LOGIN[Mature 18+] Megan hanyalah seorang pencopet jalanan yang hidup dari keramaian pelabuhan, hingga satu kesalahan kecil menyeretnya ke dunia yang jauh lebih gelap. Semuanya berubah saat ia mencuri dari orang yang salah. Daniel. Pria misterius dengan wajah sempurna dan aura mematikan. Alih-alih menyerahkannya ke polisi, Daniel justru menculik Megan… dan memaksanya bekerja untuknya. Dengan ancaman yang menghantui, nyawa adiknya, Megan tidak punya pilihan selain menuruti setiap perintah. Dari pesta mewah hingga misi berbahaya, Megan dipaksa menggunakan keahliannya untuk mencuri di level yang tak pernah ia bayangkan. Namun semakin dalam ia terlibat, semakin jelas bahwa Daniel bukan sekadar pria kaya dengan obsesi kontrol. Ia adalah bagian dari dunia penuh kekerasan, rahasia, dan permainan berbahaya. Di antara ancaman, kebohongan, dan ketertarikan yang tak masuk akal, Megan terjebak dalam dilema, melawan Daniel dan kehilangan segalanya… atau bertahan di sisinya dan perlahan kehilangan dirinya sendiri. Namun satu hal pasti, di dunia Daniel, tidak ada yang benar-benar kebetulan. Dan Megan mungkin bukan sekadar pion… hingga sebuah pertanyaan muncul... Bagaimana ia bisa terbebas dari kendali seorang Daniel Xaviero jika perlahan perasaannya mulai terasa berbeda untuk pria itu?
View More“Aku tidak punya uang.”
Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Megan, nyaris tak terdengar.
“Tapi adikmu butuh penanganan khusus, Megan,” kata Diana cemas, berusaha tetap terdengar tegar. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kalau terlambat… kau bisa kehilangan Adrian.”
Megan terdiam. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menekan telapak. Dadanya terasa sesak, seolah dunia runtuh tepat di hadapannya. Ia tidak memiliki apa-apa, bahkan satu dolar pun tidak. Lalu dari mana ia harus mendapatkan uang untuk pengobatan adiknya yang kini terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit?
Ia memejamkan mata, menarik nafas berat. “Berapa… berapa uang yang dibutuhkan?”
“Sepuluh ribu dolar,” jawab Diana pelan.
Angka itu menghantamnya seperti palu. Sepuluh ribu. Jumlah yang bahkan tak berani ia bayangkan saat ini untuk ia dapat dalam waktu singkat.
Megan terdiam lama, sebelum akhirnya membuka mata dengan tekad yang dipaksakan. “Aku akan mengusahakan uang itu. Tolong jaga Adrian untukku.”
Diana mengangguk, matanya berkaca-kaca merasa prihatin. “Aku hanya bisa melakukan itu, Megan.”
“Tak apa,” sahut Megan lirih. “Aku akan mencari uangnya. Apapun caranya.”
Pukul sebelas malam, Megan berjalan menyusuri jalanan Barcelona tanpa arah. Lampu-lampu kota berkilau dingin, tak memberi kehangatan sedikit pun. Beberapa jam sebelumnya ia dipecat. Apartemennya telah lama ia tinggalkan karena tak sanggup membayar sewa dua bulan terakhir. Kini ia hanya menumpang di rumah Diana, dan bahkan itu pun tak bisa ia lakukan terlalu lama.
Ia berhenti di tepi jalan, menatap aspal basah yang memantulkan cahaya lampu. Napasnya berat, seakan beban hidup menekan paru-parunya. Adrian… adiknya… koma akibat kecelakaan. Tanpa asuransi. Tanpa harapan selain uang yang tidak ia miliki.
“Dari mana aku bisa mendapatkan sepuluh ribu dolar?” bisiknya putus asa.
