Megan memutuskan untuk tidak memikirkan Daniel.Setidaknya… untuk saat ini.Ia melangkah keluar dari gedung mewah itu dengan kartu hitam di genggamannya, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya hal nyata di tengah kekacauan hidupnya. Udara Boston terasa berbeda, lebih dingin, lebih asing, namun tidak cukup untuk meredam kegelisahan yang terus menggerogoti pikirannya.Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di dalam butik.Lampu terang, cermin besar, dan deretan pakaian mahal yang bahkan dulu tak pernah berani ia sentuh. Tangannya bergerak cepat, memilih tanpa ragu. Gaun, mantel, sepatu, semuanya ia ambil.Harga?Ia bahkan tidak melihatnya.Toh ini bukan uangnya.“Aku masih tidak mengerti…” gumamnya pelan, matanya menatap pantulan dirinya di cermin. “Kenapa dia membawaku?”Ia memegang salah satu baju, menempelkannya ke tubuhnya, namun pikirannya melayang jauh.“Dia tahu aku cuma pencopet,” lanjutnya lirih. “Untuk memeras pun tidak ada gunanya…”Tangannya berhenti.Kartu hitam itu ke
อ่านเพิ่มเติม