Tanganku terangkat, sudah mengepal siap untuk meninju. Di bawahku terbaring tak berdaya Elina si Putri Duyung yang tersohor karena kecantikannya. Gadis itu ketakutan dengan wajahku yang sudah merah bengis. Sebentar lagi mungkin ketenarannya akan musnah karena aku sudah kebelet merontokkan gigi-gigi depannya. Ucapkanlah selamat tinggal pada wajah cantik nan sempurna itu.Mengapa aku bisa ada di posisi ini?Yah. Ini terjadi beberapa menit yang lalu. Mungkin setengah jam.Seperti biasa aku, May, Mimi, Mina dan Momo, kami bergerombol membawa baki-baki makan siang kami. Bercanda tawa dan mengobrol seperti biasa. Kami duduk di salah satu meja bulat seperti biasa.Hingga sesuatu yang tak biasa terjadi.
Baca selengkapnya