Dengan frustrasi, Megan mengacak rambutnya. Saat itulah seorang perempuan berdiri di sampingnya entah sejak kapan, menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
“Kau terlihat seperti membawa terlalu banyak masalah,” ujar perempuan itu santai, menghembuskan asap ke udara malam.
Megan menoleh sekilas, lalu kembali memalingkan wajah. Ia tak punya tenaga untuk berbasa-basi.
“Sedang butuh uang?” tanya gadis itu lagi, lebih tajam.
Kata uang membuat Megan refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat, seolah gadis asing itu baru saja menyentuh isi kepalanya.
“Kau punya lowongan pekerjaan?” tanya Megan cepat, tanpa basa-basi.
Gadis itu tersenyum miring, lalu mengulurkan tangan. “Trix.”
Megan menjabatnya singkat. “Megan. Jadi… pekerjaan apa yang kau maksud?”
Senyum Trix melebar, mengandung sesuatu yang sulit ditebak. “Pekerjaan ini berisiko. Tapi hasilnya besar. Sangat besar. Dan cepat.”
Harapan kecil menyala di dada Megan, meski disertai rasa takut. Ia tak peduli lagi. Yang ia tahu, Adrian menunggunya.
“Apa pun itu,” ucap Megan mantap. “Aku akan melakukannya. Selama aku bisa mendapatkan uang dalam waktu singkat.”
Trix tertawa pelan, lalu mematikan rokoknya dengan ujung sepatu. “Bagus. Besok pagi datang ke pelabuhan. Di sana aku akan menjelaskan semuanya.”
Megan mengangguk, meski firasat asing menyelinap ke dalam dadanya. Namun untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa memiliki secercah jalan keluar, meski gelap dan penuh resiko ia akan lalui asalkan adiknya bisa pulih kembali.
***
Pukul delapan pagi, Megan sudah berdiri di pelabuhan Port de Barcelona yang padat dan riuh. Suara koper diseret, teriakan petugas, dan deru kapal bercampur jadi satu. Tangannya mencengkeram tali tas, gelisah.
“Tepat waktu,” suara Trix muncul dari sampingnya.
Megan menoleh. Trix tidak sendiri, seorang perempuan lain berdiri di sisinya, menatap tajam sekeliling.
“Dengar,” ujar Trix rendah, “apa pun yang kau lihat nanti, kau di pihak kami. Jangan banyak tanya. Mengerti?”
Megan ragu sesaat… lalu mengangguk. “Mengerti.”
Mereka bergerak masuk ke kerumunan. Megan mengikuti dari belakang, berusaha tetap dekat di tengah desakan orang. Semuanya terlihat normal, hingga ia melihat tangan Trix bergerak.
Cepat. Halus. Tanpa suara.
Sebuah dompet sudah berpindah tangan.
Darah Megan seakan berhenti mengalir.
Ini… mencopet?
Sebelum ia sempat bereaksi, perempuan di samping Trix menyelipkan dompet itu ke dalam tasnya.
“Pergi,” bisiknya tajam.
Tubuh Megan menegang. “Aku—”
“Sekarang.”
Tanpa sadar, kakinya bergerak. Ia berbalik dan berjalan cepat, lalu semakin cepat, menyusup di antara kerumunan dengan nafas memburu.
Jantungnya berdegup liar.
Ia tidak hanya membawa dompet curian, tapi juga ketakutan, rasa bersalah, dan satu kenyataan pahit:
demi Adrian… ia baru saja melewati batas yang tak akan bisa ia tarik kembali.
