Felix kembali ke kantor setelah mengantar Julia pulang. Ibu Aida memilih naik taxi daripada harus merepotkan putranya.Julia sendiri di rumah, ia masih canggung dengan keadaannya sekarang. Ia bingung harus berbuat apa, dan bahkan ia seperti tak berani bekerja lagi ketika di perut sudah ada makhluk bernyawa.“Sayang, kamu belum sarapan,” tegur ibu yang membawa sepiring makanan kesukaan Julia.“Terimakasih, Ibu.” Julia menerimanya dengan senang hati.Julia mulai menikmati sarapannya dengan begitu lahap. “Bu, ayah mana?” tanya Julia pada ibu yang duduk di sebelahnya.“Ayah, di kamar. Dia sedang berdoa sambil menangis,” balas ibu.“Karena Lia?”“Ya, karena Lia. Dia dipenuhi rasa sesal saat ini, apalagi kejadian belakangan. Dia berfikiran sempit. Hingga saat ini ia ingin membersihkan hatinya agar menjadi lebih baik lagi.”“Ya, pada akhirnya Lia terbukti tidak mandul. Maaf, Lia harus dengan cara seperti ini untuk membuktikan pada kalian, bahwa semuanya bukan salah Lia.”“Ya, Sayang. Terkada
Read more