LOGINAku duduk, mungkin entah sudah berapa lama di kursi ini. Kursi di dalam kuil di depan tiga lukisan dewa yang berdiri terpajang dengan pose yang sama. Aetherion, Terravon dan Vorthys. Setelah beberapa minggu lebih semenjak kematian Lilia, atau gadis sungguhan yang bernama Reyna. Akhirnya aku bisa menemui salah satu dari mereka lagi. Sang Game Master. Atau para dewa dalam dunia ini. Mereka penentu nasib setiap makhluk di dunia ini.
Aku duduk, mungkin entah sudah berapa lama di kursi ini. Kursi di dalam kuil di depan tiga lukisan dewa yang berdiri terpajang dengan pose yang sama. Aetherion, Terravon dan Vorthys. Setelah beberapa minggu lebih semenjak kematian Lilia, atau gadis sungguhan yang bernama Reyna. Akhirnya aku bisa menemui salah satu dari mereka lagi. Sang Game Master. Atau para dewa dalam dunia ini. Mereka penentu nasib setiap makhluk di dunia ini.Kuil lengang. Waktu doa harian sudah usai. Lilin yang ada di tanganku sudah padam. Aku memerhatikan Aetherion dengan sepasang sayap dan jubah putihnya. Persis dengan yang kulihat dalam mimpi. Aku mulai mempertanyakan yang mana yang kenyataan dan mana yang ilusi."Apa kau belum selesai berdoa?" seseorang menegurku. Suaranya familiar. Kakek Daruz. Ia sudah duduk di sampingku dengan sayap compang-campin
Langit berubah kemerahan. Semakin lama semakin gelap. Abu hitam berterbangan di udara. Aku tak tahu aku tengah berdiri di mana. Mungkin seperti tebing di suatu tempat. Dekat Ashen Peak? Aku mengedarkan pandangan kepada seluruh bagian tempat yang bisa kujamah. Mataku terbelalak.Tubuh Felix seluruhnya berubah biru. Ia terbaring terkapar di tanah bebatuan dengan mata merah terbelalak. Ikaruz tak jauh dari sana, sayap emasnya telah hancur berkeping-keping. Ia tak bergerak. Profesor Jin juga tengkurap, tubuhnya terbelah menjadi dua entah bagaimana. Seseorang dengan tubuh hangus berlutut. Kupikir aku tahu itu siapa. Telinga anjingnya sedikit mencuat meski kulitnya sudah lumer sebagian besar. Pastilah itu Rex. Dan ... aku melihat diriku dan Aegon berbaring bersebelahan. Tubuh Aegon biru dengan mata merah. Dan aku ... sebuah belati menancap di tenggorokanku. Aku berlumuran darah.
Langsung kusembunyikan diriku di balik daun pintu. Rasa takut menggelayuti hati ini. Apa yang akan dia pikirkan jika aku tahu kalau dia dan Profesor Cleon diam-diam telah ....Ah! Aku harus pergi dari sini!"Ukh!"Baru saja aku melangkah pergi, namun tanganku sudah tertahan oleh sebuah cengkeraman. Saat aku berbalik, benarlah itu adalah Felix. Ia menutup pintu itu rapat-rapat. Kemejanya belum terkancing, tapi ia sudah memakai celana bermotif sisik itu."Kau lihat semuanya?" tanyanya dengan sebuah senyuman.Aku menelan ludah. Apa mungkin jawabanku berikutnya akan menentukan rantai di leher pria ini? Saat ini lehernya masih dililit oleh rantai putih yang berkedip
Mataku terbuka. Aku masih terbangun di dunia ini. Dunia aneh yang menjebakku setelah kematian. Dan lagi, hari kemarin lebih menyebalkan. Pertunanganku dengan Aegon telah batal. Setelahnya aku bercinta dengan Rex, melepaskan kemarahan dan nafsuku kepadanya. Angka di lehernya meningkat setelah kami bersetubuh. Dua puluh persen dengan rantai berkedip berwarna merah muda. Rasanya begitu aneh.Permainan ini serasa memaksaku melacurkan diri untuk menang. Brengsek.Sampai kapan aku harus melakukan hal memuakkan ini? Kupikir permainan berkencan adalah soal bagaimana aku dan yang lain memiliki rasa yang mendebar, yang menegangkan. Rasa yang bikin perutku penuh dengan kupu-kupu. Rasa menyenangkan saat jatuh cinta. Tapi seperti semua itu tak begitu penting."Nona Lysa," Hanna meman
"Ki-Kita di ruang kesehatan," desisku. Tanganku menghentikan dadanya yang keras untuk menahan tubuh besar Rex dari upaya untuk menindihku. Dan dari segala upaya yang kupikir akan datang berikutnya."Justru bukankah ini salah satu fungsi ruang kesehatan?""Ha?""Birahi tidak boleh ditahan. Jika ditahan, kau menolak dirimu sebagai makhluk yang bernyawa. Dan kau bisa sakit."Belum sempat aku menanyakan sakit apa yang diderita jika nekat menahan birahi, Rex sudah kembali menciumiku.Aroma tubuhnya yang penuh dengan aroma kelaki-lakian bisa kuendus seluruhnya. Tubuhku yang terbaring di kasur ini sudah memanas. Aku menanti-nanti tangannya yang kasar untuk menjamahku.
"Merasakan ... ku? Apa maksudmu?"Ia mengangkat daguku hingga aku mendongak. Wajahnya terlihat jelas. Rantai di lehernya menjadi merah muda. Angka berada di lima belas persen. Aneh. Aku bahkan tak punya banyak interaksi dengannya, tetapi mengapa bisa tiba-tiba meningkat drastis. Dan ... mengapa merah muda?Wajah kami dekat. Bibir kami bertemu. Aku terbelalak. Dia menciumku. Tunggu. Aku tidak berpakaian, dan dia tak memakai baju atasan ... dan kami berciuman di bilik ruang kesehatan!Lalu ciuman kami lepas. Mata kami bertemu. Mungkin aku memandangnya dengan penuh pertanyaan."Rasamu seperti bulan purnama."Ia membelai rambut perakku. Menggenggam sejumput yang menggantung di dekat bahu, lalu mengendusnya."Bulan. Aromamu seperti bulan.""Bulan? Aku tidak tahu kalau bulan itu punya aroma.""Punya. Ia beraroma sepertimu. Dan ... terasa sepertimu."Ia mengangkat daguku sekali lagi, dan menciumku. Jantungku berdegup kencang. Seluruh tubuhku terasa panas. Darahku bagai mendidih. Dan aku mera







