Setelah telepon itu terputus, Indra tidak langsung bergerak. Ia masih berdiri di tempatnya, menatap layar ponsel yang kini sudah gelap, seolah berharap Clara akan menelepon lagi dan mengatakan semuanya hanya lelucon. Namun tidak ada apa-apa selain keheningan yang menekan. Napasnya terasa berat, sementara kartu hitam di tangannya seperti berdenyut pelan, mengingatkannya pada sesuatu yang belum ia pahami.Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap ujung lorong yang kosong. Di kepalanya, wajah Dina muncul begitu jelas, bersama semua kenangan yang pernah mereka lalui. Ada tawa, ada harapan, dan ada janji yang kini terasa seperti milik orang lain. Meski sudah dihina dan diusir, bagian kecil di dalam dirinya tetap ingin kembali.“Aku harus pulang,” gumam Indra pelan, suaranya terdengar lelah tapi penuh keputusan. Ia menggenggam kartu itu lebih erat sebelum akhirnya melangkah pergi. Dalam langkahnya, ada harapan yang tidak masuk akal, tetapi tetap ia pertahankan. Ia ingin percaya bahwa semua b
Read more