"Lia, apa kamu tidak mau lagi melihat Kakak?" tanya Bimo. "Tapi aku mau sama Ibu, Kak." "Iya, sadarlah. Masa depan kamu itu masih panjang. Ibu akan bahagia dari atas sana ketika melihat kamu itu bahagia dan sukses. Kamu tahu, kamu harus tetap semangat melanjutkan semua ini." Bimo mengguncang tubuh Lia, menahan sesak di dadanya melihat adiknya yang begitu rapuh. "Untuk apa, Kak, kalau tidak ada Ibu?" "Untuk dirimu sendiri, Lia. Kehilangan bukan berarti semuanya harus hilang. Masa depan kamu tidak boleh hilang. Kakak akan mengusahakan apa pun untuk masa depan kamu." Lia tidak lagi menjawab. Dia duduk luruh di depan makam sang ibu dengan air mata yang terus mengalir. Bimo menghela napas berat, menatap langit yang kini mulai kelabu. Hujan masih mau turun. Sepertinya kemarau belum juga tiba tahun ini. "Lia, ayo kita pulang. Mau hujan, nanti kamu sakit," ujar Bimo menarik tangan sang adik. "Aku mau di sini aja, Kak. Aku mau menemani Ibu. Ibu tidak boleh hujan-hujanan sendirian. Ibu
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-10 Mehr lesen