Sudut pandang Aurel:Viktor menunggu jawabanku, tetapi jawabanku tidak pernah begitu jelas. "Nggak."Satu kata sederhana itu membuat Viktor yang berada di ujung telepon langsung terdiam. Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suaranya yang dibalut dengan suara tawa yang menjijikkan. Dia mengulang, "Nggak? Aurel, kamu benar-benar mau begitu tega?""Tega?"Aku mencibir, "Viktor, aku rasa kamu sudah salah paham dengan arti kata itu."Suara Viktor mulai terdengar tidak waras. "Baik, baik. Kalau kamu pilih untuk membenciku, ya sudah. Meskipun itu kebencian, aku juga akan buat kamu mengingatku seumur hidupmu."Setelah itu, suara Viktor terdengar makin gelisah. "Kamu nggak akan pernah bisa menyingkirkanku, Aurel. Nggak akan pernah."Kata-kata Viktor mendorongku melewati batasanku. Aku tertawa, lalu berkata dengan suara yang terdengar datar dan hampa, "Mengingatmu? Viktor, sepertinya kamu hidup dalam delusi dan berpikir kamu masih berarti.""Apa maksudmu?" tanya Viktor.Aku berjalan ke jend
Read more