LOGINMoana dikenal sebagai karyawan teladan, rajin, cekatan, dan nyaris tanpa cela. Di balik penampilannya yang sederhana, tak ada yang tahu bahwa ia adalah penulis novel dewasa populer dengan identitas rahasia. Semuanya berubah saat paket naskahnya jatuh ke tangan Reyga, atasan barunya yang ternyata juga tetangga sekaligus pemilik apartemennya. Rahasianya pun terbongkar. Sejak itu, hidup Moana berada dalam kendali Rey. Ia terus dilibatkan dalam urusan pribadi Rey, mulai dari perjalanan kerja hingga berpura-pura menjadi kekasih untuk menghindari perjodohan keluarga. Moana terpaksa menurut demi menjaga rahasianya tetap aman. Namun, tekanan itu semakin tak tertahankan. Akhirnya Moana memutuskan untuk resign. Alih-alih menyetujui, Rey malah memberi syarat yang tak terduga. Moana harus sekali saja mewujudkan imajinasi dalam tulisannya di dunia nyata. Tentu saja Moana menolak, tapi demi kebebasannya, ia akhirnya menyetujui perjanjian itu. Apa yang seharusnya menjadi akhir, justru menjadi awal. Pengalaman tersebut mengubah segalanya, bagi Moana maupun Rey. Perasaan yang semula hanya permainan mulai menjadi nyata, dan Rey tak berniat melepaskannya lagi. Moana pun dihadapkan pada dua pilihan, tetap terjebak dalam hubungan yang semakin dalam atau benar-benar pergi sebelum semuanya terlambat?
View MoreUjung-ujung bibir merah muda alami gadis itu berkedut. Jilatan lembut yang basah masih terasa nyata, membuat rambut halus di sepanjang tubuhnya menggelenyar. Darah berdesir menderu kencang di telinga saat lelaki itu menyusup masuk, menggoda lidah, memagut manis bibir bagian bawah dan atasnya secara bergantian dan lembut
Sementara tangan sang kekasih yang kekar membuai bagian belakang tubuh si wanita yang terbuka. Memainkan jemarinya dengan lincah berkelok dan membelai sebelum bergerak maju ke depan. Tidak ada kancing yang berhasil di buka, resletingpun tertutup rapat seperti brangkas mahal. Namun, masih mungkin bagi si lelaki bermain dengan telapak tangannya yang besar. Telapak tangan itu menangkup bagian kewanitaan sang kekasih, mengusap lembut dari luar, sesekali memeras halus hingga sesuatu mengalir hangat lembut dan basah. "Ya, sentuhan ini yang aku harapkan," dengus wanita dengan nafas memburu dan tangan yang memegang erat tangan kekasihnya. Kecupan lembut pun mendarat di puncak kening yang tampak sedikit basah oleh keringat meskipun di dalam ruangan ber AC. Rupanya gairah gadis pemilik mata biru itu masih belum reda, hanya sentuhan sesaat saja masih membuatnya ingin sentuhan lebih jauh. "Bukan hanya sekedar sentuhan yang aku mau," Bisik lirih wanita itu sembari menarik dasi yang mengalung di leher si lelaki hingga mereka berciuman kembali. Ciuman yang mampu menggoda ego lelakinya, ciuman intens dengan kedua belahan si wanita yang menekan dadanya. Tidak besar, tapi juga tidak kecil. Pas untuk di mainkan. Tangan gemetar pelan, menahan keinginan untuk memeras gumpalan kenyal yang masih menekan dan menggoda, tentunya sangat di sukai oleh kaum lelaki di seluruh dunia. Menggoda hingga ujung puncaknya mengeras dan bibir gadis dalam kuasanya, meloloskan lenguhan erotis yang akan jadi musik terindah di telinga. Tiba-tiba... "tok, tok, tok." Suara ketukan di pintu apartemen yang ia tempati membuyarkan imajinasi liarnya yang baru separuh ia ketik diatas keyboard laptop miliknya. Rupanya sedari tadi Moana sedang larut dalam imaninasi liarnya untuk novel dewasa yang sedang ia kerjakan. Pekerjaan sampingan yang menghasilkan banyak uang baginya. Melebihi gajinya di kantor. "Sial!" umpatnya kesal. "Siapa sih hampir tengah malam begini mengetuk pintu rumah orang?" Akhirnya dengan kesal mau tidak mau Moana segera beranjak dari tempatnya lalu bergegas menuju ke arah pintu aparten. Sebelum membukanya, ia menatap dari lubang intip pintu siapa orang yang ada di depan pintu apartemennya. Wanita itu melihat sosok lelaki tampan dengan rambut masih basah, terlihat dari tetesan air yang menetea dari ujung rambutnya serta pakaian handuk mandi yang masih lelaki itu kenakan. Moana lalu membuka pintu apartemennya. "Iya, ada apa ya?" Rey menatap ke arah wanita itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah sedang memberi nilai pada wanita itu kemudian tersenyum sekilas. Moana merasakan tatapan itu terlalu