainkan permainan berbahaya dengan tunanganku. Aku menemukan mereka di kasino di kapal pesiar pribadi milik keluarga kami. Klara duduk di pangkuan tunanganku, Kafi, pewaris Keluarga Fadilla. Kafi memegang belati keluarga yang tajam, ujungnya mengait tali tipis gaun Klara. Mata pisaunya menelusuri sepanjang tulang selangkanya. Sedikit saja tekanan, kain sutra itu bisa robek. Pemandangan itu terlihat berbahaya sekaligus intim. Aku melangkah maju sambil mengerutkan kening, tetapi Kafi hanya mendengus. "Ini cuma permainan kecil buat meramaikan suasana, Tuan Putri. Nggak usah tegang begitu." Mata Klara menyipit, suaranya manis dibuat-buat. "Kami cuma main permainan tradisional keluarga. Permainan pisau. Kamu nggak keberatan, 'kan, say?" Aku hendak bicara, tetapi ekspresi Kafi mengeras. "Kita baru saja bertunangan dan kamu sudah mau mengatur aku?" Jadi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menarik pistol buatanku dari sarung di pahaku. "Jadi ini permainan?" tanyaku. "Kalau begitu, kita main dengan taruhan sungguhan."

View More

Chapter 1

Bab 1

Pada malam pertunanganku, sahabat terbaikku duduk di pangkuan tunanganku, memainkan permainan pisau. Satu kibasan belati di tangan Kafi saja sudah cukup untuk memutus tali gaun sahabatku.

Tawa hambar terlepas dari bibirku saat aku menarik pistol buatanku. Kalau memang mau bermain, sekalian saja bermain sampai akhir.

Seluruh kasino langsung sunyi. Semua mata tertuju padaku.

Kafi tersenyum malas. "Jadilah gadis yang baik. Permainan ini bukan buat kamu. Kembali ke kabinmu dan istirahat."

Nada menenangkan sekaligus meremehkan itu adalah nada yang selalu dia pakai, nada yang biasanya disertai hadiah. Sesuatu seperti, "Wilayah baru di Ujung Barat akan jadi milikmu begitu kita berlabuh besok."

Dulu, aku pasti langsung menyerah. Aku akan patuh seperti orang bodoh, menerima hadiah yang dia berikan, lalu menyebutnya sebagai ungkapan cinta. Namun hari ini, aku hanya mencibir tipis dan tidak bergerak sedikit pun.

Suasana semakin menegang.

Klara mengedipkan mata besarnya yang tampak polos. "Serafina, kalau kamu nggak suka ini, kita bisa main permainan lain."

Namun saat berbicara, dia malah menempel lebih erat lagi pada Kafi, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bangun.

Senyum di wajah Kafi memudar, kilatan tidak sabar muncul di matanya.

"Serafina, pesta pertunangan kita belum selesai. Jangan mempermalukan aku di depan semua orang."

Semua orang tahu pewaris Keluarga Fadilla adalah seorang playboy terkenal, dan aku satu-satunya tunangan yang pernah dia akui.

Dulu aku percaya kalau kepatuhanku selama sepuluh tahun akhirnya berhasil menjinakkan binatang buas ini, bahwa itulah yang membuatku bisa mendapatkan pesta pertunangan resmi ini.

Namun sekarang dia mempermalukanku seperti ini, di depan umum, di hadapan semua orang.

Perasaan getir menyapu dadaku, tetapi aku menatap matanya dengan tenang. "Kamu sendiri yang bilang ini permainan," kataku ringan. "Aku bukan tipe orang yang akan mundur."

Klara segera merapat dengan manja, seolah-olah kami masih bersahabat baik.

"Nah, gitu dong! Hanya saja kamu biasanya terlalu penurut, Serafina. Kafi selalu bilang kamu seperti bunga putih paling murni di keluarga ini, dia takut kami memberi pengaruh buruk buat kamu."

Aku mendengus dalam hati. Klara cuma anak bos kelas teri yang menunggangi nama keluarga kami. Namun dia tidak tahu malu, pandai merayu, dan juga lihai membaca orang. Pelan-pelan, dia berhasil menyusup ke lingkaran para sosialita kelas atas.

Hanya lengah sedikit saja, tetapi dia sudah menyelip masuk ke duniaku.

Selama bertahun-tahun dia memainkan peran sahabat setia yang lembut, dan aku memperlakukannya dengan baik. Aku tidak pernah menyangka ambisinya sebesar ini, sampai berani mengincar Kafi.

Aku tersenyum lembut padanya, memakai nada ramah palsu yang biasa kami gunakan. "Nggak kok, say. Kamu berpikir terlalu jauh."

Anggota keluarga yang sejak tadi menonton drama itu akhirnya tersadar dan buru-buru mencoba mencairkan suasana.

"Benar. Sudah malam. Apa gunanya kalau kita nggak bersenang-senang sedikit?"

Yang berbicara adalah Leo, tangan kanan Kafi. Dia melirikku cepat. "Jujur saja, Serafina, kami belum pernah melihatmu menyentuh hal-hal seperti ini. Tapi nggak apa-apa. Kafi sudah ahli kok."

"Kamu nggak perlu takut."

Dia berbicara sambil berusaha keras memberi isyarat dengan mata kepada Kafi.

"Malam ini kalian satu tim. Jangan sampai kalian menyapu bersih semua uang kami."

Namun, Kafi sama sekali tidak menghiraukannya.

Dia tetap duduk bersama Klara, tatapannya jatuh padaku dengan kilatan nakal.

"Sera, ini bukan permainan biasa."

"Begitu duduk di meja, kamu harus mengikuti aturannya. Kamu masih punya kesempatan untuk kembali ke kabin dan istirahat. Kalau kamu nggak mau, nggak usah mengeluh dan menangis saat kamu kalah."

Kata-katanya menusuk hatiku. Aku memaksa diri untuk tersenyum.

Klara tampak sangat bersemangat. Dia dan Kafi saling bertukar pandang. "Gimana kalau kita naikkan taruhannya? Kita main Russian Roulette. Pemenang setiap ronde boleh memerintahkan siapa pun di sini untuk melakukan apa saja."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada pura-pura tulus.

"Tapi kita harus jelas dulu. Serafina belum pernah memegang pistol, jadi kalian semua harus sedikit mengalah. Jangan menindas sahabat terbaikku."

Tawa para pria di kasino langsung meledak, mereka pun melontarkan komentar kasar.

"Aku suka ini! Kalau aku menang, aku akan menyuruh Kafi menyerahkan jalur penyelundupan di pelabuhan kepadaku!"

"Jangan mimpi. Belum ada orang yang bisa mengalahkan pewaris Keluarga Fadilla di dunia ini!"

"Jadi kalau aku menang, berarti putri Keluarga Ruslan harus minum-minum bareng aku? Hahaha!"

Di tengah obrolan yang riuh itu, aku perlahan menegakkan punggungku.

Aku mengambil pistol berat dari atas meja.

Di hadapan semua orang yang menatapku dengan kaget, aku dengan cekatan membuka silindernya dan memasukkan satu peluru.

Dengan bunyi klik pelan, aku menutup silinder itu lalu memutarnya dengan cepat.

"Ayo kita mulai."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
bagus..wanita kuat
2026-04-08 15:54:29
0
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status