Se connecterFreya dan bosnya, Marcellino, sepakat untuk membalas dendam pada mantan kekasih masing-masing dengan berpura-pura berpacaran. Namun rencana itu perlahan menjadi bumerang ketika perasaan palsu yang mereka mainkan mulai berubah menjadi nyata. Selama dua tahun, Freya Larasati Ruiz bekerja sebagai sekretaris Marcellino Pradana, seorang miliarder sukses dan berpengaruh. Bagi Marcellino, Freya tak lebih dari rekan kerja yang selalu tampil konservatif, dengan rambut dikepang rapi dan sikap profesional yang patuh pada setiap perintahnya. Tetapi segalanya berubah ketika hati Freya hancur akibat cinta pertamanya, sementara Marcellino berjuang menahan diri untuk tidak terlibat kembali dengan Ivanka—mantan kekasihnya yang kini menjadi istri salah satu kliennya. Dalam keputusasaan, mereka sepakat untuk saling membantu dengan berpura-pura menjalin hubungan. Toh, seberapa sulit sih berpura-pura jatuh cinta?
Voir plusFreya menepuk dahinya panik. "Astaga! Di mana ponselku?"
Ia lalu menggaruk kepalanya, membuat serpihan putih berjatuhan di atas setelan bisnis hitamnya seperti salju tipis. Ketombenya terasa semakin parah. Mungkin karena ia selalu mengikat rambutnya menjadi sanggul, dan gaya rambut itu sangat disukai pacarnya. Atau bisa jadi karena sampo baru yang akhir-akhir ini ia gunakan. Apa pun penyebabnya, saat itu ia tidak peduli. Ia hanya perlu menemukan ponselnya. Dengan gelisah, Freya mengobrak-abrik apartemennya yang berukuran lima puluh meter persegi. Ia melempar bantal, pakaian, majalah, dan berbagai barang lain seperti binatang buas yang kehilangan kesabaran. Di mana ia meletakkannya? Saat tiba di rumah, ia hanya sempat pergi ke kamar mandi, lalu melepas jaket dan merebahkan diri di tempat tidur. Tiba-tiba kesadaran menghantamnya. "Ya Tuhan... sepertinya aku meninggalkannya di kantor!" Ia segera melirik jam tangannya, sudah pukul enam sore. "Sialan. Aku harus mengambil ponselku sekarang. Naufal akan meneleponku nanti sekitar jam delapan." Naufal Saputra, pacarnya yang tampan dan menawan, adalah seorang reporter lapangan baru di salah satu stasiun televisi nasional. Saat ini Naufal berada di Yogyakarta untuk meliput kasus anak hilang. Pria itu sangat bersemangat terhadap pekerjaannya dan segala hal yang ia lakukan dalam hidup. Itulah alasan Freya selalu mendukungnya, ia yakin Naufal melakukan semua itu demi masa depan mereka. Freya bertemu Naufal dua tahun sebelumnya. Saat itu ia berusia dua puluh satu tahun dan baru saja lulus dari kursus kesekretariatan. Seorang teman memperkenalkan mereka di sebuah pesta ulang tahun. Freya langsung terpikat oleh penampilan Naufal yang maskulin. Rambutnya lurus berwarna hitam kecoklatan, mengingatkannya pada Leonardo Dicaprio muda. Matanya yang tajam dan menggoda serupa dengan milik Brad Pitt, sementara senyum sensualnya mengingatkan pada Zayn Malik. Mereka sempat berkencan sebelum akhirnya resmi menjalin hubungan. Memikirkan hal itu membuat Freya tersenyum. Naufal sempat mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan saat kembali nanti. Dalam hati, Freya berharap itu adalah sebuah lamaran. Bayangan tersebut membuat jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. Tanpa membuang waktu, Freya berlari keluar apartemen menuju kantor, ia kesal pada dirinya sendiri karena kecerobohannya. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan ponselnya? Benda itu bagian penting dari hidupnya. Freya berdiri di trotoar, menunggu taksi ketika tiba-tiba rintik hujan turun. "Astaga! Hujan! Brengsek." Dalam hitungan detik, setelan jas kerjanya mulai basah. Ia menatap jalan dengan frustrasi, bertanya-tanya ke mana perginya semua taksi saat ia sangat membutuhkannya. Setelah lima menit yang terasa lama, sebuah taksi akhirnya berhenti di depannya, dan Freya segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Sopir taksi itu menatap Freya tajam melalui kaca spion. "Mbak, tolong tetap duduk di satu sisi saja. Anda membasahi sarung jok kulit baru saya." Sopir taksi itu terdengar kesal, seolah menyesali keputusannya berhenti untuk menjemputnya. "Baik, Pak." Freya segera merapat ke sudut kursi dan duduk diam seperti kelinci basah. Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan Menara Pradana, dan Freya berlari menuju pintu masuk gedung. Selama dua tahun terakhir, ia bekerja di Pradana Holdings Company sebagai sekretaris pribadi CEO sekaligus pemiliknya, Marcellino Pradana. Pekerjaan itu sangat menekan. Atasannya terkenal menuntut, disiplin, memiliki ekspektasi tinggi, dan mudah marah. Tidak seorang pun berani membantahnya. Meski begitu, gajinya sangat besar jauh di atas standar rata-rata di Jakarta. Di lobi, kepala petugas keamanan menyapanya. "Anda sudah kembali, Bu Freya. Apakah Anda lupa membawa payung?" "Ha ha, itu lucu, dan aku meninggalkan ponselku di meja." Freya tersenyum singkat sebelum berjalan menuju lift. Lampu di lantai kantor masih menyala. Ia sedikit terkejut. Hmm… bosnya rupanya masih berada di gedung. Freya bergegas ke mejanya dan menghela napas lega saat melihat ponselnya tergeletak di atas map berwarna oranye. Syukurlah. Ia hendak pergi ketika sesuatu menarik perhatiannya. Apa ini? Matanya tertuju pada sehelai kain merah tipis yang tersangkut di tempat pensilnya. Dengan ragu, ia mengangkat benda itu setinggi mata. Bentuknya langsung membuatnya membeku, itu celana dalam model thong. Dengan refleks, Freya menjatuhkannya ke lantai, merasa jijik karena sempat menyentuh pakaian dalam orang lain. Ia segera membuka laci, mengambil sebotol alkohol, dan membersihkan tangannya dengan tergesa-gesa. Pertanyaan berputar di kepalanya. Celana dalam siapa itu? Siapa yang menaruh benda itu di mejanya? Baginya, hal itu sama sekali tidak lucu. Ia memutuskan akan melaporkannya ke Departemen Sumber Daya Manusia keesokan hari. Siapa pun pelakunya harus ditegur. Ia yakin atasannya tidak akan senang jika mengetahui kejadian tersebut. Freya menutup laci tepat saat ia mendengar seseorang mengerang seperti binatang yang terluka. Dia berhenti dan mendengarkan suara itu. Apakah suara itu berasal dari kantor Pak Marcellino? Freya mendekat ke pintu kantor Marcellino, menempelkan telinganya ke pintu, ketika tiba-tiba pintu itu terbuka dengan keras. Ups! Sial! Freya langsung terjatuh ke lantai, dan menatap punggung telanjang yang berkeringat milik Marcellino. Rahangnya ternganga. Pantat yang seksi sekali... Pandangannya terpaku pada tubuhnya yang panjang dan ramping. Dia tampak sangat kuat dan berotot, seperti binatang buas, dengan kasar dan liar mendorong alat kelaminnya masuk dan keluar dari... Freya mengedipkan mata beberapa kali. Ia harus pergi. Demi Tuhan. Bosnya sedang berhubungan seks di atas mejanya dan Freya menonton mereka seperti menonton pertunjukan film porno langsung. Lalu, ia mendengar wanita itu berteriak, "Lebih dalam, Sayang... Aku sedikit lagi sampai..." Tunggu. Logat itu terdengar familiar. Apakah itu Bu Ivanka? Oh-oh... Seseorang akan mendapat masalah. Mereka begitu sibuk berhubungan seks sehingga belum menyadari keberadaanya. Freya menutup pintu perlahan dan menghela napas lega. Ia meraih ponselnya dan berlari keluar kantor.Freya merasa lega setelah menutup telepon.Ia masih teringat bagaimana sikap dingin Marcellino saat meninggalkan penthouse pada Sabtu pagi. Pria itu tidak menghubunginya sepanjang akhir pekan, seolah menjaga jarak. Hal itu sempat membuatnya berpikir bahwa Marcellino mulai kehilangan minat padanya, dan itu cukup mengganggu.Ia terus memikirkan