MasukMenjadi menantu keluarga terkaya di Ibu Kota, tidak serta merta membuat Julia bahagia. Ia justru selalu teraniaya dan menjadi begitu terhina hanya karena ia belum memiliki keturunan diusia pernikahan ke Lima. Segala cara Julia lakukan, bahkan ketika harus adopsi bayi untuk pancingan dan ia suntik lakstasi demi bisa menyusui bayinya nanti. Tapi semua itu masih tetap tidak bisa membuat Mama mertua dan suaminya luluh. Bahkan, suami Julia justru kedapatan berselingkuh ketika semua proses adopsi berjalan dan laktasi mulai menimbulkan reaksi. Iya, suaminya selingkuh. Sampai akhirnya muncul Felix, Kakak Ipar Julia yang mengorbankan diri sebagai bayi susu Julia, sekaligus orang yang akan memberikannya segalanya!
Lihat lebih banyak“Kenapa? Nangis lagi kamu?”
Mama Rosa mengomel lagi pada menantunya yang baru saja cek kehamilan dengan testpack. Bahkan hasil itu masih di tangan dan mereka tak ada yang mau melihat sama sekali karena tahu hasilnya pasti negatif lagi.
Julia terdiam dengan tubuh membatu saat ini. Rasanya sakit, karena keluarga itu terus mendesak dan mempersalahkan dirinya karena tidak hamil juga. Sebenarnya sudah biasa, tapi keadaan semakin perih ketika sang suami justru diam tak membelanya sama sekali.
“Sudah lima tahun, tapi tidak ada perkembangan sama sekali. Kamu itu normal apa tidak, sih?” Suara itu sangat lantang, masuk ke telinga hingga ke ulu hati.
Mulut Julia terkunci, tenggorokannya tercekat dengan tangan menggenggam bagian bawah roknya saat ini.
Memang sudah lima tahun, dan itu cukup lama. Padahal selama ini Julia menjadi istri yang baik, mengabdi pada semuanya dan berusaha melayani suami sendiri meski ada beberapa pembantu di rumah besar itu. Tapi semuanya lebur hanya karena satu kesalahan. Belum hamil.
Padahal bisa jadi, semua adalah efek dia stress dan lelah karena urus semuanya sendiri tanpa ada yang membantu di rumah besar itu. Dia bahkan sampai tak pernah ke salon lagi untuk perawatan, padahal ia dulunya primadona di kampus dan kompleks tempatnya tinggal.
Nando ada di sana, tapi suami Julia itu sama sekali tak memberi respon tentang omelan mamanya itu. Jikapun iya, pasti ia justru membela sang mama dan menjatuhkan istrinya yang paling tidak becus dalam keluarga mereka.
“Ma. Tapi, Lia dan mas Nando, sudah sepakat untuk adopsi anak, sekaligus untuk pancingan. Lia bahkan sudah suntik laktasi demi bisa menyusui anak kami nanti. Jika menyusui pasti-“
“Halah, apa-apaan itu?” potong mama Rosa pada ucapan sang mantu yang menurutnya tetap tidak masuk akal dari segi manapun.
“Kamu fikir, dengan kamu menyusui bayi itu, kamu bisa jadi ibu yang sempurna? Namanya anak adopsi, tetap anak adopsi yang bahkan tak jelas asal usulnya!”
“Tapi, Ma-“
“Julia, sudahlah. Kamu itu, apa saja perkataan mama selalu kamu sela. Tidak ada patuhnya sedikitpun!” cecar Nando pada balasan Lia pada mama kandungnya itu.
Julia hanya bisa kembali diam dengan airmata yang menganak sungai, hanya menunggu banjir saja. Masih ada kata-kata pamungkas yang mama Rosa belum katakan padanya. Mungkin dalam beberapa menit lagi.
“Wanita tidak normal! Masa kalah sama ayam. Ayam saja rajin bertelur, tapi kamu tidak bisa menghasilkan satupun. Untuk apa suntik suntik… apa itu tadi?” tanya mama Rosa pada putranya yang sejak tadi sibuk memainkan benda pipih di tangannya dalam keadaan miring.
“Suntik laktasi, Mam. Entahlah, dia itu. Ngeyel sekali jadi istri, tak bisa dibilangi.”
“Mas, kenapa kamu tidak pernah bela aku sama sekali, sih? Setidaknya, kamu beri mama pengertian terutama dengan langkah yang sudah kita ambil.” Julia sesekali meminta dukungan.
Tapi sepertinya sekali lagi percuma, karena seonggok manusia itu hanya diam melirik tanpa suara.
Julia yang salah, Julia yang tak bisa dan tak becus dalam hal ini. Padahal Nando sendiri kurang mampu memenuhi Hasrat Julia di ranjang, hingga membuat pertemuan antara kecebong dan telur di dalam Rahim hingga terjadi pembuahan.
