“Kak Aurel, aku … boleh tidak kalau aku tidak jadi menjabat sebagai wakil manajer?” Jeffry berkata dengan nada panik.Ekspresinya membuat hati Aurel terasa tidak nyaman.Dia mengerucutkan bibirnya sejenak, lalu berkata dengan lembut namun tegas, “Jeffry, kamu masih muda. Kamu harus lebih banyak ditempatkan di posisi yang lebih penting. Kamu mengerti maksudku, kan?”Wajah Jeffry langsung pucat, bahkan tubuhnya sedikit goyah, seolah sulit menerima kenyataan itu.Namun dia juga menangkap ketegasan dalam nada suara Aurel. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya menunduk lesu.“Baiklah … Kak Aurel, aku mengerti.”Entah kenapa, hati Aurel terasa sesak.Dia menarik napas pelan, lalu melanjutkan, “Dan satu lagi, ke depannya kalau masuk ke ruanganku, ingat untuk mengetuk pintu.”“Baik.”Wajah Jeffry tampak muram, matanya bahkan sedikit memerah. Dia hanya menjawab pelan, lalu berbalik seperti anjing kalah.Melihatnya seperti itu, Aurel justru semakin tidak enak hati.Saat dia hampir keluar, Au
Read more