“Tunggu, jangan bergerak,” kata Marcellino tiba-tiba. Ia mengambil serbet dan dengan lembut menyeka keju yang menempel di sudut bibir Freya. “Nah, sudah.”Percakapan mereka mengalir begitu saja tentang makanan, musik, film, hobi, hingga perjalanan.“Kalau kamu bisa pergi ke mana saja sekarang, kamu mau ke mana?” tanya Freya, matanya berbinar penasaran.Marcellino sempat terdiam. Ia sudah mengunjungi banyak tempat di dunia, hampir semua yang pernah ia impikan sejak mendapatkan kesuksesan pertamanya.“Saat ini? Aku tidak tahu,” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Aku cukup senang di tempatku sekarang. Kamu?”Freya tersenyum, seolah membayangkan sesuatu yang indah. “Aku ingin sekali ke Maladewa. Berjemur di bawah matahari, minum koktail, dan melihat matahari terbenam.”“Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”Freya tertawa, lalu tanpa sadar mengambil soda milik Marcellino dan menyesapnya.Hal kecil itu justru membuat Marcellino berpikir lebih jauh. Ia teringat pada kesepakatan bisnis yang se
Terakhir Diperbarui : 2026-05-15 Baca selengkapnya