Aku berusaha mengalihkan pandangan, namun terlambat. Elina sudah menyadari keberadaanku. Ia berdiri di sana, dikelilingi oleh dayang-dayangnya yang setia, sembari memegang botol parfum kaca berbentuk kerang yang mungil. Luka di sudut bibirnya akibat kejadian di kafetaria tempo hari, masih ditutupi dengan sedikit riasan tebal, namun kilat matanya tidak bisa berbohong. Ia masih mendidih."Oh, lihat siapa ini," suara melengking Elina membelah keramaian trotoar. "Si Gadis Naga yang tidak tahu diri rupanya punya nyali untuk muncul di pusat kota."Langkahku terhenti. Hanna di sampingku refleks meremas ujung bajunya, wajahnya pucat. Aku menghela napas panjang. Satu ... dua ... tiga. Aku memutar tubuhku, menatap Elina dengan tatapan paling datar yang bisa kuberikan.
Baca selengkapnya