Kabut malam semakin tebal menyelimuti jalur hutan ketika iring-iringan kendaraan lapis baja milik Erebos berhenti perlahan di tengah jalan berlumpur, sementara lampu sorot mereka memotong gelapnya pepohonan seperti mata predator yang baru saja menemukan mangsa. Suara mesin berat masih menggeram rendah di udara dingin, bercampur aroma mesiu, tanah basah, dan darah yang mulai memenuhi area pertempuran.Indra berdiri diam beberapa meter dari Kaine dengan napas tetap stabil meskipun darah dari bahu kirinya terus mengalir perlahan membasahi pakaian hitamnya. Tatapannya kini mengarah lurus ke kendaraan Erebos paling depan, sementara insting bertahan hidupnya langsung memberi satu kesimpulan yang membuat suasana di kepalanya berubah jauh lebih sunyi.Mereka datang bukan untuk berburu biasa.Mereka datang karena sesuatu yang jauh lebih besar akhirnya mulai bergerak.Kaine yang masih berlutut di tanah berlumpur terkekeh pelan sambil menyeka darah di dagunya menggunakan punggung tangan. Tulang
続きを読む