mengintimidasinya. "Ini punyamu? maaf, tadi aku buka karena aku kira ini adalah dokumen kantor yang harus aku lihat segera. Jadi, aku nggak tahu kalau ini milikmmu." Untuk sesaat Moana berpikir, sampai... "Astaga! ini naskah novel yang akan... " suara Moana terhenti ketika ia menyadari jika lelaki itu masih ada di depannya. "Oh, terimakasih banyak ya tetangga," ucapnya. Lelaki itu lalu tersenyum sesaat sembari mengangguk. Namun, Moana harus memastikan jika lelaki itu apakah sudah membacanya atau belum. "Emb, apakah kamu sudah membacanya?" tanya Moana dengan perasaan cemas. Lelaki yang awalnya akan beranjak pergi itu pun lalu berbalik menghadap ke arah Moana kembali. "Sudah, bukankah aku sudah bilang kalau aku membukanya karena aku kira itu adalah dokumen kantor." Seketika kedua kaki Moana terasa lemas. Ia nyaris akan ambruk untungnya tepian pintu bisa menopangnya sebagai sandaran. "Emb, ini adalah titipan teman. Makasih ya," ucap Moana yang lalu menutup pintu apartemennya kembali. Di balik kacamata berbingkai bulat dan blus tertutup yang selalu disetrika rapi, Moana Sasikirana termasuk "wanita membosankan" bagi rekan lawan jenis sekantornya di perusahaan. Namun, ketika matahari terbenam dan lampu apartemennya yang temaram menyala, Moana menanggalkan kemeja kakunya, menyeduh teh melati, dan berubah menjadi "penulis misterius novel dewasa." Penulis misterius yang karyanya merajai tangga buku best-seller untuk genre romansa dewasa panas yang mampu membuat setiap pembacana sesekali menahan napas bahkan jantung berdebar dengan nafas menderu. Di dunia maya, dia adalah ratu godaan, sedangkan di dunia nyata, dia adalah wanita yang bahkan takut menatap mata barista saat memesan kopi. Selama satu setengah tahun Moana berhasil menyembunyikan identitasnya sebagai penulis novel dewasa dengan sangat rapat. Tidak satupun orang yang tahu, bahkan kedua orang tuanya pun tidak tahu, apa lagi teman sekantornya. "Drrrrttttt... drrrrttt..." suara getaran berulang disertasi bunyi melengking dari ponsel Moana membuat wanita itu tersentak seketika. Ia terduduk begitu saja di atas ranjangnya. Suara alarm yang ia pasang dan sudah beberapa kali berbunyi menandakan jika sudah lewat waktu yang Moana tentukan di ponselnya tersebut. Kedua matanya masih terpejam dan sepat saat ia memaksanya untuk terbuka. Beberapa kali tangannya mengusap kedua matanya secara bergantian, samar-samar Moana bisa menatap jam yang ada di dinding kamar tepat di ujung pandangan matanya. Seketika ia melonjak dari atas ranjang dengan kedua mata membelalak, rasa kantuknya yang tadi melanda lenyap seketika. "Sial! aku kesiangan bangunnya karena semalam harus merevisi ulang naskah novelku." Tanpa pikir panjang, Moana segera bergegas menuju kamar mandi dan secepat kilat berganti pakaian. Ia nyaris berlari saat keluar dari apartemennya dan menuju pintu lift yang ada di ujung. Dan sesaat saja pintu lift itu terbuka, Moana segera masuk ke dalam dengan cepat memencet tombol agar pintu tertutup kembali, namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup, terlihat satu telapak tangan mencoba menahan pintunya agar tidak menutup. "Deg." Jantung Moana nyaris berhenti saat melihat lelaki yang semalam membuka paket naskah novel dewasanya yang salah tamat akan menaiki lift yang sama dengannya.Ayah Moana menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tamu selama beberapa saat sebelum akhirnya beliau kembali bersuara. Tatapan matanya yang teduh namun tajam menembus langsung ke dalam manik mata Arga, mencoba mencari celah kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata seorang pria yang sedang bertaruh demi masa depannya."Arga," panggil Ayah Moana, suaranya berat dan sarat akan penekanan. "Moana ini adalah putri kami satu-satunya. Dia adalah anak perempuan tunggal yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, kami rawat dengan cucuran keringat, dan kami jaga kehormatannya sejak dia masih bayi hingga sebesar ini. Bagi kami, dia adalah harta paling berharga yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun."Arga mendengarkan dengan khidmat, tidak berani menyela sepatah kata pun."Jadi, dengarkan saya baik-baik," lanjut Ayah Moana, nada suaranya mengeras, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga. "Kalau kedatan
