Ketika aku membuka mata, aroma obat–obatan langsung menyeruak ke dalam hidungku. Pandanganku menyapu ke segala arah, jelas ini bukan ruangan uji coba tadi. Tak lama, suara seorang perempuan muncul dari balik pintu. Wajahnya imut, rambutnya pendek, tapi tubuhnya tidak kalah seksi dengan Priska. “Hah … kamu udah sadar? Syukurlah …” katanya dengan nada lega. “Ada yang sakit gak, Kak? Aku panggilin dokter ya.” “Eh … nggak usah. Aku gak apa-apa,” cegahku cepat, sekali lagi aku menatap perempuan itu dengan bingung. “Tapi, ini di mana ya?” “Di ruang rawat, Kak. Tadi setelah kakak pingsan, Kak Priska langsung panggil bagian kesehatan untuk bawa kakak ke sini,” jelasnya sambil menyodorkan sebotol air mineral. “Nih, minum dulu.” Aku menerima botol itu sambil menatap sekeliling ruangan dan tidak menemukan keberadaan Priska. “Kak Vino, diminum airnya, kok malah bengong,” tegur perempuan itu dengan lembut. “Eh, iya,” jawabku singkat lalu sedikit meneguk air itu, lalu bertanya, “Kamu siapa?
Last Updated : 2026-04-22 Read more