Wajah Julian langsung muram. Dia menatap istrinya dengan dingin tanpa berkata apa-apa.Aurel agak gemetar melihat tatapan itu, tapi dia tetap memaksakan diri berbicara, “Sayang, Jeffry sudah datang. Toh kamu memang mau masak sarapan, tinggal tambah satu porsi saja ….”Julian menjawab datar, “Oh, begitu? Adik kesayanganmu datang, bukannya kamu yang seharusnya masak sendiri?”Wajah Aurel langsung memerah. Dia berkata dengan nada emosi, “Kamu jelas tahu aku nggak bisa masak ….”“Kalau nggak bisa, diam saja.” Julian memotongnya tanpa ampun.Ekspresi Aurel langsung muram.‘Julian, aku cuma minta kamu masak sarapan, tapi sikapmu malah seperti ini? Keterlaluan!’Dia merasa sangat tersinggung. Biasanya suaminya memang selalu menyiapkan sarapan. Hari ini cuma butuh tambah satu porsi, memangnya apa masalahnya?Di sisi lain, Jeffry diam-diam senang melihat keduanya bertengkar. Namun, dia menjaga ekspresinya tetap datar.Setelah berpikir sejenak, dia memasang ekspresi bersalah sambil berkata, “Kak
Read more