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Moana, lalu mengangguk mantap dengan sorot mata yang mengunci seluruh keraguan wanita itu.Melihat kesungguhan di mata Arga, Ayah Moana akhirnya menghela napas panjang. Ketegangan yang sempat menguar di teras rumah lambat laun mencair, digantikan oleh atmosfer yang jauh lebih tenang, walau sisa-sisa keterkejutan masih menggelayuti benak mereka."Sudah, tidak enak dilihat tetangga kalau bicara di luar seperti ini," ucap Ayah Moana sambil membetulkan letak sarungnya. "Mari masuk ke dalam. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin."Mereka berempat kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Moana yang sederhana. Dindingnya yang bercat putih bersih dihiasi beberapa foto keluarga, kontras dengan sosok Arga yang malam ini tampak begitu mencolok dengan setelan jas mahalnya. Arga dan Moana duduk berdampingan di sofa kayu panjang, sementara Ayah dan Ibu Moana duduk di hadapan mereka.Namun, ketenangan di dalam ruangan itu tidak b
Pria itu merapikan jas hitamnya sekilas, lalu melangkah mantap mendekati pagar. Sorot lampu mobil yang begitu terang membuat siluet tubuhnya tampak begitu tegas dan dominan. Ayah dan Ibu Moana spontan maju satu langkah, bersiap menyambut orang asing tersebut dengan keramahan khas orang desa."Selamat malam, Bapak, Ibu," sapa Arga dengan suara yang terdengar berwibawa namun menyiratkan kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. "Maaf mengganggu kenyamanan malam-malam begini. Saya mau bertanya, apa benar ini alamat rumah Moana?"Belum sempat Ayah atau Ibu Moana membuka mulut untuk menjawab, pandangan Arga secara tidak sengaja melewati bahu kedua orang tua itu. Di ambang pintu yang remang-remang, ia menangkap sosok wanita yang dicarinya setengah mati sejak sore tadi. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan wajah pucatnya yang terbelalak kaget sama sekali tidak mengurangi pengenalan Arga."Moana!" seru Arga, matanya seketika berbinar mengabaikan rasa lelahnya.Tanpa mempedulikan etika
"Danu ada urusan mendadak di kantornya, Bu. Katanya ada berkas penting yang harus segera dia periksa sore ini juga," dusta Moana, menyusun alasan selogis mungkin agar ibunya tidak menaruh curiga. "Dia tadi mau pamit langsung ke Ibu, tapi saya larang karena Ibu lagi sibuk di dalam. Jadi, Danu titip salam dan permohonan maaf saja tadi sama Ibu."Mendengar penjelasan itu, helaan napas kecewa terdengar berat dari mulut ibunya. "Aduh, sayang sekali ya. Padahal Ibu sengaja panaskan kue lapis ini buat dia. Jarang-jarang ada pemuda sesopan dan punya tata krama seperti Danu itu, Moana. Tadi siang di gedung pernikahan saja, tantemu tidak berhenti memujinya." Ibu Moana menggeleng-gelengkan kepala sambil merapikan piring kue yang kini terasa sia-sia. "Ya sudah kalau begitu. Kamu juga kenapa masih berdiri di situ? Wajahmu pucat sekali, seperti orang kurang tidur."Moana menyentuh pipinya sendiri, merasakan sensasi dingin di kulitnya. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh s
Moana buru-buru menyembunyikan kartu ucapan tersebut ke dalam laci mejanya, mengabaikan godaan bertubi-tubi dari rekan-rekan kerjanya yang masih menatap buket mawar raksasa itu dengan mata berbinar. Jantungnya berdegup kencang, memompakan kebahagiaan yang memuncak hingga ke ujung jemari. Mengambil
"Kau memberiku gaun malam untuk aku gunakan. Lalu kenapa sekarang kau malah memberiku mantel tebal untuk menmenutupi gaun yang aku kenakan, maumu apa?" gerutu Moana selama perjalanan. Di mana Rey menutupi tubuhnya yang nyaris terbuka itu dengan mantel milik Rey."Itu bukan salahku Mo, aku hanya mem
Akhirnya permohonan itu Moana kabulkan. Wanita itu meraih jenjang leher Rey kemudian menautkan kedua tangan itu tepat di bagian belakang tengkuk Rey. Moana sedikit berjinjit untuk bisa meraih bibir lelaki itu lalu mengecupnya. Rey membalas kecupan itu. Moana sedikit terkejut saat merasakan kelembu
"Oh ya Tuan Rey, bisakah anda membocorkannya sedikit pada kita semua, apakah wanita yang sesuai kriteria tuan Rey ada di sini, diantara kita?" Rey menatap ke arah Moana kembali. Tersenyum sekilas sebelum menjawabnya. "Ya, dia ada di sini." Dan ucapan tersebut mampu membuat semua orang yang ada di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews