Moana tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, berpacu dengan logika yang menyuruhnya untuk segera berbalik dan pergi. Namun, tatapan Rey yang lembut sangat kontras dengan sikap lelaki itu beberapa saat lalu, seolah mengunci kakinya di tempat. "Temani kamu?" ulang Moana dengan nada yang diusahakan tetap datar, meski suaranya sedikit bergetar. "Rey, tawaranmu itu terdengar mencurigakan. Kita bahkan baru saja berdebat sampai aku ingin melemparkanmu ke danau." Rey terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah terasa menggelitik di telinga Moana. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga aroma parfum maskulinnya yang menenangkan mulai memenuhi indra penciuman Moana. "Tadi itu hanya pemanasan, Moana. Aku suka melihat matamu yang berkilat marah, itu membuatku terlihat jauh lebih... hidup," bisik Rey tepat di samping telinganya. Lelaki itu kemudian kembali menatapnya, kali ini dengan binar yang lebih tulus. "Tapi malam ini, aku hanya sedang ingin ditemani. Hanya ada
Last Updated : 2026-05-09 Read more