Malam turun perlahan di atas Venesia seperti tirai beludru biru yang ditaburi berlian. Lampu-lampu kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang kanal, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang beriak pelan. Kota yang ramai di siang hari kini berubah menjadi dunia yang sunyi dan misterius, seolah-olah Venesia menarik napas panjang dan berbisik pada mereka yang masih terjaga.Daniel dan Megan berjalan bergandengan tangan menyusuri Calle Larga, sebuah jalan sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Dinding-dinding bata tua yang lembap memancarkan aroma khas air laut dan tanah basah. Lampu jalan berbentuk lentera kuno menggantung di setiap sudut, menerangi jalan berbatu yang berkilauan karena embun malam. Di atas mereka, jemuran pakaian menjuntai dari jendela-jendela apartemen yang masih menyala, dan dari balik gorden tipis, mereka dapat mendengar suara tawa dan percakapan keluarga Italia yang sedang menikmati makan malam."Ini sangat berbeda dari siang hari,"
Seminggu telah berlalu sejak pagi yang penuh tawa di ruang tamu itu. Kini, matahari kembali terbit dengan cahaya keemasan yang menyapu jalanan beraspal menuju kampus. Adrian melangkah keluar dari rumah dengan langkah ringan, tas selempang menyilang di dada, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sejak ia bangun tidur. Udara pagi terasa segar, dan burung-burung berkicau seolah ikut merayakan hari pertamanya.Hari ini adalah titik balik. Setelah bertahun-tahun terhambat oleh berbagai masalah, setelah kekacauan keluarga yang hampir menghancurkan segalanya, Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Usianya masih sembilan belas, waktunya masih panjang, dan ia tidak ingin membiarkan masa lalu merampok masa depannya.Meskipun keputusan ini berarti ia akan jarang bertemu Megan. Daniel telah merencanakan misi liburan keliling dunia bersama Megan, sebuah perjalanan yang sudah lama mereka nantikan sebagai bulan madu. Adrian sama sekali tid
Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah gorden putih di ruang tamu rumah besar yang baru. Megan berdiri di hadapan Adrian dengan tangan bersilang di dada, menatap adiknya dengan sorot mata setengah waspada. Sejak pernikahannya dengan Daniel, Megan tidak pernah benar-benar tega meninggalkan Adrian sendirian. Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena kebiasaan merawat adiknya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari dirinya."Adrian, mulai hari ini kau jaga rumah. Pastikan kau tidak berbuat nakal yang membuat rumah ini hancur," ucap Megan dengan nada yang berusaha tegas, meskipun di sudut matanya ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Adrian menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas yang khas. "Lagipula untuk apa aku menghancurkan rumah ini? Rumah ini tidak punya utang padaku.""Aku hanya memperingatimu. Kau itu terkadang tidak tahu aturan kalau aku tidak ada," gerutu Megan, jari telunjuknya teracung seperti biasa. "Ingat waktu kau hampir mem
Beberapa bulan kemudian, langit membentang sempurna tanpa secercah awan. Matahari pagi menyinari halaman terbuka yang dipenuhi ratusan tangkai bunga segar. Mawar merah, lily putih, dan anggrek ungu tersusun dalam vas-vas kaca yang berkilauan, seolah ikut merayakan hari yang telah lama dinantikan. Rumput hijau terhampar lembut di bawah kaki para tamu, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma manis dari kelopak bunga yang baru mekar.Hari itu adalah puncak dari segala penantian Daniel. Bukan sekadar pesta, bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen di mana semua rasa yang ia pendam selama belasan tahun akhirnya menemukan pelabuhannya. Di altar sederhana yang dihiasi anyaman dedaunan, Daniel berdiri dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Ia telah menunggu hari ini lebih lama dari yang ia kira sanggup ia lalui.Ia mengingat kembali masa-masa kelam tiga tahun pertama setelah Megan menghilang dari kehidupannya. Dulu, ia nyaris menyerah. Setiap hari ia mencari, bertanya, menelusuri jalan-jalan
Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.Daniel.Nama itu berputa
Dengan sorot mata tajam penuh perlawanan, Megan menatap Daniel.“Lepaskan,” desisnya dingin.Senyum tipis terangkat di bibir Daniel, bukan karena patuh, tapi karena tertarik. Ia berjongkok santai, membuka ikatan di kaki Megan satu per satu.“Aku akan melepaskanmu,” ucapnya ringan, “tapi berjanjilah
Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews