LOGINTerjepit utang keluarga dan biaya operasi ibunya, Bimo terseret ke lingkungan sosialita elit yang menjadikannya lebih dari sekadar instruktur—melainkan “hadiah” dalam lingkaran Arisan Mewah yang penuh rahasia. Di bawah ancaman rekaman panas yang dipegang Nyonya Rossa, ia kini tak punya pilihan selain menyerahkan tubuhnya pada permainan para nyonya kaya yang haus akan sensasi terlarang.
View More“Nak, maafkan bapak dan Ibu ya. Kamu sampai harus kerja merantau demi kami…”
Bimo mengusap wajahnya yang berminyak. Tangannya gemetar memegang ponsel, mendengar suara parau ibunya. Di hadapannya kini berdiri rumah mewah bercat putih dengan pagar setinggi dua meter. Bimo tak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di kompleks elite seperti ini. “Ndak apa-apa Buk, Pak. Sudah seharusnya Bimo melakukan ini demi keluarga…” ucapnya sebelum akhirnya ia mematikan panggilan itu. Sambil memarkirkan motor Supra tua bututnya di pinggir jalan, ia teringat alasan kenapa ia harus menempuh perjalanan berjam-jam dari desanya menuju tempat ini. Beberapa hari lalu, rumahnya tiba-tiba diserbu rentenir dan tengkulak. Ayahnya ternyata memiliki utang puluhan juta, dan menggadaikan satu-satunya harta mereka, yakni sepetak tanah garapan untuk kehidupan sehari-hari keluarga. Belum lagi ibunya yang tengah sakit keras. Ia memerlukan biaya pengobatan yang besar serta transportasi bolak-balik ke rumah sakit pusat kabupaten tempat mereka tinggal. Sebagai pemuda desa lulusan SMA pelosok, Bimo tak punya pilihan. Apa yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidup selain menjadi petani, sama seperti bapaknya? Sampai suatu ketika, salah seorang warga bernama Bu Tuti, yang kerap pergi dari desa ke kota menawarkannya sebuah pekerjaan sebagai instruktur mengemudi. Terbiasa mengendarai mobil pick up milik seorang Haji yang menjadi tengkulak di desanya, Bimo tentu saja menyambut baik tawaran itu. “Syaratnya, harus tampan dan memiliki tubuh kuat dan kekar!” Pekerjaannya instruktur mengemudi, tapi kenapa yang diminta pemuda tampan dan kekar? Bimo sempat curiga. Namun, karena kebutuhan mendesak melunasi utang ayahnya dan mencari biaya pengobatan untuk ibunya, ia tak lagi ambil pusing. Kini, ia sudah sampai di rumah client pertamanya. Entahlah apa arti client itu, namun tetangga yang menyalurkannya bilang, orang-orang yang mempekerjakannya itu disebut client. Bimo merapikan kemeja putih murahnya yang sesak di bagian bahu karena otot padat hasil kebiasaan memikul gabah. "Mau kemana?" tiba-tiba seorang satpam mengagetkan Bimo. "Mau masuk," jawab Bimo refleks. Satpam itu mengernyit, mungkin heran melihat seorang dengan penampilan biasa saja bahkan lebih tepatnya lusuh berdiri di depan gerbang. Apalagi asap motor Bimo cukup mengganggu. Dan dengan santainya mengatakan mau masuk. "Kau pikir ini tempat apa?" "Rumah." "Astaga, sudah sana pergi! Jangan membuat masalah." "Saya mau bertemu Bu Selvi." Bimo baru teringat nama yang disebutkan oleh Bu Tuti sebagai klien pertamanya. "Untuk keperluan apa?" "Saya instrukturnya." Satpam itu tampak mengangkat telepon di ujung meja dan entah apa yang ia bicarakan, Bimo hanya melihat ia berkali-kali mengangguk. "Langsung masuk saja!" ujar satpam itu kemudian sambil meletakkan kembali gagang teleponnya. Pintu pagar perlahan terbuka, Bimo melajukan motornya mengikuti arahan dari satpam dimana rumah tujuannya. Komplek itu sangat luas, rumahnya tidak terlalu banyak tapi sangat besar-besar dan luas. Satu rumah mungkin bisa mencapai sepuluh kali lapangan bola kaki. Rumah yang dituju terletak pada sudut paling ujung, terlihat cukup sepi dari luar. Bimo menekan bell. Tidak lama, seorang wanita yang masih cukup muda membuka pintu. "Maaf, saya Bimo. Saya instruktur yang ditugaskan kesini," ucap Bimo dengan terbata-bata dan menunduk. "Saya Selvi, silakan masuk." "Terima kasih." Bimo masih terus menunduk. Bagaimana tidak? Selvi menyambutnya dengan slip dress sutra merah tanpa bra. Bimo bisa melihat dengan jelas titik kecil itu tercetak sempurna. Bimo tidak berani menatapnya, sebagai lelaki normal melihat pemandangan itu tentu saja ada yang berdenyut dalam dirinya. ‘Gila! Apa orang kota berpakaian begitu semua?!’ Jika di desanya, pakaian seperti Selvi itu sudah dianggap setengah telanjang. Tubuh Bimo panas dingin. "Silakan duduk," ucap Selvi dengan suara lembut dan mendayu. Selvi terus melirik ponselnya, mengetik sesuatu di handphone dengan senyum licik. Grup arisan. Iya, ia sedang berselancar di sebuah grup. Selvi bergumam, "Rossa benar, barang aslinya jauh lebih 'menantang' daripada fotonya." Bimo yang polos hanya menunduk sopan sambil memainkan kedua tangannya yang saling bertaut. "Jadi, hari ini kita bisa mulai?" tanya Selvi duduk di hadapan Bimo dengan kedua paha yang bertumpu. Sehingga Bimo bisa melihat pahanya yang putih mulus itu. "Bi-bisa, Nyonya." Bimo menjawab dengan tergagap. "Kalau begitu, sebentar lagi kita akan mulai." "Baik, Nyonya." Bimo mengangguk. Ia melirik ke arah Selvi, wanita itu tetap mengenakan dress yang sama. Pikir Bimo itu akan menyulitkan saat latihan. "Nyonya, apakah tidak mengganti pakaian terlebih dahulu?" tanya Bimo memberanikan diri. "Saya orangnya tidak tahan panas, pakaian begini lebih santai," jawab Selvi sambil mengedipkan matanya. "Baiklah." Kini, keduanya sudah di dalam mobil. Sebagai pelatih, Bimo duduk pada kursi penumpang, sedangkan Selvi yang berada di bagian pengemudi. Di dalam Range Rover yang kedap suara, Selvi sengaja menurunkan tali gaunnya, sehingga sebelah aset gunung kembarnya hampir terlihat sempurna membuat Bimo hanya bisa menunduk. "Bimo, tolong aturkan spion tengah ya. Aku kesulitan melihat ke belakang," ujar Selvi pura-pura sibuk. Padahal, itu hanyalah trik kecilnya. "Nyonya, kita belum perlu melihat ke belakang." "Aku harus memundurkan mobilnya kalau mau keluar." Bimo menurut, ia tampak sibuk mengatur spion tengah, dan pada saat itu wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Selvi tidak bisa menahan diri, Selvi menarik tangan kasar Bimo ke pangkal pahanya yang panas. "Bimo, apa rasanya jika tangan kekar ini ‘menyetir’ tubuhku ya?""Apa kamu serius, Bimo?" tanya Pak Rahmat.Bimo menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan foto yang ia ambil. Terlihat jelas bekas potongan rapi di tengah besi motor Pak Rahmat."Berarti ini saat Bapak di sawah parkir. Mungkin ada yang diam-diam melakukan ini pakai gergaji besi," ucap Bimo."Siapa yang mau membunuh bapak kamu?" tanya Sulis."Biar aku selesaikan, Bi. Bibi tidak perlu khawatir dan Bibi juga tidak perlu merawat Bapak di sini. Biar aku saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku akan menetap di sini," ucap Bimo.Pak Rahmat menatap Bimo tidak percaya. Keputusan Bimo tampak terdengar terburu-buru. Tapi jujur dalam hatinya merasa senang akhirnya anaknya mau kembali ke desa.Pun dengan Alena dan Lia, keduanya langsung menatap Bimo tidak berkedip mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo.Mereka tidak menyangka kalau akhirnya Bimo memutuskan tidak kembali lagi ke kota."Nah, gitu harusnya. Sejak ibu kamu meninggal tidak usah pergi ke mana-mana. Katanya sudah beli banyak sawa
"Kak Bimo, tunggu!" teriak Lia yang berlari menyusul Bimo, buru-buru masuk ke dalam rumah.Tampak beberapa orang menoleh ketika melihat Bimo dan Lia datang."Bimo, akhirnya kamu pulang," sambut para tetangga melihat kedatangan Bimo."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Bimo."Bapak kamu mengalami kecelakaan, Bim. Tadi saat mengangkut gabah dari sawah, motornya tiba-tiba belah dua."Seorang lelaki paruh baya menjelaskan kepada Bimo apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Bapaknya Bimo sudah berada di rumah, baru dibawa pulang dari puskesmas.Beliau mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya dan tertimpa gabah."Belah dua? Bagaimana?" tanya Bimo heran."Iya, antara kepala dan belakangnya itu belah jadi dua gitu. Nggak tahu kenapa, besinya kayak patah."Bimo mendekat. Bapaknya tampak sudah sadar, tapi menurut beberapa orang kaki dan tangannya mengalami keseleo."Bapak!" panggil Lia yang langsung memeluk Pak Rahmat yang kini terbaring di kasur. Beliau dirawat oleh adik kandungnya yang memang
Alena terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Bimo, karena yang ia tahu seharusnya hari ini Bimo bertemu dengan ibunya untuk memutus rantai perjanjian yang menjerat itu."Hah? Apa yang terjadi? Dia mengancammu?" tanya Alena.Bimo menghela napas berat dan memegang kepalanya. Rasanya begitu sakit. Ia terbentur antara prinsip dan kenyataan."Nyonya Rossa menggunakan keselamatan Lia untuk menekanku."Alena menggelengkan kepalanya. Ia tahu posisi Bimo pasti serba salah dan kesulitan karena Lia adalah adik kesayangannya. Lia adalah satu-satunya saudara kandungnya.Tapi kalau seperti ini berarti hubungan mereka tidak akan pernah meningkat dan berpacaran secara resmi sebab Bimo masih terikat kontrak dan masih menjadi gigolo.Namun, di sisi lain Alena juga tidak bisa menyalahkan Bimo. Jika berada di posisi Bimo, pastinya sangat berat."Ya sudah, tidak apa-apa. Apa pun yang terjadi, yang pastinya aku mencintaimu," ucap Alena.Bimo tidak menjawab. Ia merasa tidak pantas membalas ra
"Aku nggak apa-apa, Lia," ucap Bimo menenangkan Lia.Bimo yang sakit, tapi Lia yang menangis. Alena malah tampak bingung melihat dua saudara ini.Alena melihat bagaimana rasa sayangnya dan hubungan persaudaraan antara Lia dan Bimo. Lia begitu mengkhawatirkan Bimo. Bahkan melihat Bimo hanya sakit biasa saja, Lia sampai menangis.Tapi dari situ juga Alena sadar kalau Lia itu seperti menyimpan trauma. Ia takut kalau orang yang disayanginya pergi begitu saja untuk selama-lamanya.Pengalaman kehilangan sang ibu ternyata membuat Lia menjadi over ketakutan.Alena memegang tangan Lia."Lia, kakak kamu sepertinya hanya demam biasa. Kamu jangan nangis lagi. Tapi kita akan bawa kakak kamu ke rumah sakit agar ia segera diobati," ucap Alena."Kak Bimo jangan tinggalin aku," ujar Lia menatap Bimo lekat."Lia, kakak cuma pusing, bukan mau mati," jawab Bimo.Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen, dan Alena lah yang akan mengemudikan mobil.Dan ketika mereka sedang berjalan menuju mobil
“Apa aku tidak bisa bersembunyi saja dikontrakan kamu?” tanya Adiba penuh harap.Gadis remaja itu masih belum mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Bimo. Ia masih ngotot ingin tetap tinggal di tempat Bimo. Ia bahkan tidak tahu resiko apa yang akan dihadapinya kalau tinggal bersama Bimo.Sekalipu
“Apa mau aku saja yang membantumu, Bimo?” tanya Selvi dengan senyum menggodaBimo menggelengkan kepalanya tapi detik berikutnya tangan mulus dan lembut si perawat sudah menggenggam miliknya mengelus lembut.Tidak berapa lama milik Bimo akhirnya sudah menegang.“Kan begitu cepat kalau dibantu,” ujar
"Bapak tahu?" tanya Bimo sambil menunduk.Ia merasa bersalah dan juga takut. Bagaimanapun ia menyembunyikannya dari sang ayah, tetap saja ketahuan."Bapak melihatmu tadi.""Dia temanku, Pak.""Rumahnya dimana?"Bimo tampak ragu sejenak, tapi ia tahu tidak bisa menyembunyikan apapun dari sang ayah.
"Ini hanya bekas, Gus," ujar Bimo, mengurungkan niatnya untuk menjawab panggilan telepon. Ia malah kembali memasukkan ponselnya ke saku celana, jadi malu untuk mengeluarkan ponselnya. Takutnya Agus semakin curiga padanya."Walaupun bekas, itu masih mahal, loh. Masih puluhan juta," jawab Agus."Ini
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore