Mata Jeffry tiba-tiba membelalak. Saat melihat tatapan Julian, bulu kuduknya langsung berdiri.Dia menelan ludah, lalu melirik ke arah Aurel di samping, segera memasang ekspresi penuh keluhan. “Kak Julian! Aku tahu kamu curiga sama aku, tapi aku benar-benar nggak dorong kamu. Waktu itu orangnya banyak banget, kamu pasti kedorong keluar.”Aurel mendekat, menarik lengan Julian pelan.“Sayang … soal ini pasti aku selidiki sampai jelas. Apa yang Jeffry bilang juga masuk akal, waktu itu memang ramai .…”Belum selesai dia bicara, Julian sudah paham maksudnya.Sampai sekarang … kamu masih bela “adik angkat kesayanganmu” ya .…Dia hanya menggeleng.“Dia yang lakuin atau bukan, aku tahu sendiri.”Wajah Aurel langsung berubah tidak enak. Dia melirik Jeffry, lalu berkata, “Sebenarnya Jeffry juga nggak bersalah .… Sayang, kamu sudah mukul dia sampai separah itu, dia juga sudah minta maaf. Sudahlah, kita anggap selesai saja.”Selesai?Julian mencibir dalam hati.Dia hampir dibunuh … tidak, bahkan s
Read more