pertengkaran mereka. Kata-kata yang saling menyakiti masih terngiang di kepalanya.Karena itu, panggilan tadi terasa seperti angin segar. Marcellino adalah orang terakhir yang ingin ia jadikan musuh.Akhir pekannya pun berjalan seperti biasa.Sabtu pagi ia mencuci dan menyetrika pakaian. Siang harinya dihabiskan dengan mengobrol lama bersama orang tuanya melalui telepon, lalu membaca cerita di Good Novel. Malamnya, ia menonton film di Netflix ditemani popcorn karamel atau keju cheddar.Hari Minggu ia pergi ke gereja, makan siang dengan porsi besar, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, membeli beberapa kaus, mencetak foto dari Instagram, dan berb
Marcellino merasa perlu menenangkan diri dan menata kembali pikirannya. Semua ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Baru dua minggu sejak kontrak itu ditandatangani, tetapi ia sudah merasa melanggarnya.Dengan jelas tertulis bahwa tidak boleh ada hubungan apa pun antara dirinya dan Freya. Namun kenyataannya, ia justru mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan termasuk keinginan untuk berhubungan intim dengannya.Ia sadar, ia tetaplah seorang pria. Sulit baginya untuk tidak tertarik pada Freya, seorang wanita yang bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki kepribadian yang hangat dan menyenangkan.Freya adalah salah satu orang paling baik dan penuh perhatian yang pernah ia temui.Marcellino menikmati setiap momen kebersamaan mereka. Freya membuatnya tertawa, membuatnya merenung tentang arti hidup, membuka sisi lembut dalam dirinya, dan yang paling mengganggu sekaligus menenangkan, Freya membuatnya bahagia. Bahkan hanya duduk di samping wanita itu tanpa melakukan apa p
Mata Freya terasa sangat berat saat bangun tidur. Ia memaksa matanya untuk terbuka sedikit dan menyesuaikan diri dengan sinar matahari. Kemudian ia menyadari ada sesuatu yang hilang yang membuatnya membuka mata lebih lebar.Bingkai foto besar di depan tempat tidurnya hilang! Di mana? Siapa yang mengambilnya?Ya Tuhan... siapa lagi kalau bukan Marcellino!Tidak, tidak... Ia tidak boleh kehilangannya. 'Kumohon, Tuhan.'Freya akhirnya keluar dari kamar dan berhenti ketika melihat pintu ruangan misteri itu, yang belum pernah dibuka sejak ia tiba di sini, sedikit terbuka. Cahaya matahari menyelinap dari dalam, menciptakan garis terang di lantai.Ia terkejut, bingung, dan jantungnya berdebar kencang. Siapa yang membuka pintu? Marcellino pulang tadi malam dan ia sendirian di rumah ini.Perlahan, Freya berjalan menuju ruangan itu, dan membuka pintu lebih lebar. Seketika ia terkejut saat memasuki ruangan itu. Ia pikir itu gudang. Ternyata itu ruangan yang sangat besar - kamar tidur utama!Frey
"Ya Tuhan, Lino... lebih keras... lebih keras. Ohhh aku suka itu, lebih cepat... ya Tuhan... jangan berhenti, jangan berhenti... ohhh ya... ya... ya!"Freya ambruk di sofa dengan ekspresi sangat puas. Matanya terpejam, tersenyum sambil bertanya. "Lino... Kenapa kamu begitu manis?"Manis? Alis Marcellino sedikit terangkat. Tidak ada yang pernah menyebutnya manis sebelumnya. Jika saja mereka tahu siapa dirinya sebenarnya, apa yang berkecamuk di dalam pikirannya, bagaimana cara ia memandang dunia, mereka tidak akan pernah menggunakan kata itu.Ia benar-benar sekeras batu.Erangan dan jeritan Freya membuat Marcellino mendambakan pelepasan. Tubuhnya memerah dan ia berkeringat deras.Marcellino menatap Freya lama, setiap detail wajah dan tubuh gadis itu, yang sedang meregangkan tubuh di sofa seperti anak kucing dengan piyama tipis berwarna peach itu. Sial! Ia sangat ingin melepaskan piyama itu darinya, saat itu juga.Marcellino seperti banteng di dalam arena yang menghadapi matador, bernapa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires