Sudut Pandang Aurel:Berlutut di tanah, amarah Viktor tersulut karena kata-kataku.Dia langsung bangkit, mengangkat tangan hendak menamparku. "Wanita jalang!"Sebelum tangannya sempat menyentuhku, Rinto sudah bergerak duluan.Buk! Sebuah pukulan mendarat telak di hidung Viktor. Darah langsung mengucur deras. Viktor terhuyung, lalu jatuh ke tanah."Pergi dari kotaku." Suara Rinto rendah, dingin, dan mematikan. "Kalau aku melihatmu lagi, tanganmu bakal kupotong."Orang-orang di sekitar terkejut.Manajer restoran buru-buru mendekat. "Pak, tolong, jangan di sini ....""Keluarkan dia," kata Rinto dingin. "Dan mulai sekarang, dia dilarang masuk ke semua properti kita.""Baik, Pak!" Manajer itu segera memberi isyarat pada beberapa petugas keamanan yang langsung menyeret Viktor.Viktor meronta, wajahnya penuh darah, tetapi matanya tetap menatapku."Aurel! Ini belum selesai!" raungnya. "Kamu akan selalu jadi istriku!""Kita sudah bercerai," jawabku datar. "Coba tanyakan ke pengacara kalau nggak
Ler mais