Kalah lagi. Julia menarik napas panjang dan ia memilih untuk segera pergi kembali ke kamar. Semakin sakit jika harus mendengar ocehan mereka berdua yang selalu mempersalahkannya.
Ketika periksa, semua keadaan Julia normal dan sangat baik. Tapi Nando tak pernah ikut periksa dengan berbagai alasan, terutama karena ia selalu dibela oleh sang mama hingga selalu merasa menjadi pria paling sempurna.
Julia sudah tertekan sekali saat ini. Ia frustasi, fikirannya kosong dan tubuhnya lesu sangking ia tak bisa meluapkan dan mengutarakan apa yang ia rasakan. Ia ingin menangis sejak tadi sekeras-kerasnya, tapi tak bisa.
Perasaan yang seperti itu, lebih sakit daripada ia ditusuk oleh pisau yang tajam.
Julia di kamar sampai siang, dan ia memutuskan untuk tak keluar. Ia terus cari info tentang bayi yang akan ia adopsi dari teman, yang kabarnya akan lahir dua minggu lagi. Ia senang, jantungnya berdebar-debar membayangkan ia akan membawa bayi itu ke rumah dan menjadi anak kesayangannya nanti.
Ia mulai merasakan nyeri di dadanya saat itu, tapi ia anggap hanya peregangan otot efek suntik laktasi. Apalagi ia barusan stress sekali.
“Masa iya, sudah mau keluar? Seharusnya mendekati waktu bayi itu lahir.” Julia memijati dadanya sebentar.
Untuk pengalihan rasa, Julia meraih Hp dan ia segera hubungi temannya. Ia tanyakan kabar ibu yang sedang mengandung itu, dan bagaimana kondisi calon bayinya nanti.
“Tapi meski pancingan, nanti kamu harus tetap sayang, ya? Apalagi kalau kamu sudah punya anak sendiri,” pinta sahabat lamanya itu.
Dulu, Julia juga seperti itu. Mama dan papanya lama mendapatkan Julia hingga harus adopsi seorang anak untuk pancingan. Itu terjadi selama delapan tahun pernikahan, tapi mereka sabar.
Maka dari itu, Julia ingin mencoba cara yang sama.
“Iya, aku janji. Kamu tahu, aku bahkan sudah sampai suntik laktasi demi bisa menyusui bayi kami nanti.” Julia tak sabar.
Mereka ngobrol cukup panjang, dan Julia terdengar begitu senang. Banyak bahan obrolan, termasuk kangen-kangenan karena mereka sudah lama sekali tidak pernah bertemu sejak Julia menikah dengan Nando.
Mereka fikir, Julia pasti sudah menjadi Ratu di keluarga konglomerat itu. Tapi, kenyatannya Julia hanya menjadi burung di dalam sangkar.
“Julia!!” Suara mama Rosa terdengar lagi menggedor pintu kamar itu.
Sahabat Julia yang bernama Rika itu sampai dengar dari speaker Hp, dan mau tak mau mereka tutup panggilannya segera.
“Ya, Ma!” Julia langsung berdiri dan buka pintunya.
“Ya, Ma, ada apa?” tanya Julia.
“Masak semur daging untuk Nando. Itu kesukaan dia. Terus, nanti kamu antar ke kantor untuk makan siang. Kamu harus baik-baik, cari perhatian dia agar dia mau maafkan kamu setelah kejadian tadi.”
Hah?
Memaafkan Julia atas kejadian tadi?
Bukankah harusnya sebaliknya, Nando yang harus minta maaf pada Julia atas perlakuannya itu.
Tapi tak apa, Julia mengalah kali ini dan ia persiapkan diri untuk antar bekal itu ke kantor suami. Ia ganti pakaian, tapi mendadak ia rasakan dadanya sakit dan—“Loh, kok, sudah keluar?” Julia kaget ketika dadanya basah.
“Kenapa keluarnya cepat?” Julia ganti bra, ia fikir keluarnya masih sedikit saat itu dan masih bisa ditangani dengan bra yang tebal.
Julia naik taxi karena ia tak boleh bawa mobil sendiri oleh mertuanya. Ia disambut para karyawan dengan penuh hormat ketika tiba di kantor, membuatnya tersenyum sepanjang perjalanan menuju ruangan suaminya yang ada di lantai tiga puluh.
Ketika tiba di depan ruangan Nando, langkah Julia terhenti dengan suara yang samar terdengar di telinganya. Ia buka pintu itu perlahan yang kebetulan kurang rapat, mengintip dari celah sempit dan ia membulatkan mata dengan adegan panas yang ada di dalam sana.
“Mas, enak banget! Jangan dicabut dulu, belum puas!” Suara wanita itu sangat familiar untuk Julia.
“Ma-Maya?” Julai mentup mulutnya sendiri agar suara itu tak terdengar oleh mereka.
“Iya, Sayang. Kamu juga enak sekali. Aku mau terus seperti ini denganmu, dimanapun dan kapanpun aku mau.” Nando tampak mengecupi leher wanita itu dengan amat ganas, beda sekali ketika ia melakukan itu pada Julia.
Felix menuruti apa yang ia mau meski belum bisa sejauh itu. Felix hanya ingin membuat Julia lepas, benar-benar lepas tekanan di tubuhnya dan bukan hanya di dada.Tangan Felix sudah bersemayam di antara kedua paha Julia saat itu, dan jelas dua jari besarnya tengah bermain di sana dengan begitu gila.Tubuh Julia tidak lagi meliuk seperti cacing, tapi sudah seperti ular menggelinjang hingga membuat ranjang itu ikut bergoyang.“Aarrgghh!” Tubuhnya bergetar hebat, apalagi saat Felix justru kembali datang dan mengecupi lehernya dengan begitu kuat.Felix masih menjaga diri untuk tidak meninggalkan bekas di tubuh Julia. Suasana akan menjadi genting tidak terkendali nanti jika ada yang menem“Aaaaaah!” Tubuh Julia mengejang begitu luar biasa.Demi apapun, ia baru merasakan hal yang seperti ini sekarang. Dan itu adalah kakak iparnya sendiri.Napasnya masih tersengal ketika Felix mencabut tangannya dari bawah sana. Julia malu ketika melihat dua jari Felix basah, tapi ada kebanggaan pada dirinya
Felix tak buang waktu lagi karena wajah Julia sudah semakin pucat. Ia keluar dari mobil dan menggendongnya untuk segera masuk ke dalam penthouse. Ia sengaja membawa adik ipar kesayangannya itu masuk lewat belakang, dimana tak ada kamera pengawas di bagian itu.Julia yang sudah lemas itu hanya bisa diam dan sesekali merintih, ia bahkan tak bisa membuka mata menatap Felix yang menggendongnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, rasanya sakit semua.Mungkin ini karena kejadian tadi juga, efek stress dengan tingkah mertua dan suaminya yang semakin menggila. Makanan sehat yang diberikan Felix merangsang Asi, kegilaan mereka merangsang demam semakin menjadi.Felix masuk ke kamar Julia dan ia kunci pintunya. Detik itu juga ia langsung buka pakaian Julia dan ia mulai pertolongan pertama untuk dadanya yang pasti nyeri luar biasa.“Ssstt!” Julia merintih ketika mulut Felix mulai menghisap dadanya dan mengeluarkan cairan itu sedikit demi sedikit.Bagai bocah yang sedang begitu kehausan akan air
Keadaan begitu tegang, dan semua orang yang ada di sana lantas bergumam membicarakan mereka semua dengan konflik yang berkepanjangan ini. Tentang keluarga Lesmana yang memang memiliki dua pilar itu, memang mereka sudah tahu. Tapi, tak menyangka jika semua akan jadi serumit ini. Mereka fikir, semua baik-baik saja.“Kenapa? Kau tidak percaya dengan surat wasiat ini?” tanya mama Rosa pada anak tirinya itu.Wanita itu menyeringai, merasa memiliki perlindungan kuat untuk melawan Felix yang selama ini berkuasa dan bertindak semena-mena padanya.Felix sendiri masih diam dan terus memeriksa surat itu untuk keabsahannya, hingga ia meminta sang pengacara untuk maju dan memastikan itu semua agar semakin terang benderang.“Ini, benar-benar tanda tangan tuan besar.” Pengacara Felix itu sudah lama ikut keluarga mereka, dan paham benar dengan tanda tangan tuannya.“Tapi, bagaimana bisa ada dua surat wasiat? Bagaimana… yang mana yang asli?” tanya salah satu staf yang ada di sana saat itu.Felix ben
“Aaah, sakit sekali!” Julia terus merintih saat itu dan memegangi dadanya yang mulai membengkak. Menyut. Seluruh otot bagian dada hingga ke punggung rasanya tertarik bahkan rasanya berat sampai ke leher. Ini jelas lebih parah dari yang tadi, efek makanan yang Julia santap dari Felix.Nyatanya, semakin sehat makanan dan semakin mood pemilik tubuh, itu akan menjadi booster sendiri untuk produksi Asi yang lebih cepat. Sekarang Julia merasakan itu semua.“Masa iya, kak Felix lagi? Tapi jika bukan dia—”Brak!Pintu terbuka dan Felix sudah ada di tengah pintu itu dan menatap Julia dengan rintihannya. Tatapan itu seperti sudah mengintai sejak tadi, dan pasti akan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sangat baik.“Kak, Felix?” Julia kaget, dan Felix semakin mendekat padanya dengan tatapan yang begitu intens.Felix menunduk di hadapan Julia yang memegangi dada, dan ia raih tangan itu agar tak menyilang lagi di sana dan menghalangi pemandangan indahnya.“Kak Felix sengaja?”“Apa?”“S
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.